Peserta Pertemuan IMF-World Bank Melonjak, Ekonomi Bali Optimistis Bergeliat

Sebanyak 32.000 orang sudah mendaftarkan diri sebagai peserta pertemuan tahunan Dana Moneter Dunia-Bank Dunia di Bali pada 8-14 Oktober 2018.
Jaffry Prabu Prakoso | 05 Oktober 2018 00:34 WIB
Menko Kemaritiman Luhut B. Panjaitan (kedua kiri) mengatupkan kedua telapak tangan saat berbincang dengan Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana (kiri) sebelum mengikuti rapat terbatas persiapan pelaksanaan Asian Para Games ke-3 di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (2/10/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com,  JAKARTA – Sebanyak 32.000 orang sudah mendaftarkan diri sebagai peserta pertemuan tahunan Dana Moneter Dunia-Bank Dunia di Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan yang memimpin rapat persiapan terakhir mengatakan bahwa angka ini di atas perkiraan pemerintah sebelumnya yakni 19.000 orang.

Berdasarkan data pada Rabu, (3/10/2018) tercatat 12.031 orang mendaftar melalui jalur Meeting Team Secretariat (MTS) dari pihak IMF-WB secara online dan 19.404 mendaftar melalui Indonesia Planning Team yang ditangani panitia nasional.

Angka tersebut akan semakin mendekati 32.000 jika memperhitungkan jumlah pendaftar hari ini dan tamu-tamu dari sektor swasta di luar jalur registrasi resmi.

“Masih ada kemungkinan tambah karena terakhir hari ini,” kata Luhut melalui keterangan pers, Kamis (4/10/2018).

Pencapaian ini membuat Indonesia sebagai penyelenggara rapat tahunan IMF-WB terbesar sepanjang sejarah.

Melihat hal itu, Menko Luhut memberikan arahan kepada semua peserta bahwa misi pemerintah Indonesia bukanlah sekedar menjadi tuan rumah yang baik.

Lebih dari itu, IMF-WB adalah ajang untuk membuktikan bahwa pemerintah Indonesia mampu mengelola negara dengan baik di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu sekalipun.

Di rapat yang sama, Menko Luhut menyampaikan dampak positif yang ditimbulkan oleh even ini terhadap ekonomi Bali.

“Hasil studi dari Bappenas dengan jumlah peserta IMF-WB yang kita hitung 19.000 orang, maka asumsi pertumbuhan ekonomi di Bali 0,64% tambahannya. Dan berarti menjadi 6,54% dan itu lebih tinggi pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkapnya

Di saat yang sama akan tercipta lapangan kerja sebanyak 32.700 dan menghasilkan Rp1,5 triliun defisa.

"Asumsi awal 19 ribu yang akan datang, ternyata yang akan datang 32.000, maka itu akan berubah. Mestinya pertumbuhan ekonomi Bali akan lebih tinggi,” ungkap Luhut.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top