Departemen Keuangan AS Dikabarkan Gagal Temukan Bukti China Manipulasi Yuan

Staf Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut telah menyampaikan pandangan kepada Menteri Keuangan Steven Mnuchin bahwa China tidak memanipulasi mata uangnya, yuan.
Renat Sofie Andriani | 12 Oktober 2018 11:09 WIB
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memperlihatkan segel dan plakat Kedutaan Amerika Serikat (AS) yang baru, saat ia berdiri di samping Penasihat Senior Gedung Putih Senior Ivanka Trump selama upacara peresmian Kedutaan AS di Yerusalem, 14 Mei 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Staf Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut telah menyampaikan pandangan kepada Menteri Keuangan Steven Mnuchin bahwa China tidak memanipulasi mata uangnya, yuan.

Konklusi itu, jika diterima oleh Mnuchin, dapat mencegah eskalasi perang perdagangan AS-China serta menghilangkan sumber keresahan untuk pasar negara berkembang. Meski demikian, Mnuchin bisa memiliki temuan yang berbeda.

Presiden Donald Trump telah menekan Mnuchin untuk menyatakan China sebagai manipulator mata uang, tetapi staf Departemen Keuangan belum menemukan alasan untuk melakukannya, menurut sumber terkait permasalahan ini.

Meski tidak berpotensi memicu sanksi atau penalti lainnya dari AS, mendeklarasikan China sebagai manipulator mata uang dapat meningkatkan ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini serta berpotensi memicu reaksi pasar.

Laporan valas semitahunan oleh Departemen Keuangan AS untuk menilai apakah mitra dagang AS telah memanipulasi mata uang mereka diinformasikan sedang dipersiapkan untuk untuk rilis pekan depan.

China akan tetap berada dalam daftar pengawasan untuk manipulasi mata uang karena surplus perdagangannya yang signifikan dengan AS, menurut sumber terkait.

Sejak Juli, Mnuchin telah mengungkapkan kekhawatiran Departemen Keuangan tentang pelemahan yuan. Nilai tukar mata uang ini telah merosot lebih dari 9% terhadap dolar AS dalam enam bulan terakhir, sehingga meningkatkan spekulasi bahwa China telah dengan sengaja melemahkan mata uangnya saat ketegangan dengan AS meningkat.

Pemerintahan Trump telah berpegang pada sikap yang lebih agresif terhadap China sejak Trump mengatakan pada bulan lalu bahwa negara itu telah ikut campur dalam pemilu di AS.

Jika AS melabeli China sebagai manipulator mata uang, Departemen Keuangan harus melakukan pembicaraan langsung dengan negara tersebut dan juga mengupayakan perbaikan melalui Dana Moneter Internasional (IMF). Negara terakhir yang dinyatakan sebagai manipulator adalah China, pada tahun 1994.

Melabeli China sebagai manipulator dapat menyebabkan perang mata uang. Oleh Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, hal ini dapat merugikan ekonomi global.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari seluruh dunia, termasuk Mnuchin, saat ini berkumpul dalam Pertemuan Tahunan IMF-WB di Bali, di mana mata uang menjadi isu utama.

“Kami melihat lebih banyak negara, termasuk China, yang membiarkan mata uang mereka berfluktuasi, dan itu pasti telah terjadi selama tiga tahun terakhir sejauh terkait dengan China,” kata Lagarde, seperti dilansir Bloomberg, Jumat (12/10/2018).

Jika Mnuchin memilih untuk mengikuti saran stafnya tentang yuan, ia mungkin menghadapi tekanan balik di dalam Gedung Putih. Trump telah menyampaikan pemikiran bahwa China memanipulasi mata uangnya.

Pada bulan April, Trump menuliskan klaim itu dalam akun Twitter-nya, tiga hari setelah Departemen Keuangan AS merilis laporan yang menemukan bahwa tidak ada mitra dagang utama yang mempermainkan mata uangnya.

Tag : china, mata uang
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top