OPINI: Akan Terjadi Lagi Krisis Nilai Tukar? Jawabannya ada di The Fed

Hingga saat ini belum ada indikasi akan terjadi krisis generasi ketiga akibat gagal bayar oleh bank dan korporasi besar seperti krisis 1997-1998. Namun, rupiah bukan berarti tanpa risiko karena tekanan terhadap rupiah akan bersifat maraton sejalan dengan rencana The Fed menormalisasi suku bunganya secara gradual.
Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin | 29 Oktober 2018 12:59 WIB
Perbandingan kurs rupiah tahun 1998, 2008, dan 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Perekonomian dunia sedang memasuki fase normal baru setelah sebelumnya mengalami krisis yang mendorong The Fed melakukan quantitative easing dengan memompa likuiditas ke dalam perekonomiannya dan membuat suku bunga sanngat rendah.

Kebijakan ini meningkatkan aliran modal ke Indonesia dan emerging markets. Normalisasi kebijakan moneter AS melalui monetary tightening ditandai oleh kenaikan suku bunga The Fed secara gradual menuju suku bunga normal baru.

Langkah ini membalik aliran modal dari emerging markets ke AS yang menyebabkan mata uang rupiah dan sejumlah emerging markets melemah terhadap dolar AS.

Terdapat lima negara emerging markets yang menderita arus keluar modal asing dalam satu tahun terakhir, yaitu rupiah Indonesia terdepresiasi lebih 10%, rupe India 12%, real Brasil 27%, rand Afrika Selatan 24%, dan lira Turki 74%. Morgan Stanley menyebut kelimanya dengan istilah fragile five.

Sejarahnya, krisis nilai tukar terjadi secara periodik sejak sistem Bretton Woods pertama kali diperkenalkan, dimulai dari krisis poundsterling Inggris pada 1976, kolapsnya European Exchange Rate System pada 1992, krisis peso Meksiko pada 1994, krisis Asia Tenggara pada 1998 dan krisis keuangan negara maju pada 2009.

Tiga Generasi Krisis

Krisis nilai tukar didefenisikan sebagai situasi dimana suatu mata uang secara nominal mengalami depresiasi lebih dari 25%sen pada tahun berjalan dan depresiasi tersebut lebih besar 10% dari depresiasi tahun sebelumnya atau depresiasi tahun berjalan dua kali lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

Dengan catatan, depresiasi nilai tukar tahun sebelumnya tidak lebih besar dari 40% (Frankel dan Rose, 1996).

Depresiasi rupiah terhadap dolar AS dapat dianalisis menggunakan tiga generasi krisis nilai tukar, yaitu krisis generasi pertama yang menekankan pada beberapa indikator sebagai penyebab krisis, seperti defisit fiskal yang dibiayai dengan mencetak uang baru, inflasi tinggi, current account deficit, berkurangnya cadangan devisa secara signifikan, dan kolapsnya rezim nilai tukar tetap.

Selanjutnya, krisis generasi kedua ditandai oleh terjadinya krisis nilai tukar pada saat kondisi fundamental ekonomi sangat baik. Krisis generasi kedua disebabkan oleh investasi berisiko tinggi akibat moral hazard, besarnya pinjaman dolar AS oleh sektor perbankan, terjadi mismatch antara pinjaman jangka pendek dan pembiayaan jangka panjang (housing bubble), dan mismatch antara pinjaman luar negeri (dolar AS) dan investasi dalam mata uang lokal (Obstfeld, 1994).

Sementara krisis generasi ketiga ditandai oleh kegagalan beberapa bank yang berdampak sistemik dan terjadinya contagion effect (efek penularan). Krisis generasi ketiga fokus pada balance sheet bank dan korporasi, seperti ada tidaknya risiko currency mismatch dalam pinjaman serta pembiayaan bank.

Diawali dengan nilai tukar yang terdepresiasi ekstrim dan selanjutnya menambah beban biaya utang luar negeri dan menurunkan keuntungan perusahaan.

Hal ini mengurangi kemampuan perusahaan menarik pinjaman baru. Akibatnya, investasi dan output menyusut yang menurunkan permintaan terhadap mata uang local, sehingga memicu krisis nilai tukar.

Mengantisipasi Krisis

Merujuk pada tiga generasi krisis di atas beserta faktor-faktor pemicunya, dari sudut pandang krisis generasi pertama menunjukkan bahwa risiko terjadinya krisis nilai tukar rupiah relatif kecil, karena kondisi fiskal yang kuat dengan rasio defisit fiskal kurang dari 3%, inflasi tahunan 3,20% pada Agustus 2018, cadangan devisa US$118 miliar, dan utang pemerintah yang rasionya masih jauh lebih kecil dari 60% produk domestik bruto (PDB).

Risiko krisis nilai tukar terbesar dalam kaitannya dengan krisis generasi pertama bersumber dari current account deficit yang disebabkan oleh defisit neraca jasa, karena transfer pendapatan ke luar negeri yang lebih besar dibanding transfer dari luar negeri, termasuk aliran modal ke luar negeri (neraca modal).

Dari sisi krisis generasi kedua juga sama, yaitu peluang terjadinya krisis nilai tukar rupiah sangat kecil yang disebabkan oleh investasi berisiko tinggi, karena faktor moral hazard dengan adanya pengawasan otoritas, tidak ada mismatch antara pinjaman jangka pendek dan investasi jangka panjang serta pinjaman dolar AS oleh perbankan relatif kecil.

Hingga saat ini belum ada indikasi akan terjadi krisis generasi ketiga akibat gagal bayar oleh bank yang berdampak sistemik dan korporasi besar kategori too big to fail yang disebabkan oleh currency mismatch seperti pada 1997-1998.

Selain itu, sangat kecil kemungkinan terjadinya contagion effect karena semakin efektifnya koordinasi kebijakan moneter regional di tingkat Asean melalui World Bank dan IMF.

Namun, rupiah bukan berarti tanpa risiko karena tekanan terhadap rupiah akan bersifat maraton sejalan dengan rencana The Fed menormalisasi suku bunganya secara gradual.

Alhasil dibutuhkan kehati-hatian mengintervensi pasar karena berpotensi menggerus cadangan devisa yang akan mengurangi kepercayaan pelaku pasar kepada bank sentral, seperti yang terjadi pada krisis generasi pertama dan kedua.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan otoritas moneter, yaitu pertama, perbaikan kondisi current account deficit melalui perubahan struktural, khususnya subtitusi bahan baku impor, perbaikan neraca jasa dan modal.

Kedua, menjaga kepercayaan pelaku pasar dengan mengurangi volatilitas rupiah terhadap dolar AS yang berlebihan tanpa menggerus cadangan devisa terlalu besar. Ketiga, pemerintah harus menjaga agar kondisi fiskal tetap sehat memasuki tahun politik.

Sementara itu dalam jangka panjang, mengurangi porsi kepemilikan asing dalam surat utang negara dengan mengembangkan pasar di dalam negeri serta menggeser pembiayaan capital account deficit dari aliran masuk portofolio ke aliran investasi langsung.

*) Artikel dimujat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (29/10/2018). Berikut laporannya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top