Tumbuh 5,17% pada Kuartal III/2018, Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Positif

Meski ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,17% pada kuartal III/2018, pergerakan ini dinilai cukup signifikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Amanda Kusumawardhani | 05 November 2018 15:59 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil Mitsubishi Xpander di pabrik Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI) Cikarang, Jawa Barat, Selasa (3/10). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Meski ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,17% pada kuartal III/2018, pergerakan ini dinilai cukup signifikan di tengah  ketidakpastian ekonomi global.

Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika mengatakan angka tersebut tergolong menggembirakan bila dilihat dari skala tekanan eksternal yang ada. Dengan pertumbuhan pada kuartal III/2018, pemerintah telah mampu menjaga ekonomi naik di atas 5% sepanjang 2018.

"Perekonomian dunia dihadapkan pada tantangan berat sejak awal 2018. Tensi dimulai lewat lonjakan harga minyak dunia. Bersamaan dengan itu, bank sentral AS merealisasikan kenaikan suku bunga acuannya. Faktor berikutnya ada pada perang dagang antara AS dengan mitra dagangnya," ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (5/11/2018).

Melihat perkembangan tersebut, dia mengungkapkan sulit berharap ekonomi Indonesia mampu tumbuh pada nilai potensialnya. International Monetary Fund (IMF) pun menyimpulkan ekonomi global tidak akan tumbuh setinggi tahun-tahun sebelumnya.

IMF memprediksi ekonomi global hanya meningkat sekitar 3,7% pada 2018. Tekanan dari ekonomi global, lanjutnya, turut mempengaruhi Indonesia lewat berbagai jalur, seperti moneter dan keuangan, perdagangan, hingga investasi.

Jika memerhatikan pertumbuhan sisi penawaran, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2018 diakui lebih baik, terutama karena industri pengolahan tumbuh lebih tinggi daripada periode yang sama sebelumnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal III/2018, industri pengolahan tumbuh 4,33% secara year-on-year (yoy), sedangkan pada kuartal II/2018 tumbuh 3,97% yoy.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh di atas 5%. Hal ini dipandang positif karena lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi disumbang oleh konsumsi rumah tangga. Salah satu faktor yang berperan dalam menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga adalah stabilitas inflasi nasional.

Data BPS menunjukkan inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2018 hanya 2,22% atau turun dari 2,67% pada periode yang sama tahun lalu.

Pada bagian lain, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,96% secara yoy pada kuartal III/2018, membaik dari 5,87% secara yoy pada kuartal II/2018. Hal ini tentu tidak terlepas dari upaya pemerintah memacu daya saing dan iklim investasi.

Untuk mencapai target pertumbuhan 2018, pemerintah disebut akan terus fokus pada beberapa hal antara lain menjaga inflasi agar tetap mendukung kegiatan investasi, mempercepat realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah (terutama dana desa), mendorong realisasi investasi, dan memacu ekspor untuk memastikan agar neraca perdagangan surplus sampai akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top