Perry Warjiyo: Rupiah lebih Stabil, Neraca Modal harus Diseimbangkan

Di tengah situasi ini, depresiasi nilai tukar rupiah dan aliran modal keluar menjadi kekhawatiran terbesar. Bank Indonesia (BI) berupaya keras untuk menghindari dampak yang lebih buruk terhadap perekonomian secara keseluruhan serta sistem keuangan.
Tim Bisnis Indonesia
Tim Bisnis Indonesia - Bisnis.com 03 Desember 2018  |  12:38 WIB
Loading the player ...
Bank Indonesia meyakini minat investasi pelaku usaha masih tinggi, terlebih lagi pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan insentif berupa tax holiday. Sejauhmana optimisme Bank Indonesia?

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak awal tahun, perekonomian global diwarnai oleh situasi yang tidak kondusif. Sumbernya berasal dari ketidakpastian global yang didorong dari berbagai faktor, salah satunya normalisasi suku bunga AS dan ketegangan perang dagang. Hampir semua pasar negara berkembang terkena imbasnya, tidak terkecuali Indonesia.

Di tengah situasi ini, depresiasi nilai tukar rupiah dan aliran modal keluar menjadi kekhawatiran terbesar. Bank Indonesia (BI) berupaya keras untuk menghindari dampak yang lebih buruk terhadap perekonomian secara keseluruhan serta sistem keuangan.

Berikut ini petikan wawancara Bisnis Indonesia dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pekan lalu.

Apakah kenaikan suku bunga pada November sudah memperhitungkan FFR Desember?

Ya, namanya preemptive, kami melakukan sesuatu terhadap sesuatu ke depan yang sudah kami ukur probabilitasnya akan terjadi sangat besar, sehingga kami lakukan sekarang.

Kenaikan suku bunga ini sekaligus mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan.

Jadi, konteks ahead the curve itu, Fed Fund Rate (FFR) Desember sudah kami antisipasi, sudah kami perhitungkan waktu itu. Kalau enggak memasukkan, mungkin kenaikannya tidak sebesar ini, bahkan Maret pun sudah kami perhitungkan, sehingga inilah yang disebut ahead the curve.

Karena, , kami menakar probabilitas kalau FFR Desember itu hampir 100%. Maret itu sudah lebih dari 50%, maka ya kita harus sudah mem-preempt atau mendahuluinya.

Idealnya, berapa bulan sebelumnya untuk hitungan preemptive itu?

Tidak bisa dalam takaran bulanan, tetapi kami melihat probabilitas kejadiannya. Jadi, yang namanya hidup itu kan penuh ketidakpastian, tetapi kalau kita mikirin semua ketidakpastian itu, kita enggak bisa hidup. Oleh karena itu, dari berbagai ketidakpastian alias uncertainty tersebut, kami takar probabilitas kejadiannya.

Kalau probabilitas sudah lebih dari 50%, kan enggak perlu tunggu kejadian itu terjadi kan? Maka kami harus mendahuluinya. Kalau tidak, ya maka kita hidup dalam ketidakpastian.

Jadi, setelah RDG , kami melihat berbagai indikator yang terjadi sekarang dan ke depan dan kemudian kami melihat probabilitas kejadiannya.

Karena probabilitas FFR naik di Desember hampir 100% dan Maret itu lebih dari 50%, ya kita preempt.

Jadi, ukurannya di atas 50%?

Iya, ukuran tingkat kejadiannya harus di atas 50%. Kalau kejadian 50-50, itu masih tunggu dulu. Akan tetapi, kalau tingkat kejadiannya sudah di atas 50%, berarti kita enggak usah menunggu ketidakpastian itu. Kita juga tidak melihat seluruh ketidakpastian kan? Kita harus monitor terus. Inilah yang sebenarnya dalam tataran keputusan itu data dependen, artinya setiap RDG, kami melihat indikator-indikator itu, meng-update apa yang terjadi, perkiraan ke depan bagaimana, dan menakar probabilitasnya. Itu kami masukkan ke skenario kebijakan.

Nah, kami konsisten preemptive & ahead the curve terus. Dan kami juga mengomunikasikan secara jelas kenapa kami ambil kebijakan ini. Jadi, investor dalam dan luar negeri tahu. Itu yang kemudian membuat confident. Confident dan kredibilitas itu penting. Hal itu muncul kalau kami mempunyai framework atau kerangka yang jelas, dan konsisten, serta secara transparan menjelaskan kondisinya. Itu yang juga membuat confident global semakin kuat dan kenapa arus modal asing masuk.

Apakah itu yang membuat rupiah menguat?

Itulah kenapa secara fundamental, nilai tukar rupiah menguat, karena CAD menurun, arus modal surplus dari neraca modalnya naik, supply demand-nya itu kemudian secara fundamental semakin baik, naturally secara desain kebijakan kita, nilai tukar itu menguat. Masih undervalue atau tidak? Masih.

Jadi, potensi penguatan sampai akhir tahun masih terbuka?

Kami melihat secara fundamental tren nilai tukar menguat itu ada di sana. Di samping faktor fundamental, kami melihat nilai tukar dari faktor teknikal dan juga faktor bagaimana bekerjanya pasar.

Bekerjanya pasar itu begini, supply & demand secara fundamental terefleksi dalam neraca pembayaran, tapi secara pasar kalau yang punya devisa itu memegang dan kemudian enggak masuk ke pasar, lalu yang mempunyai kebutuhan valas itu nubruk-nubruk. Makanya kami kembangkan pasar valasnya. Kenapa dulunya nilai tukar itu selalu sering lebih volatil? Karena hampir semua transaksi di pasar itu spot tunai. Kalau lagi butuh, nubruk-nubruk, tidak kemudian merencanakan kebutuhan secara baik.

Makanya, kami sediakan swap valas dan kami juga sudah mengembangkan dan Alhamdulillah semakin berkembang yang domestic nondelivery forward (DNDF), sehingga yang dulu-dulunya pemegang maupun pengguna devisa itu ke tunai, sekarang banyak yang sudah ke swap valas dan menggunakan forward secara nondelivery.

Jadi, pasarnya lebih berkembang sehingga supply & demand di pasar lebih baik. Itulah juga yang menjadi faktor kedua kenapa nilai tukar semakin stabil dan punya kecenderungan menguat.

Faktor ketiga, faktor teknikal. Teknikal itu terkait dengan pergerakan jangka pendek yang sering berkaitan dengan berita.

Jadi, kalau dilihat secara tren fundamentalnya, Insyaallah nilai tukar rupiah setidaknya lebih stabil dan secara fundamental masih undervalue dan bekerjanya pasar lebih baik di dalam memutarkan supply & demand dan menentukan nilai tukar yang biasa.

Perkembangan dan kondisi makroekonomi pada tahun ini seperti apa?

Dalam konteks ini, kita harus melihat secara keseluruhan. Kalau dilihat ekonomi keseluruhan, kinerja ekonomi cukup bagus.

Kita sering lupa jika melihat pertumbuhan ekonomi 5,27% pada triwulan II dan 5,17% pada triwulan III dan kita perkirakan sekitar 5,1% untuk keseluruhan tahun, sering kali kita hanya terfokus pada 5,1%, tetapi tidak melihat secara rinci mengenai sumber-sumbernya.

Kalau kita lihat, sumber pertumbuhan itu adalah kuatnya permintaan domestik. Permintaan domestik itu konsumsi rumah tangga tumbuh cukup tinggi. Angka 5,2% itu tinggi lho.

Apalagi kalau kita lihat angka-angkanya, terutama dari sisi investasi. Investasi secara keseluruhan itu bisa tumbuh sekitar 7% atau 6,7% atau 6,8%. Itu tinggi.

Ini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga dan investasi. Investasinya juga bergerak, dari investasi bangunan ke investasi nonbangunan dan pertumbuhannya cukup tinggi sehingga sumber permintaan domestik ini yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kenapa impor masih tinggi?

Kalau dilihat 5,1% itu karena memang pertumbuhan dari sisi impor yang cukup kuat dibandingkan dengan dari sisi ekspor yang permintaan globalnya relatif rendah. Akan tetapi, kalau kami melihat, impornya sendiri merupakan impor yang produktif. Barang modal dan bahan baku itu cukup tinggi. Barang modal tidak hanya terkait dengan investasi, tetapi juga berkaitan dengan infrastruktur. Impor bahan baku itu refleksi dari kenaikan produksi di dalam negeri.

Sementara itu, net ekspor, yaitu pertumbuhan ekspor dikurangi pertumbuhan impor ini negatif sehingga total dari PDB-nya tidak terlalu tinggi. Namun, kalau dilihat secara keseluruhan dari sisi permintaan domestik, konsumsi dan investasi, masih bisa 5,5%.

Net ekspor yang negatif ini yang membuat pertumbuhan ekonominya bisa 5,1%. Akibat net ekspor yang negatif, kalau secara riil itu volume dan nominalnya terefleksi di neraca pembayaran, transaksi berjalan mengalami defisit.

Pada triwulan II, defisitnya sekitar 3% dan 3,3% pada triwulan III. Namun, secara keseluruhan defisitnya di bawah 3% dari PDB.

Kalau dilihat struktur transaksi berjalan ini, permintaan impor yang kuat untuk mendukung investasi ini membuat defisit transaksi berjalan relatif tinggi. Untuk emerging market, kita harus menjaga defisitnya pada batasan yang aman.

Masalahnya ada di neraca modal. Hal ini karena kondisi global mengalami tren ketidakpastian yang tinggi sehingga membuat kita perlu menurunkan defisit transaksi berjalan. Bank Indonesia menaikkan suku bunga bukan karena defisit transaksi berjalannya terlalu tinggi, tetapi agar seimbang dengan aliran modal asing, khususnya investasi portofolio.

Inflasi hingga akhir tahun berapa?

Dari sisi kebijakan BI, inflasi diarahkan tetap rendah, nilai tukar stabil, dan pembiayaan ekonomi bisa berlanjut serta mendorong sumber ekonomi yang lain. Dari sisi inflasi tahun ini, perkiraan kami 3,2%. Itu cukup rendah dan ini mendukung konsumsi swasta.

Dengan terkendalinya inflasi, konsumsi dalam negeri bagus. Kalau kita lihat konteksnya, jika kita bicara soal stance BI yang preemptive dan ahead the curve, dari sisi inflasi sebenarnya tidak terlalu diperlukan kita ambil langkah preemptive, tetapi lebih dalam konteks menstabilkan nilai tukar rupiah dan upaya untuk menurunkan current account deficit.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (3/12/2018)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, investor asing, penanaman modal asing

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup