Presiden Mauricio Macri: Argentina Jauh Lebih Kuat

Habis gelap terbitlah terang. Pepatah ini tampaknya diyakini betul oleh Presiden Argentina Mauricio Macri setelah mengalami masa yang terbilang sulit tahun ini.
Renat Sofie Andriani | 04 Desember 2018 09:02 WIB
Presiden China Xi Jinping bersamalan dengan Presiden Argentina Mauricio Macri - Official G20 Argentina 2018

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Argentina Mauricio Macri menyatakan bahwa Argentina sedang berada di jalur yang tepat untuk membentuk rebound kuat tahun depan setelah mengatasi pukulan krisis keuangan pada 2018.

“Argentina berada dalam situasi yang jauh lebih kuat ketimbang 12 bulan lalu,” terang Macri kepada Bloomberg TV dalam sebuah wawancara di Buenos Aires pada Senin (3/12/2018) waktu setempat.

“Kami telah memotong defisit kami secara signifikan, tahun depan kami akan menyeimbangkan anggaran utama, dan kami telah membiayai semua kebutuhan kami melalui program IMF, ini membuat perbedaan yang besar.”

Komentarnya disampaikan setelah sukses menjadi tuan rumah KTT G20 yang berakhir pada Sabtu (1/12/2018). Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin negara-negara G20 berhasil menyepakati komunike bersama.

Tidak ada protes kekerasan yang terlihat di Buenos Aires, berbeda dengan pertemuan G20 di Hamburg, Jerman, pada 2017. Kabar baik lain datang dari pertemuan KTT G20 tahun ini adalah kesepakatan pemerintah AS dan China untuk menghentikan sementara konflik perdagangan antara mereka.

Lebih dari sekadar tuan rumah, Macri juga mengadakan maraton pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden AS Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Sejak terpilih menjabat sebagai Presiden Argentina pada 2015, bisa dibilang 2018 menjadi tahun paling sulit bagi Macri. Krisis mata uang menyeret Argentina ke dalam resesi dan mendesak Macri untuk mengupayakan bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Periode kemarau yang parah, aksi jual pasar global, dan kebijakan yang berliku-liku menjadi beberapa di antara faktor yang memicu pelemahan mata uang peso Argentina. Nilai tukar mata uang tersebut telah turun 49% tahun ini, yang terburuk di antara mata uang pasar negara berkembang (emerging market).

Kemerosotan ekonomi pun telah menghantui peluang Macri untuk kembali terpilih tahun depan. Rating persetujuan pemerintahannya berada di level terendah sejak ia menjabat, sedangkan tingkat kepercayaan konsumen pada November turun ke level terendah dalam 16 tahun.

Setelah pemerintahannya memulai tahun 2018 dengan target inflasi 15%, harga diperkirakan akan meningkat 47% pada Desember dari tahun lalu.

Namun Macri seakan tak kenal lelah memompa upaya dan optimisme pemerintahannya.

“Teruslah berkata jujur, tetaplah bekerja sama dengan warga, dan tunjukkan bahwa ini adalah satu-satunya cara. Pertemuan G20 ini sangat membantu. Karena setiap pemimpin yang datang untuk G20 dan untuk 17 pertemuan bilateral yang kita jalani, mereka semua sepakat bahwa kita melakukan reformasi yang benar.”

Bantuan kredit IMF dan perubahan taktik menghadapi inflasi telah membantu menstabilkan ekonomi sekaligus memacu rally kuat dalam aset-aset Argentina.

Sejak 1 Oktober, nilai tukar peso telah menguat 12% terhadap dolar AS, salah satu penguatan terbaik di antara emerging market. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan mendatang turun pada bulan Oktober dan diperkirakan akan terus menurun.

Tag : argentina
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top