Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Nasabah mengambil uang tunai di anjungan tunai mandiri, di Jakarta, Sabtu (10/6). - JIBI/Endang Muchtar
Premium

Jokowi, Suku Bunga & Simalakama Perbankan Nasional

08 November 2019 | 19:02 WIB
Perbankan nasional tengah menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Pertama, permintaan penurunan suku bunga kredit oleh Presiden Joko Widodo. Kedua, rasio inefisiensi meningkat karena kenaikan beban biaya dana dan pencadangan.

Bisnis.com, JAKARTA — Perbankan nasional tengah menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Pertama, permintaan penurunan suku bunga kredit oleh Presiden Joko Widodo. Kedua, rasio inefisiensi meningkat karena kenaikan beban biaya dana dan pencadangan.

Dengan kondisi tersebut tentu sulit untuk terus menurunkan bunga kredit yang sebenarnya sudah berada di level bawah dua digit. Apalagi laba bank mulai tertahan lajunya. Bahkan banyak yang mencatatkan penurunan laba.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio inefisiensi perbankan terlihat dari kenaikan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) industri perbankan sebesar 1.211 basis poins (bps) secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 91,24% per September 2019.

Sementara itu, dibandingkan dengan Agustus 2019, rasio BOPO meningkat sebesar 1.064 bps. Kenaikan ini terbilang drastis, karena pada September 2018 BOPO hanya tumbuh 42 bps yoy menjadi 79,13%. 

Bila ditelaah lebih jauh, kenaikan BOPO paling tinggi terjadi pada kelompok kantor cabang bank asing yakni naik 843 bps menjadi 98,86%. Kenaikan cukup tajam juga dialami bank pelat merah sebesar 504 bps menjadi 76,98%. 

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top