Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Alasan Keluarga, Gubernur Bank Sentral Thailand Pilih Tak Lanjutkan Kepemimpinan

Bank of Thailand akan dipimpin gubernur baru menyusul keputusan Veerathai Santiprabhob untuk tidak melanjutkan periode kepemimpinan keduanya.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 25 Mei 2020  |  17:18 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur Bank of Thailand, Veerathai Santiprabhob menandatangani nota kesepahaman mengenai kemitraan dalam bidang sistem pembayaran, inovasi keuangan, dan antipencucian uang serta pencegahan pendanaan terorisme. Penandatanganan MoU tersebut dilakukan di tengah rangkaian pertemuan Gubernur Bank Sentral se-ASEAN di Chiang Rai, Thailand, Kamis (4/4/2019). (Bisnis - Istimewa)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur Bank of Thailand, Veerathai Santiprabhob menandatangani nota kesepahaman mengenai kemitraan dalam bidang sistem pembayaran, inovasi keuangan, dan antipencucian uang serta pencegahan pendanaan terorisme. Penandatanganan MoU tersebut dilakukan di tengah rangkaian pertemuan Gubernur Bank Sentral se-ASEAN di Chiang Rai, Thailand, Kamis (4/4/2019). (Bisnis - Istimewa)

Bisnis.com, JAKARTA - Bank of Thailand akan dipimpin gubernur baru menyusul keputusan Veerathai Santiprabhob untuk tidak melanjutkan periode kepemimpinan keduanya.

Nantinya, gubernur baru Bank of Thailand itu akan mengambil tugas membentuk kebijakan dalam mengatasi dampak Covid-19 terhadap ekonomi. Artinya, pengganti Veerathai akan menghadapi tugas untuk mengendalikan ekonomi yang mengalami penyusutan paling berat sejak krisis keuangan Asia 1990-an.

Keluarga, menjadi alasan Veerathai tidak akan melanjutkan kepemimpinannya sebagai Gubernur Bank of Thailand untuk lima tahun ke depan.

Asisten Gubernur Chantavarn Sucharitakul memastikan transisi kepemimpinan akan berjalan mulus ketika masa jabatan Veerathai berakhir pada September 2020 nanti.

Kepala Strategi Pasar di SCB Securities Co. Jitipol Puksamatanan mengatakan risiko dapat timbul jika ada rasa campur tangan pemerintah yang kuat dalam pemilihan. Hal ini dapat memengaruhi kepercayaan investor asing. 

“Pergantian gubernur tidak mungkin mempengaruhi arah kebijakan,” katanya seperti dikutip Bloomberg, Senin (25/5/2020).

Bank sentral telah memotong suku bunga sebanyak tiga kali ke rekor terendah 0,5% pada 2020. Otoritas Moneter di Thailand ini juga mengaku sedang mempelajari opsi seperti program pembelian aset skala besar.

Pada Maret 2020 lalu, Bank of Thailand juga meluncurkan fasilitas likuiditas yang mencakup lebih dari 1 triliun baht atau sekitar US$31 miliar. Bulan lalu, bank sentral memulai dana stabilisasi 400 miliar baht untuk membiayai utang perusahaan-perusahaan yang jatuh tempo. 

Veerathai menjadi gubernur pada Oktober 2015, sekitar satu setengah tahun setelah kudeta militer di Thailand. Dia menghadapi ekonomi lesu yang dibebani oleh utang rumah tangga yang meningkat dan mata uang yang menguat. Masa jabatannya ditandai dengan serangkaian langkah untuk manjaga baht.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan thailand bank sentral
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top