Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pegawai melintasi logo BPJS Ketenagakerjaan di Kantor Cabang BP Jamsostek di Menara Jamsostek, Jakarta, Jumat (10/7/2020). - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Premium

Risiko di Balik Jamu Realokasi Investasi BPJS Ketenagakerjaan

06 April 2021 | 07:08 WIB
BPJS Ketenagakerjaan berencana mengurangi investasi di saham dan reksa dana. Bagaimana dampaknya terhadap performa perusahaan?

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pemerintah dan BPJS Ketenagakerjaan (BPJS-TK) meluncurkan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) berujung panjang. Guna mencapai nilai imbal hasil aman jelang peluncuran program yang diamanatkan PP Nomor 37 Tahun 2021 tersebut, BPJS-TK akan melakukan realokasi penempatan investasi mereka.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR, Selasa (30/3/2021), Direktur Utama BPJS-TK Anggoro Eko Cahyo mengatakan realokasi juga dilakukan guna memperbaiki posisi unrealized loss atau kerugian secara buku yang dialami perusahaan hingga saat ini.

Dia menuturkan porsi investasi di instrumen berisiko seperti saham dan reksa dana bakal dikurangi, dan sebaliknya, investasi di instrumen pendapatan tetap seperti obligasi bakal ditambah. Selain itu, BPJS-TK juga berencana mengalokasikan investasi saham mereka ke Indonesia Investment Authority (INA), lembaga pengelola investasi milik Pemerintah Indonesia.

Namun, Anggoro menggarisbawahi bahwa bukan berarti pihaknya bakal melakukan aksi panic selling saham-saham yang telah mereka miliki. Menurutnya, pengurangan tidak mesti serta merta dilakukan dengan menjual saham dalam waktu dekat.

“Bukan berarti semua dijual. Dana BPJS Ketenagakerjaan itu terus bertambah. Cara realokasi bisa dilakukan dengan tidak menambah anggaran untuk membeli saham, sedangkan porsi untuk obligasi ditambah. Itu juga akan jadi realokasi, jadi bukan berarti sudah pasti [saham yang ada] dijual,” tutur Anggoro.

Dia menambahkan bahwa BPJS-TK akan melakukan mekanisme sebaik mungkin. Salah satunya adalah dengan menghindari penjualan saham ketika harganya lebih rendah dari harga beli rata-rata.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top