Kamis, 24 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

BBM BERSUBSIDI: Pembatasan Akan Timbulkan Masalah Baru

Maftuh Ihsan   -   Minggu, 14 April 2013, 17:24 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA – Kalangan pengusaha menilai rencana pemerintah yang mengerucut pada pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi golongan mampu akan menimbulkan banyak permasalahan baru.

Franky Sibarani, Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menuturkan pilihan pembatasan BBM bersubsidi justru akan membuka peluang terjadinya penyelewengan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

“Nanti pada implementasinya yang akan bermasalah, terutama pengawasannya,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (14/4/2013).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan pemerintah segera mematangkan pembahasan tentang implementasi dan sosialisasi kebijakan pengendalian subsidi BBM.

Dia mengungkapkan pembahasan mulai mengerucut pada opsi pengendalian, yakni masyarakat kaya dan mampu tidak berhak diberikan subsidi, sementara kelompok yang tidak mampu masih diberikan subsidi.

“Kalaupun masih ada subsidi, jumlah yang diberikan kepada golongan kaya dan mampu tersebut tergolong rendah,” katanya.

Franky menuturkan penaikan harga BBM bersubsidi merupakan pilihan yang sulit bagi pemerintah karena harus menghadapi berbagai dampak terhadap perekonomian nasional seperti melonjaknya harga kebutuhan pokok dan inflasi.

Namun, kalangan pengusaha menilai pilihan tersebut merupakan yang terbaik mengingat kondisi fiskal negara saat ini terbebani oleh subsidi energi, sementara di lapangan banyak terjadi penyelewengan BBM bersubsidi.

“Sekarang ini, lebih baik naikkan saja secara menyeluruh karena di berbagai daerah harga BBM bersubsidi sudah di atas harga normal,” ujar Franky.

Selain harga jual yang lebih mahal, lanjutnya, banyak petani dan nelayan semakin merasa kesulitan karena jatah BBM bersubsidi dibatasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga mengganggu produktivitas mereka.

Dia mengungkapkan permasalahan BBM bersubsidi ini tidak hanya mengenai harga, tetapi juga terbatasnya pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat, terutama di daerah kecil di luar Pulau Jawa.

“Dinaikkan saja menjadi Rp6.000. Namun, yang terpenting adalah pasokannya merata dan lancar,” paparnya.

Menurut Plt Kepala BKF Bambang P. S. Brodjonegoro, apabila harga BBM bersubsidi dinaikkan Rp1.500 per liter pada Mei 2013, maka penghematan yang diperoleh mencapai Rp35 triliun - Rp40 triliun.

Franky menambahkan dampak dari penaikan harga BBM bersubsidi akan dapat diminimalisir apabila pemerintah kembali memberikan bantuan langsung dan tunai (BLT) bagi masyarakat tidak mampu.

Dengan pencabutan subsidi BBM, lanjutnya, maka kondisi fiskal negara akan lebih sehat dan dapat diarahkan pada percepatan pembangunan infrastruktur, sehingga dapat menggenjot roda perekonomian nasional.

Selain pembatasan, pemerintah mengkaji opsi menaikkan harga BBM subsidi dan menghadirkan BBM jenis baru dengan oktan 90. Adapun, penaikan harga BBM subsidi merupakan pilihan terakhir yang akan diambil pemerintah.


Editor : Fajar Sidik

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.