Tukar Guling Aset, Muamalat Keluarkan Duit Rp2 Triliun untuk Bayar Selisih Bond

Lynx Asia, perusahaan investasi berbasis di Singapura, memfasilitasi tukar guling aset bermasalah dan penerbitan sukuk PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Total transaksi dana dalam aksi korporasi itu mencapai Rp10 triliun.
Hendri Tri Widi Asworo | 10 Juli 2018 16:20 WIB
Aktivitas nasabah dengan karyawan di Bank Muamalat - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Lynx Asia, perusahaan investasi berbasis di Singapura, memfasilitasi tukar guling aset bermasalah dan penerbitan sukuk PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Total transaksi dana dalam aksi korporasi itu mencapai Rp10 triliun.

Menurut informasi yang diterima Bisnis, surat berharga yang dipakai untuk kebutuhan tukar guling aset bermasalah atau asset swap senilai Rp8 triliun. Adapun, nilai aset bermasalah dari Bank Muamalat senilai Rp6 triliun.

“Bank Mualamat dapat Rp8 triliun dalam bentuk bonds [surat utang]. Lawan Rp6 triliun aset bermasalah. Plus Rp2 triliun tunai keluar dari Bank Muamalat,” ujar sumber tersebut, Senin (9/7/2018).

Kemudian, sambungnya, investor yang lewat Lynx Asia itu akan membeli sukuk yang diterbitkan oleh Bank Muamalat sekitar Rp1,6 triliun-Rp2 triliun.

Sumber lain menyebutkan, transaksi tukar guling aset bermasalah dan fasilitas dana untuk menerbitkan sukuk mencapai Rp10 triliun. Surat berharga yang ditempatkan di Bank Muamalat sebesar Rp8 triliun, ungkapnya, dikunci selama 20 tahun dan tidak boleh dicairkan.

Adapun, fasilitas dana untuk sukuk sebesar Rp2 triliun bisa dicairkan setelah jatuh tempo. Menurutnya, penempatan obligasi atau surat berharga tersebut untuk menutup bolong setelah aset bermasalah tersebut dilepas ke perusahaan cangkang atau special purpose vehicle (SPV) yang difasilitasi oleh Lync Asia.

Saat Bisnis meminta konfirmasi Dirut Bank Muamalat Achmad K. Permana tidak membantah mengenai skema transaksi tersebut. Menurutnya, manajemen saat ini justru fokus kepada transaksi kedua mengenai penerbitan saham terbatas (rights issue).

“Saya sedang fokus ke transaksi kedua, rights issue, nanti saya akan informasikan setelah transaksi right issue-nya selesai,” ujarnya.

Dia berjanji akan memaparkan sejumlah aksi korporasi itu dalam waktu dekat ini. “Nanti tanggal 18 Juli,” tegasnya.

Komisaris Independen Bank Muamalat Iggi Achsien menyampaikan, tukar guling aset bermasalah, penerbitan sukuk, dan penawaran saham terbatas merupakan satu kesatuan untuk meningkatkan modal perseroan.

“Asset swap jadi satu rangkaian dengan equity injection [right issue],” ujarnya dalam pesan singkat.

Masalah permodalan menjadi isu utama Bank Muamalat sejak 2015. Puncaknya pada 2017, karena rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 11,58%, menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya 12,75%. Meskipun masih batas aman, konsesi Basel III untuk CAR minimal 12% untuk menyerap risiko secara countercyclical.

Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan kredit bermasalah (non performing finance/NPF). NPF bank syariah itu sempat di atas 5%, lebih tinggi dari batas maksimal ketentuan regulator. Akan tetapi, pada kuartal I/2018 NPF bank tersebut membaik ke level 4,76%.

Skema penambahan modal Bank Muamalat berulang kali tertunda. Pada tahun lalu PT Minna Padi Tbk. bersedia menjadi pembeli siaga 51% saham Bank Muamalat melalui penawaran saham terbatas dengan nilai dana sekitar Rp4,5 triliun.

Namun, rencana itu batal meskipun Minna Padi telah menyetorkan dana sebesar Rp1,7 triliun dalam rekening penampung. Otoritas tidak memberikan restu rights issue karena tidak ada kejelasan sumber dana aksi korporasi itu.

Kemudian, pada pertengahan tahun ini diinformasikan bahwa Bank Muamalat mendapatkan investor yang difasilitasi oleh Lynx Asia.

Berdasarkan penelusuran Bisnis, Lynx Asia adalah perusahaan penasehat keuangan dan investasi yang berbasis di Singapura. Namun, klien mereka rata-rata berhubungan dengan perusahaan di Indonesia. Begitu juga nama-nama eksekutifnya rata-rata berasal dari Indonesia.

Tag : bank muamalat
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top