Asean fokus perkuat integrasi perdagangan

JIMBARAN: Negara-negara Asean masih fokus pada tahap penguatan integrasi perdagangan sebelum membahas lebih rinci mengenai pembentukan sebuah kawasan moneter bersama atau membentuk sebuah mata uang tunggal.
Yanto Rachmat Iskandar | 09 Desember 2010 06:40 WIB

JIMBARAN: Negara-negara Asean masih fokus pada tahap penguatan integrasi perdagangan sebelum membahas lebih rinci mengenai pembentukan sebuah kawasan moneter bersama atau membentuk sebuah mata uang tunggal.

Mengenai mata uang bersama masih memperlukan pembahasan yang panjang. Meningkatkan jumlah perdagangan barang dan jasa, setelah itu tercapai, baru akan dibahas mengenai integrasi yang lebih tinggi, jelas Deputi Bank Indonesia Halim Alamsyah dalam seminar SEACEN Centre bertajuk Optimal Central Banking for Financial Stability hari ini.South East Asia Central Banks (SEACEN) Centre adalah forum pertemuan bank sentral yang beranggotakan negara-negara Asean dan beberapa negara di kawasan.Halim menjelaskan integrasi ekonomi masih fokus pada mensukseskan pakta perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) Asean sehingga transaksi perdagangan intrakawasan meningkat. Kemudian pada 2015 dibentuk pasar bersama Asean.Dia mengatakan selain perlunya integrasi perdagangan yang lebih kuat, pembentukan mata uang bersama membutuhkan kesetaraan tingkat ekonomi anggota, sehingga negara yang belum siap tidak dapat dipaksakan menjadi anggota.Di sisi lain, dia mengakui banyak manfaat yang akan diperoleh dengan membentuk sistem moneter bersama.Saat ini melalui FTA dulu, kemudian pasar bersama pada 2015. Jika sudah ada pasar bersama, bisa saja maju ke mata uang bersama, tetapi belum diketahui kapan. Tidak mungkin satu negara yang ketinggalan dipaksakan menggunakan satu mata uang bersama, terangnya.Eropa sendiri, jelasnya, harus melalui banyak proses sebelum meluncurkan mata uang tunggal. Bahkan anggota kawasan euro dari negara kecil masih kesulitan mengikuti kebijakan moneter bersama, seperti Yunani, pada saat ini.Mungkin ini kemungkinan menjadikan Inggris tidak masuk euro, selain sejarah emosional atas pounsterling. Artinya Inggris memiliki fleksibilitas, sewaktu negara anggota euro tidak bisa melakukan devaluasi, Inggris dapat melakukan itu, Halim.Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad mengatakan masalah nilai tukar menjadi perhatian di sejumlah negara, tetapi diharapkan tidak menjadi persoalan bagi perekonomian nasional.AG Karunasena, Direktur Eksekutif SEACEN Centre, menambahkan forum bank sentral di Asia Tenggara itu juga menjadikan mata uang menjadi salah satu topik yang sering dibahas dalam pertemuan-pertemuan pemimpin regulator moneter. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top