Kontribusi perbankan ke pembangunan belum memadai

JAKARTA: Bank Indonesia menilai kontribusi industri perbankan dalam pembangunan masih belum memadai. Hal tersebut terkait dengan tingginya likuditas perbankan pada surat berharga, padahal bank sentral kerap menekankan fungsi intermediasi.Gubernur Bank
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 09 Desember 2011  |  21:58 WIB

JAKARTA: Bank Indonesia menilai kontribusi industri perbankan dalam pembangunan masih belum memadai. Hal tersebut terkait dengan tingginya likuditas perbankan pada surat berharga, padahal bank sentral kerap menekankan fungsi intermediasi.Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan 60% instrumen BI dikuasai 10 bank besar, selain itu aset perbankan berupa surat berharga mencapai 31,41% dari total kredit yang telah disalurkan hingga Oktober 2011."Kepemilikan bank pada SBN Rp245,97 triliun kepemilikan bank pada instrumen moneter Rp415,48 t atau sekitar 31,41% dari total kredit yang mencapai Rp2.106,2 triliun. Sangat tinggi. Bank banyak tempatkan di SBN maupun SBI padahal bisa lebih banyak tempatkan di kredit," jelasnya, malam ini.Hal tersebut dipertegas dengan perspektif dari dunia usaha yang mengungkapkan pangsa kredit bank dari total pembiayaan perusahaan masih sangat minim.Perusahaan hanya menggunakan kredit modal kerja 25% dari bank, sementara 48% berasal dari dana internal. Begitu juga untuk investasi, hanya 21% yang berasal dari perbankan sedangkan 61% berasal dari dana internal.Selain itu, lanjut Darmin, tingkat efisiensi yang masih rendah juga berkontribusi terhadap tingginya penetapan suku bunga kredit. Adapun saat ini rasio BOPO perbankan nasional 86,44% per Oktober 2011. Sementara rasio BOPO perbankan di kawasan ASEAN berada pada 40%-60%."Meskipun fungsi intermediasi berjalan, ketidakefisienan perbankan melahirkan ongkos pembiayaan yang mahal, sehingga tingginya ongoks pembiayaan di Indonesia tercermin pada tingginya suku bunga kredit modal kerja 12,09%, kredit investasi 11,66%, dan kredit konsumsi 13,4%, meskipun BI Rate sudah mencapai 6%," tegasnya.Darmin membandingkan, di Malaysia, suku bunga acuan 3%, sementara tingkat suku bunga kredit bank 6,5%. Filipina, reverse repo (suku bunga acuan) 4,5%, dan tingkat suku bunga kredit 5,7%.Selain itu, kurangnya kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan perekonomian juga terlacak dari rasio total aset industri perbankan terhadap PDB Indonesia 47,2% per September 2011. Namun rasio penyaluran kredit terhadap PDB hanya 29% posisi September 2011.Sebagai perbandingan, rasio penyaluran kredit terhadap PDB di Malaysia 114%, Thailand 117%, China 131%.Oleh sebab itu, lanjut Darmin, pada tahun yang akan datang Bank Sentral akan memberi ruang yang lebih luas bagi pendalaman pasar keuangan nasional."Operasi moneter akan bertumpu langsung pada instrumen-instrumen yang dapat menghidupkan aktivitas transaksi di pasar uang, yaitu mendorong transaksi PUAB, repo, dan swap," jelasnya. Dia berharap cara tersebut akan mendorong pengelolaan likuiditas perbankan secara lebih sehat dan efisien, tidak tergantung pada penampatan di instrumen moneter. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top