PEMBIAYAAN PROPERTI: Bank Mutiara siapkan Rp550 miliar di Jatim

 
Wike Dita Herlinda | 10 April 2012 17:37 WIB

 

SURABAYA:PT Bank Mutiara Tbk jajaki kerja sama dengan  pengembang menengah di Jatim untuk mendongkrak penyerapan pembiayaan properti senilai Rp550 miliar pada tahun ini.

 

Menurut Dirut Bank Mutiara Maryono, fokus pengembangan kredit konsumer di Jatim khususnya untuk sektor properti  tergolong baru.

 

Selama ini hampir 95% penyaluran kredit Bank Mutiara di wilayah tersebut merupakan kredit produktif.

 

"Mulai tahun ini kami akan mencoba ekspansi lebih besar terhadap kredit konsumer khususnya KPR dan Jatim termasuk menjadi target utama selain Jakarta," ujar Maryono seusai melakukan kunjungan ke nasabah di Gresik, Selasa 10 April 2012.

 

Per kuartal pertama 2012, total outstanding kredit Bank Mutiara di Jatim tercatat Rp320 miliar.

 

Bank tersebut akan menyiapkan dana minimal Rp75 miliar  untuk pembiayaan sektor properti wilayah di bersangkutan.

 

"Kami akan menemui sejumlah pengembang di Jatim dan mengajak mereka  bekerja sama mendongkrak penyerapakan KPR," ungkap Maryono.

 

Kelas menengah

 

Ekspansi KPR di Jatim, menurut Candra Utama Executive Vice President Bank Mutiara, merupakan bagian dari program nasional.

 

 

Namun, kredit tersebut hanya akan difokuskan untuk properti kelas menengah dengan kisaran harga Rp300 juta per unit hingga Rp900 juta per unit.

 

"Karena yang kami bidik hunian menengah maka kami tidak akan menggandeng pengembang besar seperti Ciputra, Intiland, Pakuwon atau Podomoro."

 

Pasalnya, selain karena persaingan suku bunga KPR yang relatif ketat, ekspansi KPR Bank Mutiara akan mengutamakan kepemilikan rumah pertama.

 

Dengan begitu pasar yang menjadi targetnya adalah kaum muda yang belum memiliki tempat tinggal dengan besaran pendapatan Rp3 juta ke atas.

 

Sementara itu sebagai salah satu strategi merebut pasar, tambah Candra, dengan menawarkan tenor pinjaman hingga 25 tahun.

 

"Kami juga akan melakukan MoU dengan pengembang agar ada jaminan pembelian kembali jika dalam jangka dua tahun terjadi kredit macet."

 

Maryono membenarkan tingkat persaingan KPR di sektor properti menengah bawah relatif ketat. Hampir semua bank ‘bermain’ KPR dengan harga rumah di atas Rp300 juta. Akan tetapi pihaknya optimistis pasar properti tersebut masih cukup besar.

 

Bahkan, lanjutnya, Bank Mutiara kemungkinan besar hanya mengambil 10% dari size bisnis properti di Indonesia yang mencapai sekitar Rp24 triliun per tahun.

 

Sementara itu per Maret 2012 nominal penyaluran KPR bank tersebut relatif kecil yakni baru mencapai Rp450 miliar.

 

Padahal, sampai triwulan I/2012, Bank Mutiara telah membukukan penyaluran kredit sebesar Rp9,8 triliun atau tumbuh 36%, dengan NPL 3,9%.

 

Sementara itu, penghimpunan DPK pada tiga bulan pertama 2012 tercatat Rp 11,5 triliun atau tumbuh 13,2% dan total aset sebesar Rp13,3 triliun.

 

Tahun ini, Maryono menargetkan Bank Mutiara tahun ini mempu membukukan aset senilai Rp14,78 triliun atau tumbuh 12,6% dibandingkan dengan posisi 2011 sebesar Rp13,13 triliun.(ea)

 

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top