NPF Membengkak Rp3,33 triliun, BSM Bangkitkan 'BPPN' di tiap Wilayah

PT Bank Syariah Mandiri, bank syariah dengan aset terbesar di Indonesia, bertekad menekan pembiayaan bermasalah (non performing financing) ke level 5% tahun ini.
Rivki Maulana | 02 Maret 2015 17:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Syariah Mandiri, bank syariah dengan aset terbesar di Indonesia, bertekad menekan pembiayaan bermasalah (non performing financing) ke level 5% tahun ini.

Pada 2014, tingkat NPF kotor BSM mencapai 6,8% dari total pembiayaan sebesar Rp49,1 triliun. Artinya ada Rp3,33 triliun pembiayaan bermasalah yang perlu ditangani.

Agus Dwi Handaya, Direktur Keuangan & Strategi BSM, mengatakan ada empat strategi bank untuk menekan tingkat NPF. "Pertama kami buat mini BPPN di setiap wilayah," ujarnya saat ramah tamah dengan wartawan, Senin (2/3/2015).

Mini BPPN yang dimaksud yakni unit kerja yang khusus dibentuk untuk melakukan restrukturisasi pembiayaan bermasalah. Cara kerjanya mirip dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang pada era 2000-an menangani sejumlah bank bermasalah akibat krisis keuangan 1998.

Agus menyebut, BSM juga menyiapkan insentif khusus bagi pegawai yang bisa mengelola NPF dengan baik. Jika nasabah ngeyel alias tidak kooperatif, BSM akan menempuh jalur hukum guna menyelesaikan pembiayaan bermasalah.

Terakhir, BSM akan gencar melakukan lelang, baik dengan lembaga lelang swasta maupun milik pemerintah. Sebagaimana diketahui, sepanjang 2014 laba BSM tergerus sangat dalam menjadi Rp71,77 miliar, dari posisi 2013 sebesar Rp810,7 miliar (tidak diaudit). Agus menyebut, penurunan laba bersih disebabkan kenaikan provisi untuk menanggulangi pembiayaan bermasalah.

Tag : bank syariah mandiri
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top