Garuda (GIAA) Andalkan Obligasi & Pinjaman Bank

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mencari pendanaan dari pinjaman perbankan dan pasar modal untuk mendukung kebutuhan ekspansi perseroan.
Ropesta Sitorus | 21 Februari 2018 16:59 WIB
Dirut Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury (dari kanan) mencoba kanal GarudaShop didampingi oleh Vice President Anchillary Revenue Selfie Dwiyanti, Business Development JD.ID Timothy William, dan Presdir Zhang Li dalam peluncuran GarudaShop di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (13/2). - JIBI/Felix Jody Kianarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mencari pendanaan dari pinjaman perbankan dan pasar modal untuk mendukung kebutuhan ekspansi perseroan.

Badan usaha milik negara tersebut mengikuti jejak perusahaan pelat merah yang telah lebih dulu menggalang dana dari pasar modal lewat emisi obligasi global.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N. Mansyuri mengatakan emisi obligasi tersebut ditargetkan terealisasi pada akhir Maret mendatang.

“Kami memang ada rencana pada 2018 untuk mengeluarkan obligasi, nilainya yang pasti di atas US$500 juta dalam bentuk global bond. Mudah-mudahan pada akhir bulan Maret bisa dilaksanakan,” kata Pahala saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (21/2/2018).

Selain obligasi, Garuda Indonesia juga terus mencari fasilitas pembiayaan dari perbankan. “Pinjaman perbanakan ada juga dan kami selalu gunakan fasilitas perbankan. Baru-baru ini juga kami ada satu pembiayaaan dari salah satu bank asing yang kami peroleh sekitar US$100 juta,” tambahnya.

Tambahan dana-dana segar yang didapat dari obligasi dan pinjaman tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung rencana ekspansi perseroan.

Garuda Indonesia menyatakan kebutuhan belanja modal pada tahun ini akan meningkat cukup besar bila dibandingkan tahun lalu, yakni sekitar 15% - 20%.

Alokasi belanja modal yang paling besar antara lain untuk kebutuhan maintenance reserve alias biaya yang dicadangkan untuk perawatan pesawat. “Kurang lebih kisarannya US$350 juta, mungkin yang paling besar untuk maintanance reserve, untuk leasing pesawat,” tambahnya.

Dari segi bisnis, Pahala enggan mengungkapkan pertumbuhan secara tahunan. Garuda Indonesia sempat mengalami kerugian pada dua kuartal awal tahun lalu. Namun, menurutnya, kondisinya mulai berbalik dan perseroan mampu membukukan laba terutama pada dua kuartal akhir 2017.

“Alhamdulillah progress-nya baik, dari sisi utilisasi pesawat juga baik. Untuk Garuda saja bisa memiliki penjualan selama setahun sekitar US$3,6 miliar atau sekitar Rp43 triliun, ini saya rasa pencapaian yang cukup baik dan itu 100% dari target kami,” imbuhnya.

Salah satu kontributor tumbuhnya laba tersebut yakni dari sisi bisnis penerbangan internasional yang tumbuh sekitar 12% secara tahunan. Per Desember 2017, segmen bisnis rute internasional menyumbangkan laba sekitar US$ 6 juta.

Tahun ini Garuda Indonesia akan fokus memacu pertumbuhan, khususnya untuk rute-rute panjang atau internasional yang dianggap masih prospektif. Perbandingan antara bisnis penerbangan internasional dan domestik di Garuda Indonesia berkisar 45% : 55%.

“Kami akan pantau terus, apakah dengan kondisi yang terakhir ini memang bisa dicapai, tapi kami maunya segmen internasional tumbuh 20%, serta untuk penerbangan domestik tumbuh dua digit,” tambahnya.

Tag : garuda indonesia
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top