BIS: Bank Sentral Diimbau Hati-hati Keluarkan Mata Uang Digital

Bank sentral di seluruh dunia diperingatkan harus benar-benar mencermati potensi risiko dan dampak sebelum menerbitkan mata uang digitalnya.
Renat Sofie Andriani | 13 Maret 2018 09:59 WIB
Cryptocurrency - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral di seluruh dunia diperingatkan harus benar-benar mencermati potensi risiko, dan dampak sebelum menerbitkan mata uang digitalnya.

Laporan yang dirilis Bank for International Settlements (BIS), sebuah forum yang juga beranggotakan The Federal Reserve Amerika Serikat (AS) dan European Central Bank (ECB), pada Senin (12/3/2018) waktu setempat menyampaikan peringatan terhadap bank-bank sentral yang berencana mengeluarkan mata uang digitalnya (central bank digital currency/CBDC).

“Ada risiko yang tidak kita pahami sepenuhnya saat ini,” kata Jacqueline Loh, ketua komite pasar BIS, seperti dikutip Reuters.

“Setiap langkah menuju kemungkinan peluncuran CBDC harus dilakukan dengan pertimbangan yang hati-hati dan menyeluruh,” tambah Loh, yang juga merupakan wakil direktur pelaksana Monetary Authority of Singapore.

Laporan tersebut melihat kemungkinan dampak dari mata uang digital yang bersifat 'borongan' hanya untuk kalangan terbatas seperti bank, sedangkan versi mata uang digital 'eceran' untuk pihak lainnya.

Benoit Coeure, yang memimpin komite BIS untuk pembayaran dan infrastruktur pasar, mengatakan bahwa ada lebih banyak kehati-hatian dengan 'area yang belum dipetakan' pada CBDC eceran.

Ini bisa berdampak pada simpanan, sumber utama pendanaan untuk bank-bank komersial, yang berimplikasi pada stabilitas keuangan pada saat terjadi tekanan pasar, menurut laporan tersebut.

Tidak ada bukti bahwa mata uang digital akan memungkinkan bank sentral menerapkan kebijakan moneter lebih baik daripada dengan alat yang telah mereka miliki.

Sementara itu, belum ada bank yang mengeluarkan mata uang digital, meskipun Riksbank di Swedia, di mana penggunaan uang tunai telah turun, sedang mengkaji e-krona eceran untuk pembayaran-pembayaran berskala kecil.

Bulan lalu, bank sentral Swedia menyatakan kajian tersebut belum akan difinalisasikan hingga akhir 2019, lebih lambat dari yang sebelumnya diindikasikan.

Di sisi lain, laporan BIS juga memaparkan bahwa teknologi blockchain (distributed ledger technology/DLT) yang mendasari cryptocurrency, dapat membuat perdagangan efek dan forex menjadi lebih efisien.

“DLT memang tepat untuk digunakan,” kata Coeure, yang juga anggota dewan eksekutif ECB.

Gubernur Bank of England Mark Carney mengatakan bahwa sementara CBDC membutuhkan pertimbangan cermat, prioritas yang lebih mendesak adalah bagaimana menggunakan teknologi baru memenuhi permintaan saat ini untuk pembayaran real time yang dapat diandalkan sepenuhnya.

Diskusi G-20

Laporan BIS muncul pada saat cryptocurrency yang dikeluarkan secara privat seperti Bitcoin telah mengalami perubahan harga fluktuatif dan memicu pihak regulator mengeluarkan peringatan tegas kepada para investor.

Tetap saja, hal ini belum menyurutkan antusiasme para pelaku di sektor ini.

Pada Senin, CaskCoin meluncurkan cryptocurrency 'pertama' yang memberi investor kesempatan untuk memiliki saham dalam portofolio wiski kelas dunia senilai 40 juta pound yang tersimpan di gudang Skotlandia.

Laporan BIS dirilis menjelang diskusi para bankir bank sentral dunia dan menteri keuangan dari negara-negara G-20, yang dijawalkan akan berkumpul di Buenos Aires awal pekan depan untuk membahas apakah memerlukan peraturan baru untuk cryptocurrency privat.

The Financial Stability Board, badan regulator G-20 yang dipimpin oleh Carney, akan melaporkan hal-hal terkait cryptocurrency privat.

“Jelas ini adalah sebuah learning curve (kurva belajar) dan regulator di seluruh dunia telah membahas risiko langsung yang diciptakan oleh token digital privat,” kata Coeure.

Menurut Coeure, perlindungan investor bersamaan dengan pengawasan terhadap potensi aksi antipencucian uang dan dana teroris merupakan prioritas, sementara pertimbangan terhadap dasar dan pasar futures cryptocurrency akan dilakukan kemudian.

“Jadi, setiap diskusi di G-20 pekan depan kemungkinan akan terus berlanjut, membahas pro dan kontra peraturannya, namun jangan harapkan ada tindakan nyata, ini lebih tentang membandingkan pengalaman sejauh ini,” tambah Coeure.

Tag : bitcoin, cryptocurrency
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top