Jumlah Pokok Obligasi di Bawah Target Maksimal, Ini Penjelasan PLN

Perhitungan cost of fund atau biaya dana menjadi alasan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mendaftarkan jumlah pokok Obligasi Berkelanjutan III PLN Tahap II Tahun 2018 lebih rendah dari target maksimal yang disampaikan dalam penawaran awal.
M. Nurhadi Pratomo | 25 September 2018 17:45 WIB
Petugas PLN - Bisnis.com/Denis

Bisnis.com,JAKARTA— Perhitungan cost of fund atau biaya dana menjadi alasan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mendaftarkan jumlah pokok Obligasi Berkelanjutan III PLN Tahap II Tahun 2018 lebih rendah dari target maksimal yang disampaikan dalam penawaran awal.

Kepala Satuan Komunikasi Korporat Perusahaan Listrik Negara I Made Suprateka mengatakan pihaknya dalam mencari pendanaan tidak hanya mengejar jumlah uang. Akan tetapi, perseroan setrum milik pemerintah itu mempertimbangkan komponen cost of fund atau biaya dana yang lebih kompetitif.

“[Tujuannya] dapat menjaga agar biaya pokok penyediaan listrik tidak naik,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (25/9/2018).

Seperti diketahui, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengajukan permohonan pencatatan Obligasi Berkelanjutan III PLN Tahap II Tahun 2018 dengan nilai nominal Rp832 miliar. Dalam penawaran awal atau bookbuilding, jumlah yang dibidik sebanyak-banyaknya Rp1,5 triliun.

Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, I Made mengatakan perseroan masih akan melihat kondisi pasar. Menurutnya, PLN akan meninjau opsi-opsi pendanaan yang ada.

Kendati demikian, dia mengklaim PLN akan berusaha memenuhi target pemerintah termasuk pencapaian rasio elektrifikasi. Hal tersebut meski penyertaan modal negara (PMN) 2019 tidak sebesar usulan perseroan.

“Walaupun nilai PMN 2019 tidak sebesar usulan PLN tetapi itu sudah merupakan bukti bahwa pemerintah mendukung PLN,” jelasnya.

Secara terpisah, Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia menilai surat utang yang ditawarkan oleh PLN kurang dilirik investor. Akibatnya, jumlah pokok yang bakal dicatatkan berada di bawah target maksimal perseroan.

Ramdhan mengatakan kupon yang ditawarkan oleh PLN lebih rendah dari ekspektasi pasar. Menurutnya, investor mengharapkan bunga di atas 9%.

“Emiten terlalu confident dengan rate yang ditawarkan sedangkan yield di sekundernya lebih tinggi,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top