Asuransi Jiwa Seharusnya Manfaatkan Tren Pelemahan IHSG

Bisnis.com, JAKARTA – Tren pelemahan indeks harga saham gabungan pada bulan ini dinilai menjadi momentum bagi asuransi jiwa untuk meningkatkan alokasi investasi di instrumen saham.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  22:17 WIB
Asuransi Jiwa Seharusnya Manfaatkan Tren Pelemahan IHSG
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Tren pelemahan indeks harga saham gabungan pada bulan ini dinilai menjadi momentum bagi asuransi jiwa untuk meningkatkan alokasi investasi di instrumen saham.

Kendati sempat rebound pada awal pekan ini, IHSG pada akhir perdagangan pekan lalu terkoreksi 1,17% ke level 5.826. Level tersebut merupakan terendah sejak November 2018. Secara year-to-date, IHSG melemah 5,93%.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengakui bahwa para pelaku industri seharusnya memanfaatkan momentum pelemahan IHSG, khususnya pada pekan lalu. Menurutnya, sejumlah harga saham mengalami penurunan yang signifikan sehingga laik untuk dikoleksi untuk jangka panjang.

“Seharusnya pada minggu lalu belanja [saham], karena harga murah,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (22/5/2019).

Togar menilai langkah tersebut bisa memberikan peluang besar kepada asuransi jiwa untuk menikmati imbal hasil investasi dalam jangka panjang. Pasalnya, pihaknya meyakini IHSG dapat berangsur-angsur meningkat kembali pascapengumuman pemilu.

Secara periodik, jelas dia, indeks di penghujung semester pertama setiap tahun juga mengalami penurunan sehingga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan alokasi investasi ke instrumen saham.

Kendati begitu, dia mengingatkan bahwa pelaku asuransi jiwa harus tetap jeli melihat fundamental emiten-emiten agar tidak salah langkah. Saham-saham blue chipsatau unggulan dinilai tetap menjadi pilihan utama.

“Dengan begitu, kami berharap hasil investasi asuransi jiwa bisa baik pada tahun ini. Apalagi kalau dengar analisis tentang proyeksi IHSG yang bisa mencapai 7.000 dan ada optimisme yang sangat bagus,” ujarnya.

Senada dengannya,Direktur PT Capital Life Indonesia Robin Winata juga mengakui bahwa kondisi yang ada memberikan peluang bagi asuransi untuk mengalokasikan investasi ke pasar modal.

Menurutnya, dinamika yang terjadi di pasar modal terbilang normal. Di satu sisi, jelas dia, perang dagang di tingkat global membuat pasar lebih dinamis.

Namun, di sisi lain, fundamental Indonesia yang diyakini kuat juga memberikan jaminan rasa aman kepada pemilik dana. “Capital Life masih melihat ini adalah kesempatan untuk penempatan investasi,” ujarny Robin.

Tidak hanya bagi pengelolaan investasi, dia meyakini kondisi ini juga berdampak positif bagi pemasaran produk asuransi jiwa, khususnya unit-linked. Bagi masyarakat, jelas dia, moementum itu juga menjadi saat yang tepat untuk mendiversifikasikan pilihan produk asuransi yang berbalut investasi.

Kinerja IHSG memang menjadi salah satu tolok ukur utama pengelolaan investasi sektor asuransi jiwa dan dana pensiun. Pasalnya, porsi investasi asuransi jiwa di pasar modal terbilang dominan.

Data OJK per Maret 2019 menunjukkan dari total investasi asuransi jiwa, yang tercatat senilai Rp474,04 triliun, sekitar 30,50% dialokasikan ke instrumen saham atau mencapai Rp144,57 triliun. Di samping itu, portofolio investasi sektor jasa jasa keuangan ini juga didominasi oleh reksa dana dengan total alokasi senilai Rp171,79 triliun atau sekitar 36,24% dari total investasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top