Potensi Besar Kartu Kredit Syar'i

Hingga saat ini tercatat hanya dua bank syariah yang telah masuk ke bisnis tersebut yakni BNI Syariah serta Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  10:39 WIB
Potensi Besar Kartu Kredit Syar'i
Kartu kredit syariah - Bisnis/Ilham Nasabena

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa pekan lalu, Hadijah Alaydrus berniat mencari akses pembiayaan untuk mendaftar di sebuah pusat meditasi di kawasan Karet, Jakarta Pusat.

Kebetulan, pusat meditasi itu bekerjasama dengan Bank CIMB Niaga untuk memberikan cicilan 12 kali. Saat itu, untuk pertama kalinya, dia mendengar bahwa CIMB Niaga juga menyediakan layanan kartu pembiayaan syariah.

Kendati pada akhirnya dia urung mengajukan pendaftaran kartu karena lebih memilih akses pembiayaan yang lain, karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu mengaku mulai mempertimbangkan untuk beralih ke kartu pembiayaan syariah.

Akan tetapi, dia masih belum terlalu yakin. Dalam pandangannya, pasar kartu pembiayaan kartu syariah dinilai belum ramai dan akses layanannya pun masih terbatas.

“Saya berniat ganti kartu kredit konvensional ke syariah, tapi mungkin sekitar 2-3 tahun lagi kalau sudah marak pasarnya. Karena syariah itu, kan, merchant-nya terbatas, itu juga yang membuat saya ragu,” katanya.

Walau belum terlalu popular, pada dasarnya layanan pembiayaan syariah bukanlah bisnis yang benar-benar baru bagi perbankan syariah. PT Bank BNI Syariah, misalnya, sudah menyediakan layanan kartu pembiayaan syariah sejak 10 tahun terakhir.

Hingga saat ini tercatat hanya dua bank syariah yang telah masuk ke bisnis tersebut yakni BNI Syariah serta Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk. yang menyediakan layanan sejak 2014. Jumlah itu sangat sedikit dibandingkan total bank syariah di Indonesia yang berjumlah 34 bank per Mei 2019; sebanyak 14 berstatus bank umum syariah dan 20 merupakan unit usaha syariah bank umum konvensional.

Dua bank tersebut, BNI Syariah dan UUS CIMB Niaga, kini memiliki sekitar 670.000 – 700.000 pemegang kartu.

Satu dari antara ratusan ribu nasabah itu adalah Abdul Rahman. Pria 29 tahun yang bekerja di salah satu bank syariah di Indonesia ini mengaku mulai menjadi nasabah pembiayaan kartu syariah dari CIMB Niaga sejak 2017, ketika dia masih menjadi berprofesi sebagai jurnalis di sebuah media ekonomi nasional.

Rahman, sapaannya, sering memakai kartu tersebut untuk bertransaksi membeli tiket pesawat dan hotel serta di sejumlah pedagang makanan dan minuman. Menurutnya, tidak banyak perbedaan antara sharia card tersebut dengan kartu kredit konvensional.

Selama menggunakan kartu pembiayaan syariah dalam dua tahun terakhir, kata dia, tidak ada kendala yang berarti, bahkan termasuk ketika dipakai untuk transaksi di beberapa negara tetangga.

“Yang beda banget sih enggak [ada], hampir sama, kecuali soal bunga itu tidak ada di kartu yang syariah, tapi tetap semacam fee kalau bayar cicilan. Syariah card ini juga diterima di mana-mana, termasuk luar negeri karena saya sudah pernah pakai beberapa kali,” ujarnya.

Rahman mengaku, dia tetarik mencoba kartu pembiayaan karena kapok menggunakan kartu kredit terbitan salah satu bank pemerintah terbesar. Sebelumnya dia pernah mengajukan aplikasi kartu kredit Bank Mandiri yang ketika itu merupakan bank untuk rekening pembayaran gajinya. .

“Baru mau saya pakai kartunya, sudah banyak percobaan penipuan. Tiba-tiba ada yang hubungi saya bilang menang undian tiket Garuda, karena saya tidak percaya, saya telpon call center dan minta diblokir saja. Saya kapok dan pas ditawari sharia card CIMB Niaga, ya, saya ambil saja,” katanya.

Dari pengalamannya, Rahman menyatakan lebih nyaman menggunakan sharia card yang juga dia rasakan memberikan sejumlah keuntungan. Salah satunya fitur tukar poin Xtra  yang membuatnya mampu bepergian ke luar negeri seperti ke Hong Kong.

Selain itu, menurutnya proses pengajuan aplikasi kartu pembiayaan syariah juga sangat gampang dan cepat. Selain mengisi formulir, persyaratan tambahannya adalah slip gaji tiga bulan terakhir dan fotocopy KTP. Setelah diverifikasi, kartunya dikirimkan dalam waktu sekitar tiga minggu.

“Syaratnya gampang banget, tidak perlu punya rekening tabungan. [Lebih suka pakai] syariah card ini, karena so far tidak ada kendala sih, semua lancar-lancar saja,” katanya.

CIMB Niaga Syariah

TREN MENINGKAT

Kartu pembiayaan syariah yang disediakan oleh UUS CIMB Niaga dan BNI Syariah menunjukkan tren perkembangan dari waktu ke waktu. Hal ini sejalan dengan upaya promosi yang dilakukan oleh lintas untuk memperluas gaya hidup halal.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan performa segmen bisnis tersebut mengalami pertumbuhan rata-rata yang cukup pesat sejak mulai ditawarkan pada 2014 lalu.

Menurut Pandji, tren perkembangan portfolio sejak 2014 sampai dengan Juli 2019 terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan di atas 50 persen setiap tahun.

Adapun untuk akuisisi nasabah baru kartu pembiayaan syariah juga mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan di atas 20 persen setiap tahunnya. “Saat ini jumlah pemegang kartu sudah lebih dari 350.000 kartu,” kata Pandji.

Pertumbuhan rata-rata yang cukup tinggi itu membuat pangsa pasar yang dimiliki perseroan mampu menyaingi posisi BNI Syariah yang lebih awal lima tahun masuk ke pasar.

“Porsi sharia card CIMB Niaga saat ini sudah mayoritas atau di range 50 persen –  60 persen dari total jumlah pemegang kartu, karena memang pemain sharia card hanya 2 bank saja,” kata Pandji.

UUS CIMB Niaga menyediakan dua jenis kartu syariah, yakni Syariah Gold Card dengan limit transaksi maksimal Rp100 juta dan Syariah Platinum Card dengan limit maksimal hingga Rp1 miliar. Keduanya diklaim sama-sama menggunakan prinsip syariah.

Bedanya, syariah gold card bebas biaya iuran tahunan sedangkan kartu syariah platinum hanya dibebaskan biaya pada tahun pertama tapi diberi fitur khusus yakni cashback sampai maksimal Rp150.000.

Menurut Pandji, dibandingkan dengan kartu kredit konvensional yang dikeluarkan CIMB Niaga, sharia card memiliki program promo diskon dan tingkat pricing yang hampir sama. Begitu juga dengan pembayaran fee, sama seperti konvensional, fee dibayar sekali di muka. Adapun perbedaannya terletak pada penerimaan kartu yakni tidak mencakup merchant-merchant nonhalal.

“Dari sisi nasabah, praktis sama saja, hanya kalau pakai kartu syariah kita tidak bisa belanja di toko yang tidak halal, misalnya di toko wine serta di restoran yang ada menu pork. Dan yang penting, ada kepuasan kita sudah mulai bersyariah,” katanya.

BNI Syariah

Setali tiga uang, bisnis kartu pembiayaan syariah yang diluncurkan oleh BNI Syariah sejak 2009 dengan nama BNI iB Hasanah Card juga terus mengalami pertumbuhan.

Menurut SEVP Retail dan Jaringan BNI Syariah Iwan Abdi Anak menjelaskan, ada tiga tipe kartu pembiayaan syariah yang ditawarkan usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. itu, yakni classic, gold, dan platinum.

Adapun keunggulan yang ditawarkan antara lain, cakupan kerja sama dengan berbagai kategori merchant yang mencakup bidang fesyen, travel, pendidikan, hotel syariah, restoran dan e-commerce. Kemudian, untuk kebutuhan perjalanan ke luar negeri, BNI iB Hasanah Card menggunakan jaringan Mastercard yang dapat diterima di seluruh dunia dengan rate yang kompetitif.

Selain itu, perseroan juga kerap menggelar program promosi seperti cashback dan diskon untuk mendorong transaksi, baik untuk pembelian kebutuhan sehari-hari, tiket, maupun kebutuhan lainnya, juga promo hotel, restoran, paket umroh dan paket wisata muslim.

“Perbedaan kartu kredit konvensional dengan BNI iB Hasanah Card adalah adanya akad yang melandasi penerbitan kartu, sistem perhitungan ujroh / fee, pembatasan transaksi dan kategori biaya yang muncul,” kata Iwan.

Dia menekankan, kartu pembiayaan syariah itu hanya dapat digunakan untuk bertransaksi di merchant halal seluruh dunia pada merchant yang berlogo Mastercard. “Jika pengguna BNI iB Hasanah Card menggunakan kartu ini untuk transaksi di merchant nonhalal, maka akan otomatis tertolak.”

Iwan mengatakan saat ini pemegang kartu eksisting sebanyak 327.083 per akhir Juni 2019. Adapun volume transaksi penjualan sejak Januari 2019 hingga akhir semester I/2019 mencapai Rp674 miliar.

“Kami menargetkan outstanding kartu BNI iB Hasanah Card sampai akhir tahun 2019 tumbuh 13,5 persen secara year on year,” katanya.

POTENSI BESAR

Bisnis kartu pembiayaan syariah diperkirakan berpotensi mengalami peningkatan di waktu yang akan datang sehingga kontribusi terhadap bisnis dan pendapatan bank diharapkan semakin meningkat. Apalagi dengan adanya program Gerbang Pembayaran Nasional di era digital saat ini, penggunaan transaksi noncash semakin diminati konsumen dan membuat pasar kian prospektif.

Mengutip data Statistik Sistem Keuangan Indonesia yang disusun Bank Indonesia, per Juli 2019 jumlah kartu kredit yang beredar secara keseluruhan sebesar 17 juta unit dengan volume transaksi naik 7,17 persen secara year on year (YoY) menjadi sebesar 30 juta transaksi. Kenaikan itu lebih kuat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat minus 1,97 persen menjadi 26 juta transaksi.

Nilai transaksi total kartu kredit juga menguat menjadi 11,69 persen menjadi sebesar Rp29,86 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan total transaksi pada akhir Juni sebesar 1,99 persen menjadi Rp25,91 triliun.

Akan tetapi, meskipun prospeknya besar, realisasi kontribusi kartu pembiayaan syariah terhadap bisnis dua bank tersebut masih belum terlalu tinggi. “Kontribusi secara bisnis dan pendapatan masih di bawah 5 persen,” kata Pandji.

Outstanding pembiayaan UUS CIMB Niaga via kartu syariah mencapai Rp701 miliar. Realisasi itu berkisar 2,5 persen dari total pembiayaan yang disalurkan perseroan hingga akhir semester I/2019 yang tercatat sebesar Rp27,96 triliun. Adapun, penopang utama bisnis perseroan berasal dari segmen business banking sebesar Rp16,33 triliun dan konsumer banking sebesar Rp11,63 triliun

BNI Syariah juga mengakui kontribusi kartu pembiayaan masih belum terlalu tinggi. Per Juni 2019, outstanding BNI iB Hasanah Card sebesar Rp352,6 miliar. “Berkontribusi sekitar 2 persen dari total pembiayaan syariah,” kata Iwan.

Kedua perseroan berharap kontribusi segmen kartu pembiayaan dapat semakin bertumbuh terhadap total bisnis perseroan seiring dengan akuisisi nasabah yang terus ditingkatkan.

CALON PEMAIN BARU

Terlepas dari kontribusi yang masih belum maksimal tersebut, dua bank eksisting harus siap-siap berebut kue dengan PT Bank BRI Syariah Tbk. yang sudah mengambil ancang-ancang untuk masuk ke segmen yang sama pada 2020.

Sekretaris Perusahaan BRI Syariah Mulyatno Rahmanto mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan pengembangan produk dan ditargetkan kartu pembiayaan syariah siap diluncurkan pada tahun depan.

BRI Syariah tertarik lantaran melihat permintaan masyarakat untuk halal lifestyle terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Padahal dari sisi supply, penyedia jasa kartu pembiayaan syariah masih sedikit.

 “Kami ingin masuk ke bisnis kartu pembiayaan syariah karena kami melihat segmen layanan ini sesuai visi BRI Syariah yaitu menjadi bank ritel modern. Selain itu saat ini penyedia jasa kartu pembiayaan syariah masih sedikit, kami lihat ini sebagai peluang,” katanya kepada Bisnis.

Proses edukasi kepada para nasabah akan terus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terkait kartu pembiayaan syariah dan akad yang digunakan. Kartu tersebut pada dasarnya berfungsi sebagaimana kartu kedit lain tapi terikat dengan prinsip dan kebijakan yang bersifat syariah serta terkat dengan aturan yang berlaku.

Mulyatno menuturkan, fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)  untuk kartu pembiayaan sudah ada sejak 2006. Kartu pembiayaan ini menggunakan akad Kafalah bil ujroh wal qardh. Secara prinsip, bank menjamin kepada merchant yang digunakan oleh nasabah, bahwa pembayaran akan dilakukan oleh nasabah. Atas jasa bank tersebut, bank berhak mendapat ujroh/fee dari nasabah.

Dalam akad kafalah, bank yang bertindak sebagai penerbit kartu kredit syariah akan menjadi penjamin di setiap transaksi, baik pembelanjaan maupun transaksi penarikan tunai di mesin ATM di luar milik bank penerbit kartu. Atas jaminan yang diberikan, bank penerbit kartu akan menerima sejumlah fee dari nasabah pemegang kartu.

Kemudian, akad qardh merupakan pemberian pinjaman yang dilakukan oleh pihak bank penerbit atas transaksi penarikan tunai oleh pemegang kartu kredit syariah di mesin ATM milik penerbit kartu.

Adapun, untuk akad ijarah merupakan biaya keanggotaan (iuran tahunan) yang diberlakukan oleh bank penerbit kepada nasabah pemegang kartu yang juga disebut dengan fee keanggotaan.

“Sehingga kartu pembiayaan syariah tidak perlu diragukan lagi pemenuhan terhadap sharia compliance. Kalau saat ini belum banyak masyarakat yang menggunakan kartu pembiayaan syariah, itu karena sampai saat ini harus diakui tingkat literasi masyarakat mengenai perbankan syariah masih harus terus ditingkatkan, dan penyedia jasanya juga masih terbatas,” paparnya.

BRI Syariah belum memasang target spesifik terkait potensi dari bisnis kartu pembiayaan yang ingin diraih. Sampai saat ini, penopang utama bisnis perseroan masih berasal dari pendapatan penyaluran pembiayaan dengan kontribusi hingga 70 persen dan sisanya dari pendapatan nonoperasional. Hingga akhir semester I/2019, laba bersih yang dibukukan BRI Syariah mencapai Rp35 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank syariah, kartu kredit, fokus

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top