Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kendati Terdampak Corona, Industri Perbankan Diyakini Akan Cepat Pulih

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diperkirakan masih berpotensi terjaga di 7 persen. Kendati potensi perlambatan kredit cukup dalam akibat epidemi COVID-19, mekanisme fungsi intermediasi bank saat ini dinilai masih mumpuni.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 01 April 2020  |  15:07 WIB
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah (kedua kiri), Kepala Eksekutif Fauzi Ichsan (kedua kanan), Anggota Dewan Komisioner Destry Damayanti (kanan) dan Direktur Eksekutif Riset, Surveilans, dan Pemeriksaan Didik Madiyono memberikan penjelasan pada konferensi pers pengumunan hasil review suku bunga penjaminan, di Jakarta, Senin (13/5/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah (kedua kiri), Kepala Eksekutif Fauzi Ichsan (kedua kanan), Anggota Dewan Komisioner Destry Damayanti (kanan) dan Direktur Eksekutif Riset, Surveilans, dan Pemeriksaan Didik Madiyono memberikan penjelasan pada konferensi pers pengumunan hasil review suku bunga penjaminan, di Jakarta, Senin (13/5/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat
Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diperkirakan masih berpotensi terjaga di 7 persen. Kendati potensi perlambatan kredit cukup dalam akibat epidemi COVID-19, mekanisme fungsi intermediasi bank saat ini dinilai masih mumpuni.

Ekonom Senior sekaligus Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Periode 2015-2020 Fauzi Ichsan mengatakan perbankan pernah menghadapi kondisi yang lebih buruk dari ini dan tetap mampu recover dengan cepat.

"Dulu masalah yang paling berat pernah terjadi pada 1998 dan 2008, tetapi masih dapat tetap dikendalikan. Saat ini pun juga sama, kami bahkan lebih optimistis. Kredit masih dapat tumbuh di kisaran 6 persen hingga 7 persen, momentum perbaikan fungsi intermediasi semester kedua tahun ini sangat penting," katanya dalam sesi Live Streaming bersama jurnalis, Rabu ( 1/4/2020).

Dia menjelaskan bank saat ini menghadapi kondisi penurunan kulaitas kredit yang cukup berat. Meski rasio kredit bermasalah dapat diminimalisir di kisaran 3% persen, tetapi rasio kredit dalam pantauan dapat naik tinggi.
"Otoritas memberi relaksasi perhitungan kolektabilitas menajdi satu pilar, tetapi loan at risk masih bisa naik dari saat ini sudah 11 persen  menjadi 15 persen," katanya.

Fauzi menyebutkan bank masih dapat mampu menjaga pertumbuhan kreditnya. Bank saat ini tidak memiliki kecenderuangan mengambil langkah gegabah dengan meminta sebagian debitur baik melunasi kreditnya, sehingga menimbulkan risiko NPL yang lebih tinggi.

"Jika langkah in dapat dilakukan konsisten, debitur yang masih memiliki performa baik masih dapat melanjutkan penyerapan kreditnya," katanya

Adapun, menurutnya, sektor yang masih berpotensi tumbuh baik pada masa perbaikan adalah transportasi, mkananan minuman berkemasan, dan industri farmasi.
Jika kepercayaan masyarakat dapat membaik, maka industri pariwisata khususnya domestik pun dapat kembali membaik, dan mendorong pertumbuhan kredit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top