Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Beban Bank Syariah Tak Seberat Bank Konvensional Saat Covid-19. Apa Penyebabnya?

Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari mengatakan bank syariah cenderung menanggung risiko yang lebih kecil saat pandemi Covid-19 bila dibandingkan dengan kondisi bank konvensional.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 14 Mei 2020  |  23:03 WIB
Bank syariah - Ilustrasi/bisnisaceh.com
Bank syariah - Ilustrasi/bisnisaceh.com

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari mengatakan bank syariah cenderung menanggung risiko yang lebih kecil saat pandemi Covid-19 bila dibandingkan dengan kondisi bank konvensional.

Hal ini, kata Toni, lantaran konsep dasar yang dimiliki bank syariah menerapkan konsep bagi hasil, sehingga secara natural bisa memitigasi dampak yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19.

“Risiko kondisi makro secara natural termigiasi sendiri dengan konsep bisnis syariah, sadar tidak sadar, karena konsep dasar syariah yang pertama bisnisnya harus adil, seimbang, mashalat, dan kedua, konsep yang adil karena bagi hasil,” katanya, Kamis (14/5/2020).

Toni menjelaskan, ada beberapa produk bank syariah yang tidak sensitif terhadap pricing sehingga tidak terdampak, misalnya simpanan dengan akad wadiah atau tanpa bunga.

Tren jenis simpanan tersebut disebutkan mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya, seperti di Bank Syariah mandiri, simpanan akad wadiah rata-rata meningkat 15%-20% setiap tahun.

Di samping itu, simpanan dengan akad mudharabah, yaitu simpanan dengan konsep bagi hasil. Simpanan jenis ini dinilai tidak akan terlalu membebankan biaya yang harus dikeluarkan ketika pendapatan bank juga mengalami penurunan.

“Jika berdasarkan konsep bagi hasil dengan nasabah, jadi kondisi nasabah turun, bank turun, maka bagi hasil ke deposan juga turun, sehingga secara natural ada mitigasi yang sangat bagus,” tuturnya.

Sehingga menurut Toni, bank syariah tidak akan terlalu tertekan. Berbeda bank-bank konvensional, yang mengalami penurunan pendapatan saat pandemi Covid-19 tapi biayanya tidak berkurang karena bunga simpanan bersifat tetap.

Toni melanjutkan, tidak hanya adil secara bisnis komersial, tapi dari sisi sosial bank syariah juga membayarkan zakat 2,5% dari pendapatan sebelum pajak.

Selain itu, bank syariah juga memiliki prinsip sosial zakat untuk umat. Misalnya zakat yang dikeluarkan Mandiri Syariah pada 2019 adalah sebesar Rp44 miliar. Di kondisi saat ini dana zakat tersebut bisa digunakan untuk kegiatan sosial membantu masyarakat yang terkena dampak Covid-19.

“Ini konsep yang sangat menarik dan bagus dan saya yakin sekian puluh tahun ke depan bank syariah akan tumbuh sangat bagus sekali,” ujarnya.

Sementara dari sisi kinerja, Toni mengatakan hingga Februari 2020 kinerja bank syariah masih tumbuh positif, termasuk pembiayaan dan dana pihak ketiga.

Per Februari 2019, aset bank syariah tercatat tumbuh 10,33% secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara pembiayaan dan DPK masing-masingnya tumbuh 10,77% yoy dan 12,33% yoy.

Menurutnya, dampak dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan perlambatan ekonomi, juga sektor keuangan baru akan terasa pada kuartal kedua tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah perbankan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top