Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Untung-Buntung Investasi P2P Lending, dari Cuan Besar sampai Gagal Bayar

Setiap instrumen investasi memiliki risiko tersendiri, tak terkecuali dalam menjadi pendana di platform P2P lending. Beragam pengalaman menarik berinvestasi sebagai lender P2P pun bermunculan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 04 Maret 2021  |  17:53 WIB
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Industri teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending mulai dilirik masyarakat Tanah Air yang tertarik berinvestasi sebagai pendana (lender).

Kelebihan industri ini selaku alternatif instrumen investasi pun jadi daya tarik utama. Seperti memungkinkan pendaftaran mudah dan hanya lewat online, investasi awal dengan nilai kecil, serta memungkinkan lender memilih sendiri penyaluran dananya terhadap para peminjam (borrower).

Namun demikian, setiap instrumen investasi memiliki risiko tersendiri, tak terkecuali platform P2P lending. Beragam pengalaman menarik berinvestasi sebagai lender P2P pun bermunculan.

Di antaranya, Ilman (27), karyawan swasta Ibu Kota yang mengaku puas ketika menjadi lender di platform P2P produktif. Dirinya lebih suka menyalurkan ke tipe pinjaman dengan pengembalian installment secara bulanan.

Ilman mengungkap kepada Bisnis bahwa ketertarikan utamanya mau menitipkan tabungannya lewat platform P2P, yakni karena bisa memilih sendiri profil risiko borrower pelaku usaha.

"Jadi, kinerja pengembalian selalu lancar karena saya pilih borrower yang kualitasnya bagus. Malah, saya kadang justru berharap mereka ini agak telat-telat saja bayarnya, karena kalau lebih cepat dari jadwal, return saya jadi kecil," ujarnya sembari berkelakar, Kamis (4/3/2021).

Ilman mengaku return yang diterimanya selaku lender P2P terbukti lebih besar dibandingkan dengan instrumen investasi lain yang juga menawarkan imbal hasil secara bulanan. Kuncinya, memilih borrower potensial dengan melakukan riset kecil-kecilan mengenai bisnis borrower tersebut.

"Saya tipe yang tidak rutin [berinvestasi] ke P2P, lebih banyak ke instrumen investasi lain juga. Namun, saya memantau terus tawaran-tawaran loan yang diinfokan platform. Jadi, lebih tergantung borrower yang saya anggap menarik saja," tambahnya.

Sedikit berbeda dengan Ilman, Siti Fatimah (26) justru lebih menekankan sisi sosial dari industri P2P, sehingga tak terlalu memprioritaskan sisi 'cuan', tapi lebih memilih borrower UMKM yang butuh bantuan.

Siti rutin memutar dananya lewat beberapa platform dan lebih senang dengan tipe pinjaman invoice, terutama dari platform P2P syariah. Menurutnya, tipe pinjaman ini dirasa lebih aman dan waktu pengembalian pinjaman secara penuh pun hanya memerlukan jangka waktu bulanan saja.

"Dana saya di P2P saya putar di beberapa borrower UMKM yang menawarkan invoice financing, karena dana tersebut bisa saya investasikan ulang setiap satu sampai tiga bulan. Return kecil tak masalah, yang penting borrower itu sudah terpercaya karena bisnisnya jelas," ujar wanita yang berprofesi sebagai guru ini.

Sekadar informasi, invoice financing berarti pelaku usaha selaku borrower sudah menyelesaikan pekerjaan atau proyeknya, tetapi belum menerima pembayaran dari bouwheer atau payor.

Biasanya, pembayaran oleh payor memakan waktu hingga hitungan bulan, sehingga borrower butuh suntikan modal, yang salah satunya diakomodasi pinjaman P2P lending, untuk likuiditas atau menjaga arus kas perusahaannya.

Lewat mencoba cara memutarkan dana yang telah Siti mulai sejak awal 2020 lalu ini, tabungan awal Rp2 juta miliknya kini terbukti bertambah di kisaran 6 persen, yang notabene berada dalam kondisi pandemi sekalipun.

Siti pun mengaku baru mulai berani menambahkan jumlah tabungannya untuk diputar dalam platform P2P lagi setelah pandemi mereda dan setelah membuktikan sendiri bahwa platform P2P memang aman.

"Pasti di tengah pandemi kemarin itu agak takut top-up ke platform P2P lagi, karena kita nggak tahu kondisi bakal gimana, apalagi kok mikirin proyeksi borrower potensial. Akhirnya, tabungan selama pandemi saya pilih masuk ke deposito bank syariah saja. Baru tahun ini kayaknya mau tambah portofolio ke P2P lagi," tambahnya.

Adapun, salah satu pengalaman negatif berinvestasi lewat platform P2P diungkap seorang karyawan swasta Duwi S. Ariyanti (28), yang mencoba menjadi lender di salah satu platform P2P resmi yang mengkhususkan diri di sektor pertanian.

Hingga kini, portofolionya kepada salah satu borrower dalam platform tersebut sama sekali belum dicicil.

Oleh sebab itu, menurut Duwi, pengalamannya mengajarkan bahwa para lender harus memiliki awareness terkait upaya platform dalam memilih kualitas borrower dan menyediakan jaminan pengembalian dana.

"Memang P2P menjanjikan return besar, tapi risikonya uang kita benar-benar tidak kembali sama sekali. Lender harus siap soal itu. Jadi, saran saya, lebih baik pilih platform yang punya jaminan atau asuransi. Awareness lender jangan hanya terkait cara memilih borrower, atau cara cuan saja," ungkapnya.

Juru Bicara Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Andi Taufan Garuda Putra punya saran serupa untuk para lender dalam menanggapi fenomena gagal bayar seperti ini. Cara memilih platform dan diversifikasi pendanaan jadi kunci.

"Beberapa platform sudah mengakomodasi jaminan pengembalian lewat asuransi. Ada yang kembali 75 persen atau 50 persen, apabila usaha borrower itu tiba-tiba bangkrut misalnya atau kalau borrower yang bersangkutan meninggal dunia," jelasnya dalam diskusi virtual bersama Bisnis.

Tentunya, masyarakat harus memilih platform yang resmi, memiliki rekam jejak pendanaan besar, dan punya tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) yang tinggi.

Juru Bicara Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Andi Taufan Garuda Putra. Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah mewajibkan setiap platform P2P untuk secara terbuka mengungkap indikator-indikator kinerja tersebut dalam laman resminya.

"Jadi saran saya, diversifikasi itu penting sekali. Jangan hanya menyalurkan di satu platform saja, minimal tiga. Dari pendanaan di tiap platform itu pun dipecah lagi sesuai profil risiko. Dibagi, jangan hanya untuk satu borrower saja," tambah Taufan.

Taufan terus mengajak masyarakat untuk hanya menjadi lender di platform P2P resmi berizin OJK atau telah menjadi keluarga besar anggota AFPI.

Kini, telah banyak pilihan platform resmi yang bisa dipilih masyarakat, yang bisa mulai berinvestasi dengan nilai yang kecil, dan bisa disesuaikan dengan passion lender terkait bagaimana targetnya dalam mendanai bermacam jenis dan tipe pinjaman borrower.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi pembiayaan fintech P2P lending
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top