Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM WRAP: Bank Mini Ramai Penuhi Modal Inti, TLKM Ekspansi di Luar Negeri, Hingga IPO Blibli.com

Aturan modal inti teranyar dari OJK akan memaksa bank kecil memutar otak untuk memenuhi regulasi. Pemilik saat ini tidak memiliki napas panjang untuk menyuntikan dana segar.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 28 Agustus 2021  |  06:00 WIB
Bank Neo Commerce.  - www.yudhabhakti.co.id
Bank Neo Commerce. - www.yudhabhakti.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — Tenggat sempit dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat sejumlah bank kecil menggelar aksi korporasi bertubi-tubi.

Bagaimana tidak, pengawas tertinggi industri perbankan itu memberi garis kepemilikan modal minimal Rp2 triliun bagi seluruh bank umum di Tanah Air paling lambat akhir Desember 2021. 

Tidak ada ruang bernapas panjang, pemilik harus kembali menyuntikkan dana segar agar bank yang dimilikinya memiliki modal sedikitnya Rp3 triliun pada akhir 2022. Bagi yang tidak mampu, otoritas menyediakan jalan tengah. Merger sesama bank mini, atau turun kelas menjadi pemain lokal sebagai bank perkreditan rakyat (BPR).

1. Bank Mini (BACA, BBYB, BINA Hingga BEKS), Tersesak Jadwal Tambah Modal, Jadi BPR?

Aturan modal minimal tier 1 itu ditetapkan oleh OJK melalui POJK No.12/2020. Inti aturan itu modal inti minimum bank umum diatur senilai Rp3 triliun dengan timeline Rp1 triliun pada 2020, Rp2 triliun pada 2021, dan Rp3 triliun pada 2022.

Aturan modal itu juga dipertegas dengan beleid anyar, POJK 12/2021 tentang Bank Umum. Dalam regulasi ini, meski tidak menyebutkan secara gamblang batasan modal, namun bank dengan modal tier 1 di bawah Rp6 triliun akan menempati kasta terbawah.  Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) itu dikelompokkan dengan perincian KBMI 1 merupakan bank dengan modal inti sampai dengan Rp6 triliun. KBMI 2 yakni bank dengan modal inti Rp6 triliun sampai dengan Rp14 triliun. KBMI 3 yakni bank dengan modal inti lebih dari Rp14 triliun sampai dengan Rp70 triliun. 

2. Menilik Kelincahan Ekspansi Grup Telkom (TLKM) di Luar Negeri

Kendati diwarnai oleh sejumlah tantangan, ambisi PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) untuk berekspansi ke luar negeri tampak terus digenjot. Sektor digital menjadi gerbang utama perusahaan pelat merah tersebut untuk bersaing secara global. Adapun, dalam hal ini sektor perusahaan rintisan (startup) menjadi ‘kendaraan’ bagi grup Telkom menjelajah pasar global. Investasi ke startup asing pun terus digencarkan oleh perseroan demi menjaring market yang lebih luas di lur Indonesia. MDI Ventures, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) terus berupaya menyalurkan investasi ke perusahaan rintisan di luar negeri.

3. Saham PALM, Antara Harapan Investor & Realitas Keputusan Saratoga Cs

Catatan laba jumbo PT Provident Agro Tbk. (PALM) berakhir antiklimaks. Rapat umum pemegang saham perusahaan yang dilaksanakan pada 25 Agustus lalu di luar bayangan para investor. 

Perusahaan sawit yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Provident Capital Indonesia (44,16 persen) dan Saratoga Sentra Business (44,87 persen) memutuskan tidak membagikan dividen.  

"Rapat tersebut telah dihadiri sejumlah 6,33 miliar saham yang memiliki hak suara yang sah atau 89,595 persen dari seluruh saham dengan hak suara yang sah yang telah dikeluarkan oleh Perseroan," tulis manajemen dalam risalahnya yang dipublikasikan di website Bursa Efek Indonesia, Jumat (27/8/2021).

4. Menakar Rencana IPO Blibli.com, Ambisi Grup Djarum Grup Emtek (Bukalapak.com)

Rencana Blibli.com mengikuti langkah PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia mendapat sambutan hangat dari pelaku pasar modal. 

PT Global Digital Niaga, perusahaan yang mengelola Blibli.com disebut telah memilih penasihat keuangan untuk aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, berdasarkan sumber Bloomberg, dikutip Kamis (26/8/2021). 

Blibli.com yang didukung oleh konglomerat Grup Djarum mempertimbangkan IPO di Bursa Efek Indonesia pada awal tahun depan.

Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy mengatakan tren e-commerce masuk ke pasar modal tidak akan bisa terhentikan. Pasalnya dengan tren pertumbuhan sektor teknologi, perusahaan rintisan itu memerlukan dana segar untuk pengembangan bisnis. “Tren untuk e-commerce masuk ke pasar modal itu sebenarnya inevitable, karena cash itu penting sekali buat pertumbuhan mereka,” tegasnya kepada Bisnis pada Kamis (26/8/2021).

5. Potensi 'Berkah' Ketatnya Aturan China dan Stimulus IPO BEI

Aksi penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Tanah Air diperkirakan mendapat sentimen dan dorongan positif, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Adapun, sentimen dari luar negeri salah satunya datang dari China, yang tampak sedang memperketat aksi IPO perusahaan domestiknya. Langkah pengetatan tersebut utamanya dilakukan kepada perusahaan teknologi yang akan melantai di bursa saham luar China.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (27/8/2021), Dow Jones melaporkan bahwa China akan mengusulkan peraturan baru untuk memblokir perusahaan yang menguasai data konsumen dalam jumlah yang besar dan sensitif  untuk melantai di bursa Amerika Serikat.

Regulator China mengatakan bahwa aturan tersebut menargetkan perusahaan yang melakukan IPO di negara lain melalui unit usahanya yang didirikan di luar negeri. Hal itu disampaikan oleh salah satu sumber yang enggan disebutkan identitasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia perbankan telkom pt provident agro tbk blibli.com bukalapak
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top