Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kesadaran Punya Dana Pensiun Rendah, Indonesia Hadapi Tantangan Besar di 2060

Aset industri asuransi baru mencapai 8,5 persen dari GDP Indonesia, sementara aset dana pensiun hanya sebesar 2,7 persen dari GDP di 2020. Hal ini menjadi masalah serius karena Indonesia akan menghadapi banyaknya populasi menua dalam beberapa dekade mendatang.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 30 Mei 2022  |  12:05 WIB
Kesadaran Punya Dana Pensiun Rendah, Indonesia Hadapi Tantangan Besar di 2060
Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) bersama dengan Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wiroatmojo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menilai Indonesia akan memiliki tantangan besar dalam menghadapi era populasi menua (aging population) di tengah rendahnya kesadaran masyarakat menyiapkan dana pensiun.

Dia mengatakan, industri asuransi dan dana pensiun di Indonesia masih kurang berkembang dibandingkan perbankan dan sektor finansial lainnya.

Aset industri asuransi baru mencapai 8,5 persen dari GDP Indonesia, sementara aset dana pensiun hanya sebesar 2,7 persen dari GDP di 2020. Hal ini menjadi masalah serius karena Indonesia akan menghadapi banyaknya populasi menua dalam beberapa dekade mendatang.

"Kita tahu kita punya bonus demografi dan akan berubah menjadi aging population dalam 20 tahun mendatang. Jadi di 2060-2070, kita akan punya banyak aging population dan kita telat untuk transformasi ekosistem dana pensiun kita dan telat untuk bangun aset yang match untuk liabilitas di masa depan," ujar Tiko dalam IFG International Conference 2022, Senin (30/5/2022).

Menurutnya, rendahnya perkembangan dana pensiun karena masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko finansial masa depan dan kesadaran dalam menyiapkan dana pensiun untuk generasi selanjutnya.

Dia mengatakan, kurva manajemen risiko untuk risiko keuangan pribadi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Masyarakat cenderung lebih memprioritaskan menyimpan uang di bank agar uangnya dapat ditarik kapan saja, dibandingkan menempatkan uangnya untuk investasi masa depan. Orang juga cenderung berinvestasi pada instrumen investasi dengan risiko tinggi karena menginginkan imbal hasil yang cepat.

"Misal, di BPJS Ketenagakerjaan, masyarakat ingin tarik lebih cepat dana pensiun mereka. Mereka tidak mau uang mereka tumbuh untuk cadangan masa depan, mereka mau liat cash sekarang," katanya.

Oleh karena itu, Tiko menilai perlu adanya upaya untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk menyiapkan mitigasi risiko finansial di masa depan. Perlu adanya edukasi masif agar orang memahami risiko hidupnya sehingga orang memiliki kesadaran untuk membeli produk proteksi dan menyiapkan dana pensiunnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi dana pensiun
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top