Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BSI (BRIS) Target Pembiayaan Tumbuh Dobel Digit pada 2023

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) memproyeksikan penyaluran pembiayaan tumbuh double digit pada 2023.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) memproyeksikan penyaluran pembiayaan tumbuh double digit pada 2023. Dok BSI.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) memproyeksikan penyaluran pembiayaan tumbuh double digit pada 2023. Dok BSI.

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) memproyeksikan penyaluran pembiayaan tumbuh double digit pada 2023. Adapun, sektor yang dibidik sebagai penggerak utama dalam pembiayaan ini adalah konsumer, ritel, SME, UMKM hingga korporasi. 

Pihaknya mengatakan, hal ini seiring dengan adanya dukungan regulator dan kebijakan pemerintah yang memberikan stimulus pertumbuhan pembiayaan di Tanah Air. 

Direktur Retail Banking BSI Bapak Ngatari mengatakan BSI akan fokus memacu pembiayaan yang terbukti resilience, aman dan memberikan profit bisnis jangka panjang. 

“Kami akan memperhatikan profil nasabah sesuai dengan segmentasi risiko, memberikan berbagai pilihan skema pembiayaan syariah sesuai segmen nasabah, promo margin dan kerjasama bisnis baik dengan e-commerce, pemerintah maupun swasta,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (6/8/2023). 

Menurutnya, kinerja perseroan tumbuh lebih baik juga didukung oleh strategic response yang tepat.

Adapun, BRIS mencatatkan laba bersih sepanjang tiga bulan pertama mencapai Rp1,45 triliun, meningkat 48 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp987,68 miliar pada kuartai I/2023. 

Berdasarkan laporan keuangan, peningkatan laba tersebut sejalan dengan sisi pendapatan penyaluran dana yang menebal 21 persen yoy menjadi Rp5,61 triliun. 

Di samping itu, kinerja positif BRIS juga didorong oleh pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang tumbuh 13 persen menjadi Rp418,03 miliar dari poisisi pada periode yang sama di tahun sebelumnya Rp368,52. 

Dari sisi rasio penting perusahan, BRIS mencatatkan peningkatan net operating margin (NOM) sebesar 62 basis poin (bps) menjadi 2,73 persen.

Kemudian, bank juga mencatatkan rasio imbal balik ekuitas (return on equity/ROE) tumbuh 158 bps menjadi 18,16 persen dan imbal balik aset (return on asset/ROA) meningkat 55 bps menjadi 2,48 persen. 

Sementara pada sisi intermediasi, BRIS mencatatkan pembiayaan tumbuh tumbuh 20 persen menjadi Rp212 triliun hingga kuartal I/2023. Pertumbuhan tersebut juga diikuti oleh terjaganya kualitas pembiayaan.

Rasio pembiayaan macet (non-performing financing) secara net BRIS turun 36 bps menjadi 0,54 persen. Sedangkan NPF bank secara gross mengalami peningkatan sebesar 55 bps menjadi 2,36 persen. 

Dana simpanan wadiah bank juga tercatat meningkat 11 persen menjadi Rp64,71 triliun dari Rp58,12 triliun pada periode yang sama tahun 2022. Sedangkan, dana investasi non-profit sharing BRIS juga mengalami penebalan menjadi Rp204,54 triliun dari Rp180,31 triliun.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit nasional pertumbuhan kredit tercatat baru di angka 7,76 persen hingga paruh pertama tahun 2023 dari target 10-12 persen. 

Namun begitu, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menilai pertumbuhan pada angka tersebut masih di atas tingkat pertumbuhan kredit pada periode pandemi Covid-19 yang rata-rata di bawah 8 persen.

"Tapi kami sudah lakukan komunikasi dengan perbankan, mereka melaporkan tetap akan mampu mencapai target di atas 10 persen tadi," katanya dalam konferensi pers hasil rapat KSSK di Jakarta, Selasa (1/8/2023). 

Adapun, pertumbuhan kredit kali ini lebih ditopang oleh sektor Jasa Dunia Usaha, Jasa Sosial, dan Pertambangan. Sementara, Pembiayaan syariah tumbuh lebih tinggi mencapai 17,09 persen yoy pada Juni 2023. 

Selanjutnya, OJK juga melaporkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 5,79 persen dengan deposito sebagai pendorong utama pertumbuhan. Kondisi tersebut menjadikan likuiditas perbankan sedikit turun meskipun masih jauh di atas threshold.

Penurunan tersebut terlihat dari rasio alat likuid/noncore deposit (AL/NCD) dan alat likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing sebesar 119,04 persen dan 26,73 persen dengan threshold 50 persen dan 10 persen.

Dari segi permodalan, Mahendra menjelaskan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tetap solid dan berada pada level 25,41 persen, menurun dari level 26,07 persen di bulan Mei.

Sementara bila dilihat dari risiko kredit membaik dengan Non-Performing Loan (NPL) gross turun ke level 2,44 persen dan NPL net 0,77 persen. Kredit restrukturisasi Covid-19 melanjutkan penurunan menjadi Rp361,04 triliun dengan jumlah debitur yang juga terus menurun menjadi 1,57 juta debitur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper