Rentang suku bunga kredit melebar

News Editor | 08 Desember 2010 12:15 WIB

JAKARTA: Rentang suku bunga kredit dengan bunga dana (spread) pada satu pekan terakhir melebar karena ada kenaikan bunga kredit, meskipun imbal hasil beban biaya dana mengalami penurunan.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A. Johansyah mengatakan pada satu pekan terakhir spread suku bunga rupiah sedikit melebar 3 basis poin dari 5,44% menjadi 5,47%, sehingga menjadi salah satu penyebab spread naik. "Hal ini disebabkan SBDK [suku bunga dasar kredit] rupiah mengalami kenaikan 1 basis poin, sedangkan rata-rata suku bunga deposito rupiah 1 bulan turun 2 basis poin," ujarnya dalam keterangan tertulis, sore ini.Dia menjelaskan SBDK rupiah turun pada empat kelompok bank yakni persero, BPD, kantor cabang bank asing dan bank campuran. Penurunan tertinggi, sambungnya, pada kelompok bank persero sebesar 25 basis poin karena satu bank menurunkan suku bunganya, sedangkan kelompok bank Swasta menaikkan suku bunganya sebesar 6 basis poin.Difi melanjutkan, turunnya rata-rata suku bunga deposito rupiah 1 bulan pada kelompok BPD (sebesar 2 basis poin) dan kantor cabang bank asing (22 basis poin) mendorong penurunan suku bunga industri perbankan. "Adapun suku bunga kelompok bank swasta dan bank campuran naik 1 basis poin. Sementara itu, kelompok bank persero tidak mengubah suku bunganya," jelasnya.Kondisi sebaliknya terjadi pada instrumen valas, dalam data Bank Indonesia, pada pekan I Desember, suku bunga dasar kredit valas turun 14 basis poin, sedangkan rata-rata deposito valas 1 bulan naik 1 basis poin.Pergerakan yang cukup signifikan terjadi pada kelompok bank persero dan campuran yang menaikkan bunga deposito valas masing-masing sebesar 67 basis poin dan 34 basis poin.Pada pekan laporan, suku bunga kredit efektif rupiah dan valas industri perbankan mengalami kenaikan, kecuali kredit konsumsi efektif valas yang tidak berubah. Pada instrumen rupiah kenaikan tertinggi pada kredit konsumsi efektif valas yang tidak berubah. Pada instrumen rupiah kenaikan tertinggi pada kredit konsumsi efektif 12 basis poin, sedangkan instrumen valas pada kredit modal kerja efektif 10 basis poin. (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top