BI perluas kerja sama dengan bank sentral Asean

 
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 23 September 2011  |  14:22 WIB

 

JAKARTA: Usai menandatangani nota kesepahaman dengan Bank Sentral  Malaysia, Singapura dan Fiilipina, Bank Indonesia menyasar hal serupa melalui pendekatan berbeda dengan Bank Sentral lain di wilayah Asia Tenggara.
 
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bidang Kebijakan Stabilitas dan Pengaturan Muliaman Darmansyah Hadad mengungkapkan nota kesepahaman dan pendekatan tersebut dilakukan dalam rangka upaya masing-masing negara untuk saling membuka diri dengan menyesuaikan kemampuan yang berbeda di tiap negara dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
 
Menurutnya, pendekatan kepada tiap negara harus dilakukan satu persatu, dan tidak bisa disamakan dengan negara lain. HAl tersebut dikarenakan kemampuan perekonomian yang berbeda di tiap negara. Oleh sebab itu penandatanganan nota kesepahaman pun tidak harus langsung dengan seluruh negara Asean.
 
"Potensi di tiap negara itu mesti diperhatikan, agar kita dapat menghasilkan benefit bagi perbankan nasional. Satu negara ke negara lain kan ada keperluannya, ada juga perjalanan historis. Jangan sampai kita keduluan, mestinya mungkin perbankan kita mengintip [potensi] itu," ujarnya kemarin.
 
Muliaman mengungkapkan, nota kesepahaman yang sudah dilakukan, serta pendekatan dengan negara lain tersebut merupakan upaya Bank Sentral untuk bekerja sama dalam sebuah kelompok kerja. Kelompok kerja tersebut nantinya akan memiliki satuan tugas dalam yang bekerja dalam jangka waktu yang telah disepakati.
 
Kelompok kerja, satuan tugas dan penetapan kurun waktu tersebut, lanjutnya, pada dasarnya merupakan sistem harmonisasi bagi masing-masing negara dan Bank Sentral agar dapat berbenah dengan tujuan yang sama, meski berangkat dari titik yang berbeda.
 
Dia menjelaskan, kelompok kerja yang akan dibentuk itu setidaknya akan memiliki 4 agenda utama, yaitu harmonisasi aturan, kapasitas maupun kemampuan, dan infrastruktur di bidang finansial. Sedangkan agenda terakhir adalah pemenuhan kualifikasi perbankan Asean.
 
"Diperlukan aturan, infrastruktur keuangan dan kapasitas serta kemampuan yang kurang-lebih sama antaranegara Asean, sebelum bisa saling terbuka, sehingga tiap negara bisa berada di level yang sama," jelas Muliaman.
 
Dia mengklaim, saat ini infrastruktur finansial Indonesia saat ini memiliki kemampuan yang cenderung lengkap dan berada di atas kemampuan Laos Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara agar semua negara di Asean dapat memiliki kemampuan infrastruktur finansial yang mendekati setara. 
 
Kapasitas bank per bank juga menjadi hal yang menarik perhatian kelompok kerja Bank Sentral Asean ini. "Perlu tenaga banker yang bagus, kualitas dan kuantitas pekerja, kapasitas ini harus dipenuhi," ungkapnya.
 
Berdasarkan hal-hal tersebut, kelompok kerja yang sama juga akan bermuara pada penentuan definisi kualifikasi perbankan Asean. Namun demikian dia masih belum dapat membeberkan  definisi yang dimaksud. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top