EKONOMI SYARIAH: Indonesia perlu promosikan potensi ke dunia

JAKARTA: Indonesia dinilai belum cukup mempromosikan potensi pasar keuangan syariah dalam negeri kepada investor potensial asal Timur Tengah, sebab itu investasi dari lembaga keuangan Timur Tengah lebih memilih masuk ke Malaysia ataupun Singapura.Issam
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 17 April 2012  |  14:47 WIB

JAKARTA: Indonesia dinilai belum cukup mempromosikan potensi pasar keuangan syariah dalam negeri kepada investor potensial asal Timur Tengah, sebab itu investasi dari lembaga keuangan Timur Tengah lebih memilih masuk ke Malaysia ataupun Singapura.Issam Z. Al Tawari, Chairman and Managing Director Rasameel Structured Finance Company Kuwait, mengungkapkan saat ini para pemilik dana di Kuwait khususnya, dan Timur Tengah pada umumnya tidak memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai potensi pasar keuangan di Indonesia.Menurutnya, ada investor asal Timur Tengah yang mulai investasi di Indonesia melalui PT Bank Muamalat Tbk, meski demikian perjanjian tersebut lebih bersifat kesepakatan antar pemerintah dari pada kesepakatan bisnis."Promosi investasi dari Indonesia ke wilayah Timur Tengah masih sangat kurang dibandingkan negara lain, Malaysia misalnya. Sebab itu yang berkembang adalah investor Timur Tengah berinvestasi ke Malaysia, lalu Malaysia banyak penetrasi ke pasar uang Indonesia," ujarnya.Issam melanjutkan kerangka kebijakan dan hukum di Indonesia juga kurang bersahabat dengan kebutuhan investor asal Timur Tengah. Lagi-lagi jika dibandingkan dengan kebijakan Malaysia terhadap kebutuhan perbankan syariah, Indonesia masih kalah jauh.Terakhir, tambahnya, penggunaan Bahasa Inggris yang belum umum dalam keseharian di Indonesia juga menjadi referensi yang cukup penting bagi investor untuk  berpaling pada Singapura maupun Malaysia.Md Noor Hj A. Rahman, Chief Executive Officer and Executive Director OSK--UOB Islamic Fund Management Malaysia mengakui Indonesia seharusnya lebih membuka diri kepada poteksi-potensi baru.Dia mengungkapkan, Malaysia banyak berinvestasi di Indonesia karena mengetahui besarnya potensi pasar dalam negeri, tetapi tidak semua pihak mengerti keberadaan potensi itu.Meski demikian, Managing Director Islamic Finance Sarasin Bank Switzerland menilai karakter bangsa Timur Tengah yang bermental pedagang dan sering kali terpaku pada kesempatan jangka pendek bisa jadi menjadi penyebab mereka belum masuk ke Indonesia. Hal tersebut karena Indonesia masih membutuhkan dukungan infrastruktur dan ketiadaan insentif dari pemerintah.Head Syariah Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk Saefudin Noer mengungapkan saat ini Indonesia harus fokus pada pekerjaan besar mengubah rute investasi yang tadinya dari Timur Tengah ke Malaysia lalu ke Indonesia menjadi dari Timur Tengah langsung ke Indonesia."Bagaimana cara mengubah rute tersebut, pertama kita harus mengidentifikasi potensi, sektor apa saja yang menajdi unggulan kita, dan wilayah mana saja. Lalu hasil identifikasi ini yang dapat kita tawarkan pada mereka," terangnya.Hal lain yang harus dilakukan adalah meninjau sektor kebijakan di pasar keuangan syariah. Saefudin mengatakan, dari sektor ini Indonesia kalah jauh dari Malaysia. Di luar persoalan insentif, usaha dari pemerintah untuk mengedukasi pemain global juga masih kalah dibandingkan negara tetangga.Adapun saat ini pasar Malaysia dibesarkan dengan usaha dari pemerintah, sementara pasar keuangan syariah dalam negeri tumbuh karena tuntutan kebutuhan dari sektor riil."Malaysia saat ini punya tax naturality dan tax insentive lainnya. Effort dari pemerintah Malaysia sangat tinggi untuk membesarkan pasar syariah. Mereka juga telah mengedukasi global player cukup lama," tegasnya. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top