KREDIT BNI: kucurkan Rp300 miliar untuk perusahaan Jepang

JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia Tbk menargetkan penyaluran kredit Rp200 miliar--Rp300 miliar kepada 25 perusahaan Jepang melalui sistem structure financing dengan 10 bank regional asal Jepang.Kepala Divisi Internasional Bank Negara Indonesa (BNI) Abdullah
M. Munir Haikal | 19 April 2012 13:14 WIB

JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia Tbk menargetkan penyaluran kredit Rp200 miliar--Rp300 miliar kepada 25 perusahaan Jepang melalui sistem structure financing dengan 10 bank regional asal Jepang.Kepala Divisi Internasional Bank Negara Indonesa (BNI) Abdullah Firman Wibowo mengungkapkan dari kerja sama tersebut perseroan membidik pendapatan bunga Rp40 miliar dan pendapatan berbasis biaya hingga Rp5 miliar sepanjang 2012 atau selama 9 bulan sejak terlaksananya kerja sama."Perusahaan asal Jepang yang beroperasi di kawasan industri di Indonesia ini bisa mendapatkan pembiayaan rupiah dari BNI melalui referensi dari 10 regional bank asal Jepang yang telah bekerja sama dengan BNI. Jadi kredit tersebut penjaminnya tetap regional bank, BNI hanya menyalurkan kredit saja," jelasnya kepada Bisnis, 19 April 2012.Menurutnya target tersebut terhitung moderat karena kerja sama tidak dapat efektif selama setahun penuh. Sebelumnya Direktur Treasury and Financial Institution BNI Adi Setianto mengungkapkan kerja sama ini baru akan terealisasi per Juni 2012.Adapun 10 bank yang bekerja sama dengan BNI tersebuta dalah Hyakugo Bank, Hakuto Bank, Chukogu Bank, Gunma Bank, Hikuriku Bank, Jyuroku bank, Hiroshima Bank, kagoshima Bank, Aichi Bank, dan Kyoto Bank.Selain memberikan layanan transaksi peminjaman dalam mata uang lokal, lanjut Firman, perusahaan akan menyediakan lima transaksi lainnya. Antara lain treasury funding, transaksi mata uang asing, pengiriman uang (remmittance), transaksi pembiayaan perdagangan (trade financing) dan transaksi pembayaran gaji (payroll).Dia memperkirakan perseroan dapat memperoleh pendapatan berbasis biaya Rp2 miliar--Rp3 miliar dalam target moderat, atau mencapai Rp5 miliar dengan target agresif.  Menurutnya Rp1 miliar akan berasal dari transaksi mata uang asing, Rp500 juta dari transaksi trade financing dan masing-masing sekitar Rp250 juta dari transaksi payroll dan remmittance.(api)

Tag :
Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top