Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AKSI KORPORASI PERBANKAN: Meleset Sedikit Tak Apalah

BISNIS.COM, JAKARTA-Meski banyak dinilai sejumlah kalangan terlambat, pemerintah akhirnya resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Jumat (22/6/2013) malam. Kenaikan harga BBM yang diharapkan mampu memulihkan kestabilan

BISNIS.COM, JAKARTA-Meski banyak dinilai sejumlah kalangan terlambat, pemerintah akhirnya resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Jumat (22/6/2013) malam. Kenaikan harga BBM yang diharapkan mampu memulihkan kestabilan pasar, setelah lebih dari 1 bulan berada dalam tekanan akibat tingginya ekspektasi inflasi dan pelarian arus modal asing di pasar modal.

Dalam kurun waktu Juni 2013 saja, aksi jual investor asing di bursa saham Tanah Air tak kurang dari Rp19,1 triliun. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sempat beberapa kali mengukir rekor hingga menembus level di atas 5.000, kembali terperosok dalam ke level 4.515 dalam penutupan perdagangan pekan kemarin.

Tekanan pasar yang bertubi-tubi tersebut membuat sejumlah aksi korporasi sejumlah perusahaan, termasuk perbankan tak sejalan sesuai rencana.

 

PT Bank CIMB Niaga Tbk secara resmi menyampaikan penundaan penerbitan obligasi berkelanjutan yang nilainya tak kurang dari Rp2,5 triliun dengan pertimbangan instabiltas pasar.

Jajaran manajemen CIMB Niaga mencermati volatilitas pasar keuangan global telah mempengaruhi kondisi pasar obligasi rupiah, terutama setelah bank sentral mengerek suku bunga acuan (BI rate) dari 5,75% menjadi 6%. Demikian pula PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Sehari sebelum pengumuman kenaikan BBM dilakukan, bank syariah pertama di Indonesia itu memilih langkah serupa.

Manajemen Bank Muamalat menunda rencana pelepasan saham (secondary public offering/SPO) dan penawaran umum terbatas (rights issue) yang semestinya bisa dijalankan pada bulan ini. Alasan penundaan kurang lebih sama, kondisi pasar yang tidak stabil, selain sentimen negatif atas ketidakpastian rencana kenaikan BBM di Indonesia dan tekanan atas mata uang rupiah akibat aliran keluar modal asing.

Kencangnya arus modal asing yang keluar itu dilihat sebagai per tanda para investor mulai menahan diri berinvestasi di pasar modal dalam negeri. Aksi korporasi Bank Muamalat mencakup rencana penjualan 407,09 juta unit saham baru atau setara dengan 3,83% kepemilikan yang awalnya dikuasai oleh pemegang saham lama, Abdul Rohim dan M. Rizal Ismael.

Bertepatan dengan aksi itu, perseroan juga akan melakukan rights issue dengan menerbitkan 3,25 miliar unit saham baru dengan mengincar dana segar tak kurang antara Rp2,2 triliun-Rp2,4 triliun.

TUNGGU STABIL

Dalam keterangannya, aksi korporasi Bank Muamalat itu akan dilanjutkan dalam waktu segera, setelah kondisi pasar menjadi lebih stabil dan para investor memperoleh kepastian yang jelas atas beberapa hal terkait dengan kondisi pasar saat ini. Berbeda dengan Bank CIMB Niaga dan Bank Muamalat yang sudah pasti menunda aksi korporasinya, PT Bank Maspion Indonesia masih melanjutkan tahapan rencana penawaran umum saham per dana (initial public offering/IPO).

Hanya saja, lini bisnis bank Maspion Group yang dikendalikan oleh pengusaha nasional Alim Markus itu tak bisa berkutik dari tekanan pasar yang terjadi belakangan ini. Jika tidak ada perubahan, harga IPO Bank Maspion ditetapkan sebesar Rp320, lebih rendah dari batas bawah harga penawarannya sebesar Rp360.

Selama masa penawaran, Bank Maspion mematok harga antara Rp360—Rp480 dengan target menggaet dana publik sekitar Rp300 miliar dari pelepasan 770 juta unit saham bank tersebut. Dengan harga penetapan Rp320, Bank Maspion diperkirakan hanya akan mengantongi dana Rp246,4 miliar, lebih rendah dari target semula.

Manajemen Bank Maspion juga berdalih kondisi pasar yang tengah fluktuatif membuat perseroan harus realistis menjual sahamnya kepada para investor. Rupanya, berlarutnya kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi itu pada akhirnya membuat semua rencana bisnis meleset dari target.

Shiantaraga, Director Head of Investment Banking PT RHB OSK Securities Indonesia, mengatakan kondisi pasar saat ini memang masih fluktuatif. Nah kalau begitu, tinggal insting bankir untuk memilih waktu yang pas untuk menggali dana dari pasar modal. (Stefanus Arief Setiaji/Fahmi Achmad)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : News Editor
Editor : Yusran Yunus
Sumber : Bisnis Indonesia (25/6/2013)
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper