Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Rate Sulit Turun? BI: Suku Bunga dalam Kondisi Ini Dikorbankan

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu memilih untuk kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate. Namun, Bank Sentral memilih untuk melakukan pelonggaran moneter dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dalam rupiah sebesar 50 basis poin dari 8% menjadi 7,5%.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 01 Desember 2015  |  21:26 WIB
suku bunga
suku bunga

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu memilih untuk kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate. Namun, Bank Sentral memilih untuk melakukan pelonggaran moneter dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dalam rupiah sebesar 50 basis poin dari 8% menjadi 7,5%.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Solikin M. Juhro mengatakan kondisi eksternal saat ini masih dipenuhi ketidakpastian dan perlu diwaspadai kendati stabilitas makro ekonomi telah membaik.

"Dalam konteks merumuskan respons kebijakan BI Rate itu kita tentunya memperhatikan secara keseluruhan dan kemana arah suku bunga global tersebut," ujarnya di Gedung BI, Selasa (1/12/2015).

Semua kondisi global termasuk kenaikan Fed Fund Rate (FFR) telah diakomodasi oleh Bank Sentral dalam merumuskan dan memutuskan kebijakannya.

"Misalnya BI Rate dan ditetapkan itu didasarkan assement menyeluruh dalam kondisi perekonomian, risiko dan prospek ke depan. Kita bicarakan kenaikan FFR sudah diperhitungan," katanya.

Menurut Solikin, yang sulit diprediksi yakni reaksi pasar terhadap respon kebijakan Bank Sentral.

Yang harus diantisipasi saat ini, lanjutnya, kondisi global dimana terdapat monetary policy divergence antara AS, Eropa, China, dan Jepang sehingga Bank Indonesia berhati-hati dalam memutuskan kebijakannya.

"Yang susah ditebak itu reaksi pasar. Kalau melihat kondisi domestik aja oke ini ada ruang pelonggaran dan ini telah kami mention di rilis bulan Oktober tapi kita juga harus lihat kondisi eksternalnya," ucapnya.

Dia menambahkan kondisi secara makro memungkinkan adanya ruang untuk dilakukan kebijakan moneter.

Saat ini Indonesia tengah tersandera dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian dan tekanan yang tinggi sehingga penurunan GWM Primer dalam rupiah merupakan pilihan dalam pemanfaatan ruang pelonggaran moneter.

"Tujuan akhir sama, kalau suku bunga dalam kondisi ini dikorbankan, diturunkan belum tentu berdampak, gimana dampak ke pasar sehingga yang dikorbankan kondisi eksternal tadi," tutur Solikin.

Saat ini, yield atau surat utang di Indonesia masih menarik bagi investor asing.

Ditambah lagi, aliran dana masuk atau net inflow ke Indonesia mengalami penurunan sehingga apabila FFR mengalami kenaikan dan BI rate diturunkan akan berdampak pada stabilitas makro secara keseluruhan.

"Kondisi eksternal tadi yang dikorbankan. Net inflow kita kan alami penurunan. Apalagi bicara Fed Fund Rate yang mau naik. Saat itu kalau kita mau turunkan suku bunga jadi less atractive dan bisa berdampak yang kurang baik pada keseimbangan makro keseluruhan. Kita harus hati-hati karena tak bisa tebak reaksi pasar," terangnya.

Solikin berharap dengan penurunan GWM Primer dalam rupiah ini dapat meningkatkan kapasitas pembiayaan untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia rdg
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top