Ambisi BTN Masuk Peringkat 5 Besar

Setelah melejit ke posisi enam dalam jajaran 10 bank papan atas di Indonesia pada 2016, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. memasang target menjadi bank dengan aset terbesar ke-5 di Tanah Air pada akhir 2017 mendatang.
Ropesta Sitorus | 18 Juni 2017 19:38 WIB
Bank BTN - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah naik ke posisi enam dalam jajaran 10 bank papan atas di Indonesia pada 2016, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. memasang target menjadi bank dengan aset terbesar ke-5  di Tanah Air pada akhir 2017 mendatang.

Pada 2013 lalu, Bank Tabungan Negara (BTN) tercatat menjadi bank dengan aset terbesar ke-10 di Indonesia. Seiring dengan kinerja bisnis yang positif, perseroan mampu melesat ke posisi enam pada akhir 2016.

Direktur Utama Bank Maryono mengatakan, dengan laju kinerja yang berada di atas rata-rata industri perbankan nasional saat ini, perseroan diyakini mampu mencatatkan nilai aset sekitar Rp253 triliun pada akhir tahun nanti.

“Dengan target aset tersebut, kami meyakini mampu menjadi bank dengan aset terbesar kelima di Indonesia pada akhir 2017,” ujar Maryono dalam acara buka bersama BTN dengan media di Jakarta, Minggu (18/6).

Pada posisi akhir tahun lalu peringkat lima bank papan atas ditempati oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk dengan aset sebesar Rp236,95 triliun. Pada periode tersebut BTN memiliki aset Rp214,16 triliun. Namun, pertumbuhan aset BTN mencapai 24,64% secara year on year (yoy), sedangkan CIMB Niaga nyaris stagnan, yakni naik tipis 1,59%.

Untuk mencapai posisi lima terbesar di Indonesia, Maryono mengungkapkan manajemen akan menjaga laju pertumbuhan kredit dan pembiayaan sekitar 18% secara tahunan (yoy). Kemudian, penghimpunan dana pihak ketiga ditargetkan tumbuh sekitar 22%-24%.

Dalam memacu penyaluran kredit dan pembiayaan, BTN turut andil dalam meningkatkan ketersediaan rumah. Berbagai aksi dilakukan, mulai dari menciptakan pengembang handal dan bisnis properti berkelanjutan lewat Housing Finance Center (HFC), hingga menyalurkan kredit konstruksi.

BTN pun tak hanya menyalurkan kredit untuk pemilikan rumah (KPR/house financing), tapi juga pinjaman untuk kebutuhan rumah tangga (home financing). Perseroan juga menyalurkan kredit pemilikan apartemen (KPA) dan kredit konsumsi lainnya.

Untuk meningkatkan penghimpunan dana, BTN membidik segmen emerging affluent. Kelompok masyarakat yang memiliki penghasilan berkisar Rp7 juta-Rp30 juta ini, dibidik perseroan sebagai sumber pendanaan sekaligus debitur pinjaman.

BTN juga berupaya menghimpun dana dari berbagai nasabah potensial dalam rantai bisnis di segmen usaha kecil dan menengah (UKM), komersial, dan korporasi.

Berbagai amunisi, ungkap Maryono, telah disiapkan emiten bersandi saham BBTN ini untuk dapat bersaing dan masuk ke posisi Top Five. Di antaranya, tahun ini perseroan melanjutkan proses transformasi digital yang telah digelar sejak 2015. BTN pun terus memoles kinerja bisnis, infrastruktur, dan sumber daya manusia (SDM) perseroan.

Dari segi bisnis, bank pelat merah itu juga meningkatkan produktivitas cabang serta mengoptimalkan sales service model. Dari sisi SDM, BBTN merampingkan struktur cabang, meningkatkan budaya risiko, serta menciptakan organisasi yang berfokus pada segmen nasabah. Kemudian, di sisi infrastruktur, perseroan memoles infrastruktur teknologi informasi (IT) yang solid, meningkatkan digitalisasi proses bisnis, serta mengintegrasikan governance, risk, and compliance (GRC) dengan four eyes principles.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
btn

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top