Melirik Potensi Besar Perempuan Pengusaha

Lima tahun lalu, Nunung Rukmini, seorang pengusaha mikro asal Bandung, dikunjungi oleh salah seorang staf PT BTPN Syariah. Pengusaha kaos sablon itu mendatkan tawaran pinjaman dana untuk mengembangkan usaha yang dirintis bersama suaminya tersebut. Setelah berdiskusi dengan suaminya, Nunung yang sebelumnya belum pernah mengajukan pembiayaan dari bank lain itu pun setuju mengambil pinjaman yang ditawarkan. Dua minggu setelah menyatakan setuju, dana pinjaman cair.
Farodlilah Muqoddam | 22 November 2017 22:13 WIB
BTPN Syariah. - lowongankerja1.info

Lima tahun lalu, Nunung Rukmini, seorang pengusaha mikro asal Bandung, dikunjungi oleh salah seorang staf PT BTPN Syariah. Pengusaha kaos sablon itu mendatkan tawaran pinjaman dana untuk mengembangkan usaha yang dirintis bersama suaminya tersebut.

Setelah berdiskusi dengan suaminya Ayib Syarifudin, Nunung yang sebelumnya belum pernah mengajukan pembiayaan dari bank lain itu pun setuju mengambil pinjaman yang ditawarkan. Dua minggu setelah menyatakan setuju, dana pinjaman cair.

Pasangan suami istri itu memutuskan mengambil tawaran dana pinjaman dari BTPN Syariah karena motivasi yang diberikan oleh staf pemasar yang menemuinya. Alasan lainnya, proses pengajuan pinjaman cukup sederhana.

“Kalau di tempat lain kan suka diminta jaminannya apa, kalau di sini enggak,” ujarnya saat ditemui di Bandung, pekan lalu.

Sebelum mencairkan dana pinjaman dari BTPN Syariah, Nunung dan Ayib mengaku tidak berani mengajukan pinjaman ke bank karena khawatir tidak sanggup memenuhi persyaratan yang ditetapkan bank dan tidak mampu menyelesaikan tanggungan cicilan.

Pengusaha kaos sablon yang merintis usaha dari bawah itu tidak mau mengecewakan pemberi pinjaman apabila tidak dapat memenuhi kewajiban akibat kondisi bisnis yang ketika itu belum stabil.

“Awalnya bisnis saya itu kan mengambil kaos-kaos dari produsen, jadi produk orang itu yang dijual. Lalu, ketika kesulitan membayar, saya minta menunda pembayaran terlebih dulu. Karena kepercayaan dari pihak bank, dan saya juga menjaga kepercayaan itu, semua berjalan lancar,” ujar Ayib.

Pada tahap awal, Nunung dan Ayib mendapatkan dana pinjaman senilai Rp2 juta, yang digunakan untuk mendukung operasional bisnis kecil mereka. Di tengah kondisi bisnis yang masih terjal, pinjaman itu akhirnya lunas dalam jangka waktu satu tahun.

Seiring perkembangan skala bisnis, fasilitas pembiayaan yang diberikan bank terus bertambah.

“Sekarang plafon pembiayaan kami di BTPN Syariah juga sudah naik menjadi Rp10 juta karena kami disiplin. Dengan begitu kami bisa terus mengembangkan bisnis ini,” Nunung menambahkan.

Saat ini bisnis kaos sablon yang dikelola Nunung dan Ayib telah semakin berkembang dan mampu mempekerjakan delapan orang pegawai. Mesin kerja terus ditambah untuk memenuhi permintaan pembeli.

Dari sisi produksi, bengkel kerja itu kini mampu menghasilkan sekitar 8.000 lembar kaos per bulan. Omset yang dikelola pun terus meningkat, saat ini berkisar antara Rp20 juta-Rp25 juta per bulan.

MIKRO

Nunung dengan usaha sablon kaos berskala mini di Bandung merupakan target pasar BTPN Syariah untuk segmen mikro.

Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawati mengatakan, perseroan memang fokus sepenuhnya pada segmen usaha mikro, terutama yang dijalankan oleh perempuan. Dengan menyasar segmen mikro lebih dalam, perseroan bisa menghindarkan para perempuan itu untuk mencari pinjaman dari tengkulak.

“Margin pembiayaan yang kami berikan kepada mereka kan tidak sebesar tengkulak. Jadi akan membantu para nasabah kami juga,” ujarnya.

Ratih menuturkan, anak usaha PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. tersebut menggunakan model bisnis mengelompokkan perempuan di sebuah wilayah untuk bisa menangkap pasar yang kerap disebut super mikro tersebut.

Perempuan pengusaha yang ingin mendapatkan pembiayaan dari BTPN Syariah harus melibatkan diri dalam satu kelompok yang sejenis. Ketika sudah memenuhi syarat, mereka dapat mengajukan pinjaman dengan plafon awal antara Rp1,5 juta hingga Rp5 juta, tergantung pada kebutuhan dan skala usaha.

Pembiayaan dalam jumlah kecil itu disalurkan tanpa perlu ada jaminan dari debitur. Sebagai gantinya, para debitur wajib menghadiri pertemuan yang rutin digelar oleh tim BTPN Syariah. Kehadiran debitur dalam agenda pertemuan rutin merupakan bagian dari pemantauan oleh bank kepada para nasabahnya.

Dalam pertemuan rutin setiap dua pekan tersebut, para debitur mendapatkan pendampingan dari pegawai bank mengenai pengelolaan usaha. Dalam beberapa kesempatan, diselipkan pula sesi motivasi dan berbagi pengalaman dalam menjalankan usaha. Di akhir pertemuan, biasanya seluruh anggota kelompok akan berdoa bersama, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar bisnis mereka berkajalan lancar sehingga dapat memenuhi kewajiban kepada bank.

Nunung, pengusaha kaos sablon dari Bandung, tergabung dalam satu kelompok yang terdiri atas 18 orang pengusaha mikro. Para perempuan itu menjalankan bisnis yang beragam, seperti memproduksi jajanan anak, mengelola warung nasi, hingga menjual peralatan elektronik. Jalur pemasaran yang digunakan pun sudah mulai merambah ke online.

Model pembiayaan mikro yang dilengkapi oleh pendampingan secara rutin ini, menurut Ekonom Core Indonesia Hendri Saparini merupakah salah satu strategi yang dapat ditempuh oleh bank maupun lembaga pembiayaan lainnnya untuk mengangkat potensi bisnis mikro.

Hingga saat ini, lanjut Hendri, sekitar 80% pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih memanfaatkan modal sendiri untuk mengembangkan bisnis. Selain kendala akses, faktor penghambat lainnya adalah minimnya pendampingan untuk mendorong kapasitas usaha.

“Dengan model pembiayaan seperti itu, usaha mikro di Indonesia bisa berkembang lebih cepat lagi,” ujarnya.

Model-model pembiayaan bisnis mikro memang harus terus dievaluasi agar benar-benar efektif menangkap peluang sekaligus memberikan efek domino untuk meningkatkan perekonomian.

Tag : BTPN Syariah
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top