Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Aviliani Peringatkan Risiko Pengetatan Likuiditas & Depresiasi Rupiah

Kondisi ketidakpastian geopolitik menjadi penyebab adanya perpindahan likuiditas yang cukup cepat. Ekonom Senior Indef Aviliani menuturkan perpindahan tersebut akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 12 Desember 2017  |  14:57 WIB
Aviliani Peringatkan Risiko Pengetatan Likuiditas & Depresiasi Rupiah
Ekonom Indef, Aviliani. - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kondisi ketidakpastian geopolitik menjadi penyebab adanya perpindahan likuiditas yang cukup cepat. Ekonom Senior Indef Aviliani menuturkan perpindahan tersebut akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

"Jadi gini, kita harus mewaspadai nilai tukar rupiah, yang paling kena dampak itu bukan hanya Indonesia tapi seluruh dunia karena hampir 50% orang yang punya uang itu [investasi] short-term. Jadi misalnya dia taruh uang di Indonesia sebentar lalu ke Jepang lalu pindah lagi . Nah yang seperti itu akan mempengaruhi mata uang," katanya di Grand Sahid, Selasa (12/12).

Oleh karena itu, Aviliani meminta agar di tengah ketidakpastian situasi geopolitik tersebut, pemerintah bisa menjaga pergerakan nilai tukar rupiah mengingat hal itu berdampak pada inflasi.

"Nah Bank Indonesia kalau kita lihat sekarang sudah mempersiapkan diri dengan berbagai kebijakannya untuk melihat fluktuasi ini. Saya rasa sekarang BI sudah banyak melakukan, makanya rupiah kita walaupun bergejolak tapi relatif enggak terlalu tinggi kan."

Sementara itu, Aviliani menilai kondisi perpindahan uang yang cukup cepat akan berlangsung paling tidak dalam dua dekade. Hal ini dikarenakan dua faktor, pertama menurunnya demand dunia 50% seiring dengan adanya krisis di AS dan EROPA.

"Untuk naik lagi ke 50% itu kan butuh dua dekade artinya bahwa kelahiran baru populasi baru jadi masih lama. Nah orang kenapa enggak mau investasi? Ini masalah demand side bukan supply side."

Aviliani menambahkan, oleh sebab itu, saat ini banyak negara yang membangun secara besar-besaran infrastruktur yang membuka lapangan kerja untuk menciptakan demand side. "Jadi saya rasa memang ketidakseimbangan di dunia ini masih terus terjadi."

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah
Editor : Fajar Sidik
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top