Likuditas Ekonomi Menurun, Dipicu Melambatnya Dana Pihak Ketiga

Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (biasa dirumuskan dengan M2) tercatat melambat pertumbuhannya pada Februari 2018.
Hadijah Alaydrus | 29 Maret 2018 17:56 WIB
Uang rupiah. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (biasa dirumuskan dengan M2) tercatat melambat pertumbuhannya pada Februari 2018.

Dari data yang dirilis BI, posisi M2 tercatat Rp5.351,2 triliun pada Februari 2018 atau tumbuh 8,3% dari Februari 2017 (year-on-year/yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan periode Januari 2018 yang tumbuh 8,4%.

"Perlambatan pertumbuhan M2 tersebut bersumber dari komponen uang kuasi yang memiliki pangsa 74,4% dari total uang beredar," tulis BI dalam Analisis Uang Beredar Februari 2018, yang dilansir hari ini Kamis (29/3/2018)

Komponen uang kuasi yang tumbuh 6,7% (yoy), melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,4% (yoy). Uang kuasi merupakan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan berupa simpanan berjangka dan tabungan baik rupiah dan valas, serta simpanan giro valuta asing.

Pada Februari, DPK perbankan memang tercatat melambat menjadi 8,2% (yoy) dari 8,5% (yoy) pada Januari 2018.

Namun demikian, pertumbuhan tahunan komponen M1 (uang beredar dalam arti sempit) meningkat sejalan dengan uang kartal dan giro yang tumbuh lebih tinggi dari sebelumnya.

Uang kartal meningkat dari 13,2% (yoy) pada Januari 2018 menjadi 14,9% pada Februari 2018.

"Peningkatan pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan kebutuhan kartal masyarakat pada saat perayaan imlek di pertengahan Februari 2018," tulis Bank Indonesia.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh melambatnya aktiva luar negeri bersih.

Aktiva luar negeri bersih pada Februari 2018 tumbuh melambat 13,6% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 17,5% (yoy).

Perlambatan aktiva luar negeri bersih ini tercermin dari perlambatan tagihan luar negeri, khususnya berupa instrumen surat berharga asing sejalan dengan penurunan cadangan devisa dan depresiasi nilai tukar sepanjang Februari 2018.

Perlambatan tagihan luar negeri tersebut diikuti pula dengan peningkatan kewajiban luar negeri berupa simpanan berjangka valas non residen serta pinjaman valas yang diterima oleh perbankan dari perbankan asing.

Untungnya, perlambatan M2 tertahan oleh ekspansi operasi pemerintah pusat. Ini tercermin dari meningkatnya pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 10,1% pada Februari 2018 atau naik dari 4,2% pada Januari 2018.

Tag : likuiditas
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top