Affluenza dan Gejala Konsumtif Kelas Menengah Milenial Indonesia

Kini, prediksi Hollywood tersebut menghantui kalangan kelas menengah milenial Indonesia pada 2020 mendatang. Seperti diungkapkan oleh berbagai studi bahwa pada 2020, Indonesia akan digerakan oleh para generasi millennial dengan perpaduan masyarakat kelas menengah dan juga masyarakat urban.
FX Iwan Independent Wealth Management Advisor | 05 April 2018 17:29 WIB
FX Iwan

Sejak awal 2000-an, Hollywood telah menggambarkan bahwa budaya konsumtif dapat menyebabkan adiksi yang merugikan. Bahkan dalam beberapa kasus budaya konsumtif ini bersifat menular.

Gambaran ini beberapa kali disajikan dalam berbagai film produksinya. Sebut saja Confession of Shopaholic, film besutan Hollywood tahun 2009 yang berhasil menyedot perhatian dunia.

Melalui film ini, Rebecca Bloomwood yang diperankan oleh Isla Fisher ‘menampar’ jutaan penonton bioskop yang memiliki kesamaan dengannya yaitu berhutang kartu kredit untuk meningkatkan gaya hidup.

Serupa tapi tak sama, pesan moral lainnya mengenai gaya hidup konsumtif diceritakan dalam film The Joneses. Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga mewah nan harmonis yang memancing orang-orang sekitar untuk membeli produk mewah yang mereka pamerkan.

Kini, prediksi Hollywood tersebut menghantui kalangan kelas menengah milenial Indonesia pada 2020 mendatang. Seperti diungkapkan oleh berbagai studi bahwa pada 2020, Indonesia akan digerakan oleh para generasi millennial dengan perpaduan masyarakat kelas menengah dan juga masyarakat urban.

The Boston Consulting Group (BCG) menyebutkan di tahun 2012 jumlah MAC (middle-class and affluent consumers) di Indonesia berjumlah 74 juta jiwa, dan diprediksi akan terus meningkat hingga 141 juta jiwa di tahun 2020 nanti.

Masyarakat kelas menengah dikenal selalu menjadi motor perubahan terutama terkait dengan aspek ekonomi dan perubahan sosial, dalam sejarah berbagai negara.

Lalu, bagaimana ‘affluenza’ dapat menghantui milenial Indonesia?

Kata ‘affluenza’ pertama kali muncul dalam sejarah pada salah satu artikel MAP di tahun 1908 muncul pada James Douglas yang berjudul “Things I Think About”.

Namun belakangan, istilah ini kembali muncul ke permukaan setelah pada 2013, seorang anak konglemerat kaya asal Texas, Amerika Serikat bernama Ethan Couch dengan arogannya telah menewaskan 4 orang karena ulahnya berkendara dalam keadaan mabuk.

Publik Amerika menjadi geram akan ulah anak ini, namun pengacara menyebutnya menderita affluenza yaitu penyimpangan perilaku akibat pola asuh yang penuh dengan kemewahan dan berbagai faktor eksternal lainnya seperti ‘gaya hidup mewah’.

Topik ini kembali menjadi pembicaraan hangat saat ini setelah Ethan Couch dibebaskan pada tanggal 2 April 2018 lalu setelah menjalani 2 tahun masa tahanan.

Setelah mendalami kasus ini, beberapa pendukung teori affluenza menetapkan bahwa orang-orang yang menderita affluenza memiliki pemikiran bahwa uang dapat membeli kebahagiaan, yang sering kali hal ini membuat mereka tidak dapat memaknai kekayaan yang dimiliki karena ‘usaha untuk terus menjadi kaya’ ini membuat mereka tidak pernah merasa puas.

Selain itu, mereka sering mengalami masalah dalam masyarakat normal mulai dari sulitnya membedakan antara benar dan salah hingga berkurangnya empati seiring meningkatnya arogansi.

Gejala inilah yang terdapat pada generasi milenial kelas menengah Indonesia bahkan diberbagai negara. Beberapa gejala affluenza diantaranya adalah perasaan depresi akan citra diri yang terkait langsung dengan status keuangan.

Salah satu yang paling familiar di antara generasi milenial kelas menengah ini adalah ‘perlombaan’ untuk meningkatkan citra diri melalui unduhan foto di sosial media.

Bila tren ini terus ada dikalangan milenial kelas menengah kita, maka hal ini dapat berdampak pada ignorannya mereka untuk berinvestasi. Berbagai asumsi bermunculan dari pola gaya hidup milenial, salah satunya adalah kemungkinan bahwa mereka sulit untuk memiliki rumah karena tingkat konsumsi yang berlebihan untuk sekedar meningkatkan citra diri. Oleh karena itu, penting bagi para wealth advisor untuk memiliki kemampuan psikologi pengelolaan kekayaan atau the psychology of wealth.

Walaupun psikologi pengelolaan kekayaan ini biasanya diberikan kepada orang tua yang ingin mewariskan kekayaan mereka kepada anak masing-masing, sehingga terjadi transfer emosional dari kekayaan yang akan diterima oleh sang anak, namun psikologi pengelolaan kekayaan harus dimiliki oleh setiap individu yang memilki penghasilan termasuk generasi milenial kelas menengah agar terhindar dari affluenza.

Selain generasi milenial kelas menengah melengkapi diri mereka dengan psikologi pengelolaan kekayaan untuk masa depan mereka, saya juga menyarankan bahwa setiap relationship officer dari institusi finansial juga memfasilitasi layanan wealth management yang diberikan kepada klien mereka dengan berlandaskan pada the psychology of wealth.

Beberapa hal yang harus diterapkan oleh generasi milenial kelas menengah dari The Psychology of Wealth agar terhindar dari affluenza menurut FX Iwan adalah sebagai berikut:

Tetapkan Batas Pengeluaran

Kebebasan Finansial (Financial Freedom) pada dasarnya adalah memiliki pendapatan pasif (passive income) yang terus mengalir tanpa dipengaruhi oleh kondisi pendapatan dari hasil bekerja seseorang. Ada dua variabel yang dapat di sesuaikan untuk mencapai kebebasan finansial yaitu:

1)    Meningkatkan pendapatan pasif

2)    Mengurangi pengeluaran

Menetapkan batasan pengeluaran adalah hal pertama yang harus dilakukan 1 hari sebelum menerima gaji di rekening kita. Setiap bulan, kita tentu memiliki pengeluaran tetap dan pengeluaran yang tidak terduga. Tetapkanlah batasan pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Layaknya membuat target, kurangilah pengeluaran tak terduga dan biaya hiburan secara bertahap di tiap bulannya. Untuk dapat mencapai kesuksesan dalam melakukan pengurangan yang telah kita capai, rekap semua tagihan untuk menjadi catatan evaluasi di bulan berikutnya.

Jangan Biasakan ‘Shortcut’

Banyak penelitian yang mengatakan bahwa milenial adalah generasi ‘impulse buying’ yang menyebabkan banyak dari mereka tidak dapat mengendalikan keinginan untuk menunggu waktu dalam mendapatkan sesuatu. Sehingga berhutang bisa dijadikan sebagai jalan pintas atau shortcut dibandingkan mengumpulkan uang. Hal dapat berdampak buruk manakala mereka mengalami ketidakmampuan dalam membayar hutang karena hutang adalah salah satu gejala yang paling yang paling banyak ditemui dari affluenza. 

Buat Smart Shopper

Dengan bantuan teknologi, berbagai aplikasi untuk mengatur keuangan telah banyak tersedia. Salah satunya adalah ragam aplikasi smart shopping. Jenis aplikasi ini mampu membantu pengguna dalam memaksimalkan kantong belanjaan sesuai dengan yang dibutuhkan.

Mulailah Berinvestasi – Walau dalam Jumlah Kecil

Seperti disampaikan diatas, kunci dari kebebasan finansial (financial freedom) adalah dengan memiliki pendapatan pasif yang salah satunya dapat dicapai melalui investasi

Bila tidak tahu harus memulai investasi karena terbatasnya pengetahuan, maka mulailah dengan menjadi investor konservatif dengan toleransi risiko rendah. Ini akan memberi alternatif cara untuk membuat uang berkembang, sementara itu kita dapat belajar lebih banyak tentang investasi.

Mintalah penasihat investasi yang ada di bank Anda untuk memberikan saran dalam proses pembelajaran ini. Walaupun dalam jumlah yang kecil, namun kita telah belajar untuk mengembangkan dana yang kita miliki agar lebih produktif.

Tag : wealth management
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top