Rupiah Masih Bergejolak, Dosis Kebijakan BI Dinilai Masih Kurang

Bisnis.com, JAKARTA - Tekanan eksternal yang terlalu kuat membuat dosis kebijakan Bank Indonesia yang ditandai dengan kenaikan 7DRR sebesar 25 basis poin kurang begitu manjur menstabilkan nilai tukar rupiah.
Edi Suwiknyo | 21 Mei 2018 17:44 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (kanan) didampingi Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara (kiri) bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (17/5/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Tekanan eksternal yang terlalu kuat membuat dosis kebijakan Bank Indonesia yang ditandai dengan kenaikan 7DRR sebesar 25 basis poin kurang begitu manjur menstabilkan nilai tukar rupiah.

Eric Alexander Sugandi, pengamat ekonomi Asia Development Bank (ADB) Institute, melihat kenaikan suku bunga BI dari 4,25% menjadi 4,5% sebenarnya sekadar memberikan sinyal kepada pasar bahwa otoritas moneter bisa mengambil langkah menaikan suku bunga.

"Kemarin naiknya sedikit, memang untuk menberikan sinyal mereka bisa menaikan suku bunga jika diperlukan," kata Eric, Senin (21/5/2018).

Menurutnya, saat ini BI harus terus melakukan intervensi ke pasar dengan terukur di pasa valas. Selain itu, sebagai langkah antisipatif, BI bisa kembali menaikan BI rate - nya sebesar 25 basis poin pada bulan depan untuk kembali melihat respons pasar.

Meski dibutuhkan intervensi dan kenaikan kembali 7DRR, bank sentral tetap harus bisa mengontrol supaya tidak naik terlalu banyak tahun ini. "Cukup 50-75 bps kalau memang mau naik lagi, istilahnya buying time sampai eksternal membaik," jelasnya.

Tag : bank indonesia
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top