Siap-Siaplah Bunga Naik Lagi

Setelah dua kali berturut-turut menaikkan tingkat suku bunga acuan, Bank Indonesia membuka peluang untuk kembali menyesuaikan BI 7-Days (Reverse) Repo Rate sebagai respons terhadap perkembangan ekonomi global.
Tim Bisnis Indonesia | 20 Juni 2018 12:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah dua kali berturut-turut menaikkan tingkat suku bunga acuan, Bank Indonesia membuka peluang untuk kembali menyesuaikan BI 7-Days (Reverse) Repo Rate sebagai respons terhadap perkembangan ekonomi global.

Proyeksi suku bunga menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu 20 Juni 2018. Berikut laporan selengkapnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bank sentral akan tetap menempuh kebijakan lanjutan dalam Rapat Dewan Gubernur pada 27-28 Juni guna menghadapi perkembangan baru dari bank sentral Amerika Serikat dan Eropa.

The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (13/6), telah menaikkan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 1,75% hingga 2,00% Kenaikan tersebut merupakan langkah kenaikan suku bunga kedua pada 2018.

Sementara itu, Kamis (14/6), The European Central Bank (ECB) memutuskan menahan tingkat suku bunga acuannya sebesar nol persen pada bulan ini. Adapun BI dalam sebulan terakhir telah menaikkan tingkat bunga BI 7-DRR sebesar 50 basis poin menjadi 4,75%.

Perry menyebutkan pihaknya berkomitmen dan fokus pada kebijakan jangka pendek dalam memperkuat stabilitas ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah. Ramuan kebijakan BI masih konsisten pada tiga hal, yakni pre-emptive, front loading, dan ahead the curve.

Menurut dia, kebijakan lanjutan tersebut dapat berupa kenaikan suku bunga yang disertai dengan relaksasi kebijakan loan to value (LTV) untuk mendorong sektor perumahan.

“Selain itu, kebijakan intervensi ganda, likuiditas longgar, dan komunikasi yang intensif tetap dilanjutkan,” kata Perry dalam pernyataan resminya yang dirilis Selasa, (19/6).

Dia juga menegaskan pihaknya bersama pemerintah dan lembaga terkait lainnya, akan terus mempererat koordinasi untuk memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Perry menegaskan bank sentral tetap meyakini ekonomi Indonesia, khususnya pasar aset keuangan, tetap kuat dan menarik bagi investor, termasuk investor asing.

"Dengan investasi yang terjaga, stabilitas ekonomi juga diharapkan tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat," kata Perry.

Sebelumnya BI melihat probabilitas kenaikan Fed Fund Rate tambahan pada Desember telah mencapai lebih dari 50%.

Menurut Perry,bank sentral harus melakukan langkah antisipatif jika probabilitasnya meningkat hingga empat kali dari semula tiga kali pada tahun ini.

“Jangan tunggu kenaikannya baru merespons. Jika Anda hidup di bawah ketidakpastian, jangan tunggu ketidakpastian datang. Anda harus melakukan antisipasi!” tegas Perry, pekan lalu.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan pengetatan suku bunga acuan yang berlanjut, merupakan respons terhadap kenaikan FFR. Pasalnya, nilai tukar di pasar non-deliverable forward (NDF) sudah menyentuh kisaran level Rp14.100 per dolar AS.

Hal itu, mengindikasikan bahwa pergerakan rupiah pasca Libur panjang akan sangat berat. “BI akan menaikkan suku bunganya untuk menstabilkan rupiah,” tegas Lana, Selasa (19/6).

Mengacu pada 'tiga ramuan BI', Lana memperkirakan BI menaikkan suku bunga hingga lima kali untuk mengimbangi kebijakan kenaikan suku bunga Fed yang akan meningkat sebanyak empat kali tahun ini.

Namun, dia memandang respons BI tidak harus selalu dengan kenaikan suku bunga acuan. Baginya, BI hanya perlu mengatur strategi intervensinya.

Lana mencontohkan pada Agustus biasanya kebutuhan dolar AS di pasar dalam negeri tidak besar, saat itu BI harus bisa memanfaatkannya untuk membawa nilai tukar ke level Rp13.500 per dolar AS

Dampaknya, bank sentral tidak perlu menaikkan suku bunga acuannya ketika the Fed melakukan penyesuaian FFR pada September mendatang.

Namun, Lana juga mengingatkan agar bank sentral tidak terlalu keras dalam memberikan 'obat' kebijakannya karena hal ini akan berdampak pada investasi di sektor riil. Jika suku bunga acuan mendorong kenaikan suku bunga kredit, dampaknya perusahaan bisa ragu-ragu untuk berinvestasi di sektor riil.

Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah melihat BI tidak akan ragu menaikkan suku bunga apabila pasar bergejolak setelah libur panjang ini. Dia memperkirakan BI melakukan penyesuaian sebanyak dua kali untuk merespons langkah bank sentral AS tersebut.

“Suku bunga acuan diperkirakan akan berada di level 5,5% pada akhir 2018,” tegas Piter.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bank-bank akan beradaptasi dengan kebijakan bank sentral. “Kalau pasar dan BI merestui bunga naik artinya kami harus merespons dengan juga menaikkan bunga deposito agar sesuai dengan kebijakan bunga BI tersebut. Ini agar rupiah tetap menarik,” ucapnya, Selasa (19/6).

Budi Satria, Direktur Konsumer PT Bank Tabungan Negara Tbk. mengatakan suku bunga simpanan tentu disesuaikan guna menjaga portofolio dana pihak ketiga.

“Kami akan lihat dulu respons BI dan situasi di market, karena sebetulnya buat perbankan menaikkan suku bunga itu opsi yang paling dihindari,” ujar Budi.

Sementara itu di pasar saham, I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa liburan yang cukup panjang pada bulan ini memang cukup berisiko bagi investor di Indonesia, sebab mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika terjadi gejolak eksternal yang berpotensi merugikan pasar domestik.

“Kita tidak tahu pas opening setelah liburan market kita langsung ke posisi berapa karena responsnya lama. Cuma kita lihat semoga ini udah diantisipasi pelaku pasar. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia kemarin juga kira-kira untuk antisipasi ini,” katanya.

Dirinya berharap dalam kondisi ketidakpastian ini, Bank Indonesia dapat menggulirkan bauran kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Tag : Suku Bunga
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top