EDUKASI DUIT: Memahami Konsep Kekayaan

Konsep kekayaan itu memang tidak mudah dipahami. Orang umum taunya, kaya itu bisa membeli apa saja. Bisa memiliki semua yang kita inginkan. Uang berlimpah, harta menumpuk.
News Writer | 21 Juni 2018 16:56 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Konsep kekayaan itu memang tidak mudah dipahami. Orang umum taunya, kaya itu bisa membeli apa saja. Bisa memiliki semua yang kita inginkan. Uang berlimpah, harta menumpuk.

Konsep kekayaan mainstream, begitu saya menyebutnya. Mengapa pola pikir mainstream kesulitan memahami konsep kekayaan? 

Prinsip dasar mainstream adalah everyone is equal,  artinya mengejar kompak mayoritas,  dan popularitas.  Mengejar crowd kerumunan.

Coba lihat di antara masyarakat sangat cepat mengejar popularitas dan solidaritas. Tapi kenapa popularitas kok bertentangan dengan konsep kekayaan?

Katakan ada kelompok 10 orang,  masyarakat mengejar mayoritas,  kemungkinan ada 8 di antaranya mereka saling solidaritas. Tetapi kenapa kalah? 

Pola pikir antimainstream mengejar kolaborasi.  Dari kelompok 10 orang tidak mengejar mayoritas tapi berkolaborasi dengan yang terkuat.  Mereka menggalang kekuatan. 

Dengan berkolaborasi dengan yang terkuat,  maka mayoritas terbelah pro dan kontra.  Mirip dengan seluruh Indonesia terbelah dua kelompok besar.  Old money antimainstream merangkul hanya separuh saja. 

Oleh karena itu jalur perdagangan tidak dikuasai mayoritas tapi dikuasai oleh kolaborasi dengan pihak terkuat.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri "Money Intelligent" dan buku “New Money”

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top