Lembaga Keuangan Syariah Harus Jangkau Semua Kalangan

Bisnis.com, JAKARTAOtoritas Jasa Keuangan atau OJK menyatakan bahwa pihaknya terus mengupayakan agar kehadiran lembaga keuangan syariah dapat menjangkau semua kalangan.
Dini Hariyanti | 25 Juli 2018 18:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengupayakan agar kehadiran lembaga keuangan syariah dapat menjangkau semua kalangan.

Penasihat Komite Strategis dan Pusat Riset OJK Achmad Buchori menuturkan, otoritas berupaya agar lembaga keuangan syariah yang ada saat ini bisa memfasilitasi tidak hanya pelaku bisnis berskala mikro tetapi juga mereka yang lebih mapan.

“Porsi keuangan syariah yang sudah dimanfaatkan masih kecil. Kami ingin mencoba supaya lembaga keuangan syariah bisa layani dari taraf mikro sampai yang besar-besar,” tuturnya, Rabu (25/7/2018).

Oleh karena itu, OJK tak hanya mendorong perbaikan kualitas perbankan syariah. Lebih dari itu, otoritas juga terus mengembangkan lembaga keuangan syariah yang bergerak pada level mikro bekerja sama dengan berbagai pondok pesantren.

Sebagai contoh, hadir bank wakaf mikro yang notabene lembaga keuangan mikro syariah. LKMS ini tidak hanya menjangkau ponpes di Pulau Jawa, melainkan pula di luar Jawa. Sejauh ini, terdapat 26 ponpes yang diajak kerja sama dan ditargetkan dalam waktu dekat setidaknya bisa merangkul 40 ponpes.

Penyediaan akses pendanaan dari LKMS bertujuan untuk memfasilitasi pengusaha skala mikro. Kepada mereka yang bisnisnya berskala kecil dan menengah, diharapkan bisa difasilitasi BPR Syariah. Sementara itu, dukungan pendanaan bagi pelaku bisnis yang lebih besar dapat difasilitasi oleh bank umum.

Bedasarkan catatan Bisnis, secara keseluruhan sampai dengan April tahun ini, pangsa pasar industri keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp1.118 triliun atau setara 8,22% dari total aset industri keuangan yang ada.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Edy Setiadi sempat mengatakan, pemberi kontribusi paling besar terhadap porsi itu adalah sukuk atau surat berharga syariah negara ritel yang berkontribusi sekitar 14%.

“Yang paling besar dari sukuk sehingga memberikan pangsa sekitar 14 %, perbankan sendiri 5,72%, institusi keuangan non bank [IKNB] juga banyak didukung oleh asuransi, penopangnya masih oleh industri syariah,” kata dia.

Dia menuturkan, potensi pertumbuhan porsi keuangan syariah masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan tingginya potensi wisatawan muslim yang berkunjung ke Indonesia. Dalam dua tahun mendatang, diperkirakan ada 220 juta wisatawan muslim ke Tanah Air.

“Dari Global Muslim Index kita berada di peringkat ke-2 dengan 131 juta wisatawan muslim yang datang ke negara kita. Diperkirakan pada 2020 nanti, akan ada 220 juta wisatawan, artinya ini bisa menjadi pangsa pasar bagi keuangan syariah ke depannya,” katanya.

Peranan teknologi digital dan kerja sama dengan perusahaan teknologi finansial akan berandil besar dalam perkembangan keuangan syariah. Pasalnya, era industri 4.0 menuntut para pelaku industri, termasuk industri keuangan syariah, untuk menghadirkan inovasi berbasis teknologi yang lebih efisien.

Tag : keuangan syariah
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top