Kesehatan Dianggap Investasi, Tetapi Orang Ogah Keluar Duit untuk Olahraga

Survei Healthy Living Index 2018 yang melibatkan 11.000 responden berusia di atas 18 tahun dari 16 negara, termasuk Indonesia, menemukan bahwa hanya 5% orang yang mengalokasikan dananya untuk olahraga, sedangkan 50% untuk membeli makanan sehat, dan 30% untuk tes kesehatan.
Asteria Desi Kartika Sari | 15 Desember 2018 00:09 WIB
Gym - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Berbagai variasi tren olahraga baru yang berkembang untuk meningkatkan gaya hidup sehat. Namun, tren itu tidak berbanding lurus dengan kebiasaan masyarakat dalam melakukan aktivitas fisik dan olahraga. Hal tersebut tercatat dalam riset AIA Healthy Living Index 2018.

Adagium lebih baik mencegah daripada mengobati masih relevan hingga kini, sebab kesehatan itu mahal harganya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sama saja dengan berinvestasi, walaupun tak menghasilkan uang. Namun, dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih berharga daripada investasi dana.

Namun, survei Healthy Living Index 2018 yang melibatkan 11.000 responden berusia di atas 18 tahun dari 16 negara, termasuk Indonesia, menemukan bahwa hanya 5% orang yang mengalokasikan dananya untuk olahraga, sedangkan 50% untuk membeli makanan sehat, dan 30% untuk tes kesehatan.

“Banyak masyarakat masih belum berani investasi mengeluarkan biaya untuk olahraga,” kata Head of Brand and Communication PT AIA Financial Kathryn Monika Parapak.

Dia melanjutkan terdapat dua alasan utama orang-orang yang tidak rutin berolahraga yakni waktu dan biaya. Berdasarkan hasil survei, sebesar 90% orang menilai berolahraga membutuhkan waktu yang lebih banyak, sedangkan sisanya menilai membutuhkan biaya yang cukup banyak.

Selain itu, lanjut Kathryn, baru sekitar 3% masyarakat Indonesia yang menggunakannya untuk memantau kebiasaan berolahraga. Alasannya, perangkat activity tracker yang dianggap terlalu mahal, yakni sebesar 54%.

“Mereka beralasan terlalu mahal, butuh usaha, dianggap tidak mempengaruhi kesehatan, susah dilakukan bersama keluarga, atau merasa tujuan kesehatan sudah tercapai,” ujarnya.

Salah contoh, jejaring gym paling populer di Indonesia Celebrity Fitnes mematok biaya Rp2,1 juta pada pendaftaran pertama, sedangkan biaya per bulannya Rp579.000. Perincian biaya pendaftaran yang dimaksud termasuk biaya admin Rp300.000 biaya wajib untuk pelatih Rp600.000, biaya bulan pertama Rp579.000, dan biaya bulan ke-12 sebesar Rp579.000.

Padahal, menurut instruktur zumba dan pemilik Sana Studio Laila Munaf, olahraga saat ini begitu mudah untuk dilakukan. Berbagai sarana olahraga bermunculan tidak hanya di kota besar.

“Akses informasi yang luas juga memudahkan masyarakat untuk mencari berbagai informasi seputar olahraga sehingga olahraga di rumah pun dapat menjadi efektif,” kata Laila.

Dia mengatakan salah satu cara untuk bisa berkomitmen rutin berolahraga adalah dengan memilih olahraga yang disukai. “Kalau merasa belum komitmen ke satu studio atau gym, coba saja dulu. Kan, ada sarana-sarana yang [bayar] per kedatangan,” ujar Laila.

Selain itu, yang perlu dilakukan adalah mengubah mindset. Banyak orang yang beranggapan olahraga hanya ketika ingin menaikkan atau menurunkan berat badan. Namun, ketika target berat badan mereka sudah tercapai, motivasi untuk berolahraga menjadi berkurang kembali. “Padahal hidup sehat kan seharusnya seumur hidup. Semua harus dari mindset,” katanya.

Laila menambahkan, ada beberapa gerakan olahraga sederhana yang bisa dilakukan bahkan dengan ruang yang sempit. Misalnya, untuk olahraga di kantor, gerakan yang dapat dilakukan adalah squat, lunge dan push up. “Olahraga itu selain sehat juga jadi mood booster,” katanya.

Lebih lanjut, gaya hidup yang tidak sehat terutama pola makan menjadi salah satu alasan mengapa kepuasan masyarakat akan kesehatan menurun, seperti yang diungkapkan dalam survei AIA Healthy Living Index 2018.

Hal tersebut juga sejalan dengan temuan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018. Dokter spesialis gizi Raissa E. Djuanda mengatakan karena gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat berbanding lurus dengan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular.

“Mengadopsi pola makan sehat tidak sesulit yang dibayangkan. Sebagai langkah awal, perbanyak konsumsi sayur dan buah serta membatasi konsumsi makanan kemasan,” katanya.

Dia mengatakan asupan total lemak sebaiknya tidak melebihi 30% dari total asupan energi konsumsi sayur dan buah yaitu setidaknya 400 gram per hari.

“Selain itu, masyarakat disarankan untuk menjaga porsi saat mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Dengan diet yang seimbang dan rutin berolahraga dapat membantu mengurangi risiko obesitas, kanker, jantung, diabetes dan penyakit tidak menular lain,” jelasnya.

DAMPAK FINANSIAL

AIA Healthy Living Index 2018 juga  menyebutkan penyakit yang dianggap akan menimbulkan dampak finansial yang serius adalah kanker yaitu sebesar 53%, penyakit jantung 47% dan diabetes 31%.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Pondok Indah Puri Indah Johan Winata mengingatkan semakin banyak penyakit kardiovaskuler, strok, dan kanker yang dialami masyarakat. Biaya yang harus ditanggung untuk menangani penyakit tersebut juga semakin mahal.

Salah satu contoh, katanya, biaya yang harus dikeluarkan untuk memasang satu ring guna melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat pada jantung sebesar Rp80 juta–Rp150 juta.

Dokter sekaligus konsultan kardiologi itu mengatakan tidak jarang pasien dengan jantung koroner membutuhkan lebih dari satu ring untuk membuka penyumbatan area pembuluh darah.

Apabila ring yang dipasang lebih dari satu, maka biaya yang harus dibayarkan bisa berkali lipat, kurang lebih mencapai Rp250 juta.

Untuk pengobatan kanker, kurang lebih biaya yang harus disiapkan sebesar Rp20-30 juta untuk satu kali kemoterapi. Sementara untuk pengobatan maksimal, kemoterapi harus dilakukan berkali-kali, bahkan bisa mencapai 18 kali. Alhasil, biaya yang harus dibayarkan kurang lebih bisa mencapai Rp500 juta. Jadi lebih baik membayar mahal untuk olahraga atau mahal untuk pengobatan?

Tag : investasi, kesehatan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top