Holding Asuransi BUMN, antara Capital Outflow dan Profesionalisme Pengelolaan

Pembentukan Holding asuransi BUMN dinilai sebagai langkah tepat dalam memajukan industri perasuransian. Holding asuransi dinilai bisa mengurangi capital outflow.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 09 Februari 2019  |  17:09 WIB
Holding Asuransi BUMN, antara Capital Outflow dan Profesionalisme Pengelolaan
Holding Asuransi BUMN, antara Capital Outflow dan Profesionalisme Pengelolaan

Bisnis.com, JAKARTA - Pembentukan Holding asuransi BUMN dinilai sebagai langkah tepat dalam memajukan industri perasuransian. Holding asuransi dinilai bisa mengurangi capital outflow.

Sebelumnya,  Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan pembentukan perusahaan induk atau holding BUMN asuransi rampung pada Maret 2019

Menteri BUMN Rini Soemarno, menyampaikan, holding BUMN asuransi akan dibentuk setelah holding BUMN Infrastruktur dan holding BUMN Perumahan dan Penataan Kawasan selesai. 

Adapun tujuan dari pembentukan holding ini, lanjut Rini, untuk menurunkan biaya operasional sekaligus efisiensi. Di samping itu, melalui konsolidasi, aset-aset perusahaan asuransi milik negara itu akan semakin kuat, sehingga nantinya BUMN tidak lagi harus meminta Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada pemerintah. 

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai adanya holding asuransi BUMN diyakini dapat mengurangi penempatan dana di luar negri atau capital outflow dalam perasuransian.

Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudyar Dalimunthe mengatakan tingginya capital outflow disebabkan  retensi dalam negeri masih sedikit untuk asuransi sementara risiko yang harus dilindungi cukup besar, sehingga beberapa produk asuransi seperti asuransi migas, asuransi satelit, dan asuransi kapal laut, terpaksa diasuransikan kembali  ke luar negeri oleh perusahaan asuransi.

Sayangnya Dody tidak memiliki data mengenai nilai capital outflow di perasuransian umum.

Untuk mengurangi capital outflow, lanjut Dody, awalnya beberapa perusahaan asuransi dalam negeri diminta untuk meningkatkan modal agar dapat menyerap risiko lebih besar.

Dody menerangkan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang mengatur peningkatan  modal perusahaan dari Rp100 miliar menjadi Rp150 miliar.

Adapun untuk perusahaan asuransi BUMN, skema awal untuk mengurangi capital outflow dilakukan lewat penyertaan modal negara (PNM), namun sayangnya PNM dihapus karena dinilai menghabiskan APBN.

“Akhirnya dengan melakukan holding, dan holding itu akan menyuntikan modal, siapa yang bisa menyuntik modal? Di antara perusahaan asuransi pemerintah yang memiliki modal paling besar adalah Jasa Raharja,” kata Dody kepada Bisnis.

Dody meyakini holding asuransi BUMN dapat meningkatkan retensi dalam negeri sehingga mencegah capital outflow. Namun, tantangan yang harus dihadapi sejumlah perusahaan yang tergabung dalam holding asuransi adalah mengelola holding secara profesional.

Dia mengatakan profesionalisme pengelolaan harus setara dengan sejumlah perusahaan asuransi regional dan joint venture dalam mengelola sumber daya manusia, pengembangan digital, dan revolusi industri.

 “Tantangannya adalah dengan modal yang sudah  naik, holding asuransi BUMN harus bisa lebih profesional dalam mengelola setara dengan pemain regional dan internasional,” kata Dody.

Di luar itu, Dody belum dapat memberi banyak tanggapan dikarenakan proyek ini belum terlaksana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi, capital outflow

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top