Kolaborasi Kunci Utama Bagi Insurtech

Bisnis.com, JAKARTA -- Kolaborasi menjadi tren utama bagi perkembangan insurtech di dunia. Menurut penelitian McKinsey, lebih dari US$10 miliar telah diinvestasikan ke dalam insurtech sejak 2012. Investasi semakin marak dalam beberapa tahun terakhir.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  20:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Kolaborasi menjadi tren utama bagi perkembangan insurtech di dunia. Menurut penelitian McKinsey, lebih dari US$10 miliar telah diinvestasikan ke dalam insurtech sejak 2012. Investasi semakin marak dalam beberapa tahun terakhir.

Simon Kaesler, peneliti Mc Kinsey mengatakan diversifikasi, profesionalisasi, dan kolaborasi dinilai menjadi tiga latar belakang utama perkembangan insurtech di dunia.

Perusahaan asuransi harus memperhatikan dengan cermat perusahaan asuransi — bukan karena mereka akan menyerang, tetapi karena mereka datang untuk bekerja sama. Untuk perusahaan asuransi yang mapan, perusahaan insurtech dapat menjadi penyedia asuransi digital yang mendorong adopsi teknologi digital di sepanjang rantai nilai. Untuk menyadari potensi, penting bagi kedua belah pihak untuk fokus pada kekuatan yang mereka bawa ke meja.

Pada awalnya, perusahaan asuransi berfokus terutama pada lini property and casualty (P&C) atau asuransi properti dan mobil, serta distribusi.

Namun sekarang, teknologi digital berperan dalam banyak bidang lainnya. Diversifikasi menyoroti fakta bahwa perusahaan asuransi saat ini menciptakan solusi digital di sepanjang rantai nilai bisnis serta di semua lini bisnis. Ini memungkinkan lebih banyak jalan untuk integrasi ke dalam model bisnis yang ada.

Tren kedua, profesionalisasi. Untuk bertahan di pasar asuransi yang sangat kompleks, perusahaan asuransi harus tetap mengikuti aturan dan peraturan baru. Inovasi didorong oleh perusahaan yang mau mengambil risiko besar, tetapi juga membutuhkan kesabaran, perencanaan yang cermat, dan strategi masuk ke pasar yang solid.

Yang mengarah ke tren ketiga adalah kolaborasi. Saat ini, kurang dari 10% perusahaan insurtech cenderung mendisrupsi model bisnis asuransi, sedangkan hampir dua pertiga lebih memilih untuk fokus mengambil di pasar yang lebih segmented dan bemitra dengan asuransi yang sudah mapan.

Menurutnya, tantangan bukan lagi perusahaan asuransi versus perusahaan asuransi tradisional, tetapi bagaimana keduanya dapat bekerja sama untuk menciptakan nilai nyata bagi pelanggan.

"Seperti apa model kolaborasi yang menang masih harus dilihat, tetapi jelas itu akan membutuhkan kombinasi kekuatan tradisional dari perusahaan asuransi yang mapan dan keterampilan baru yang dibawa oleh perusahaan insurtech," katanya seperti dikutip dari siaran pers, Rabu (12/6).

Banyak pemain asuransi tradisional mendapat manfaat dari positioning yang sudah terbangun lama. Basis pelanggan yang sudah ada dan loyal ini juga telah menghasilkan volume data yang sangat besar yang menawarkan potensi untuk membentuk strategi dan keterlibatan konsumen.

Tim yang kuat dari karyawan yang berpengalaman dan terampil memberikan landasan operasional yang kuat kepada petahana. Selain itu, ukuran operator lama memberi mereka keamanan finansial untuk memasuki pasar baru, membuat taruhan strategis, dan mendukung peluncuran produk baru dan layanan yang ditingkatkan.

Sementara itu, insurtech sering kali dimulai dengan model bisnis sederhana dan area fokus bisnis yang sempit seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau machine learning.

Selain itu, banyak perusahaan insurtech telah memiliki kemampuan analitik data. Mereka adalah organisasi digital dengan kemampuan untuk merespons peluang pasar lebih cepat daripada perusahaan asuransi global.

Dengan demikian, mereka lebih cenderung mengutamakan kecepatan yang mengejar dan menghargai inovasi, serta pola pikir yang menempatkan mereka di garis depan perubahan dalam industri. Sangat mudah untuk melihat sifat komplementer dari pemain lama dan perusahaan insurtech.

"Tantangannya adalah menemukan sweet spot, yaitu tempat kolaborasi paling sukses dan kemudian mengimplementasikannya. Ini perubahan pemikiran, tetapi ada cara untuk membuat kolaborasi lebih mudah," ujarnya.

Asuransi tradisional yang bekerja dengan platform terbuka, misalnya, memfasilitasi integrasi solusi digital baru melalui application programming interface (API), yang ditawarkan oleh banyak perusahaan asuransi.

Model industri masa depan akan dibentuk secara luas oleh kemitraan di mana pemain konvensional mempertahankan posisi pasarnya, sedangkan perusahaan insurtech bertindak sebagai penyedia asuransi digital yang mendorong adopsi teknologi untuk membantu memajukan transformasi digital. Pemain yang menyadari potensi digitalisasi lebih dini kemungkinan akan mendapat manfaat lebih lanjut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top