Keinginan Beli Rumah Turun, KPR Menengah Atas Kena Imbas

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, presentase responden yang berencana menempatkan pendapatannya dalam bentuk properti menurun dari 24,0 persen menjadi 21,6 persen dalam 12 bulan mendatang (Juni 2019 - Mei 2020).
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  22:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Laju kredit pemilikan rumah (KPR) khususnya untuk segmen menengah ke atas dinilai akan melambat sejalan dengan turunnya minat masyarakat untuk membeli rumah.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, presentase responden yang berencana menempatkan pendapatannya dalam bentuk properti menurun dari 24,0 persen menjadi 21,6 persen dalam 12 bulan mendatang (Juni 2019 - Mei 2020).

Sementara, jumlah responden yang sangat mungkin membeli rumah dalam 12 bulan mendatang per Juni turun dibandingkan dengan Mei, dari 7,5 persen menjadi 6,7 persen.

Begitu juga dengan yang menyatakan kemungkinan membeli turun dari 28,2 persen jadi 28,2 persen pada periode yang sama.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan konsumen khususnya kelas menengah atas  masih ragu untuk belanja properti.

"IKK [indeks keyakinan konsumen] turun justru di saat Hari Raya, khususnya kelas menengah atas, uangnya ada tapi belanja di tahan dulu," katanya kepada Bisnis, Senin (8/7/2019).

Bhima menilai, faktor lainnya adalah karena instabilitas politik dalam negeri, penurunan harga komoditas ekspor yang berdampak ke pendapatan masyarakat, dan serapan tenaga kerja yang rendah di sektor manufaktur.

Sehingga, menurut Bhima, IKK yang menurun akan berimbas pada laju kredit pemilikan rumah (KPR), utamanya pada KPR segmen menengah ke atas dengan harga properti di atas Rp1 miliar. 

Dengan demikian, yang menjadi masalah utama adalah 20 persen kelompok masyarakat dengan pengeluaran terbesar cenderung menahan diri untuk berinvestasi.

Selain itu, Bhima menyatakan bahwa masyarakat lebih memilih menempatkan dana di aset yang aman. Dalam survey BI disebutkan produk perbankan seperti tabungan dan deposito masih menjadi preferensi utama penempatan kelebihan pendapatan responden, diikuti properti dan investasi dalam bentuk emas/perhiasan.

Sementara, pada segmen menengah kebawah, Bhima menilai pasar KPR untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih solid. Jadi arah KPR ke depan akan ditunjang oleh hunian kelas menengah bawah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, kpr

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top