Pendapatan Komisi Bank Tumbuh Subur

Perbankan masih mengejar target pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) hingga akhir tahun 2019.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  02:26 WIB
Pendapatan Komisi Bank Tumbuh Subur
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.

Bisnis.com, JAKARTA - Perbankan masih mengejar target pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) hingga akhir tahun 2019.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatat FBI sebesar Rp8,1 triliun atau tumbuh 11,1% pada kuartal III/2019 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018.

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Herry Sidharta pertumbuhan FBI perseroan ditopang oleh recurring fee yang tumbuh 15,1% secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Fee based yang bersumber dari transactional banking seperti fee dari kredit sindikasi, bank garansi, dan trade finance maupun fee yang berasal dari transaksi yang bersifat consumer banking seperti card business, ATM, dan remitansi mampu menunjukkan pertumbuhan yang tinggi dibandingkan tahun lalu," tutur Herry kepada Bisnis, Senin (2/112/2019).

Herry menyampaikan, di samping itu pendapatan yang berasal dari transaksi trading seperti capital gain dari marketable securities juga turut menopang pertumbuahn FBI perseroan.

Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Ario Bimo menimpali, hingga akhir tahun 2019, FBI perseroan ditargetkan tumbuh double digit, yaitu pada kisaran 12%-14%.

Dalam memacu pertumbuhan FBI, perseroan akan menerapkan strategi peningkatan layanan perbankan terutama yang berbasis digital untuk meningkatkan volume transaksi menggunakan channel BNI.

Di samping itu, perseroan akan menggenjot potensi layanan transactional banking dari debitur eksisting serta layanan wealth management untuk nasabah-nasabah prioritas.

Head of Corporate Secretary Division Bank BJB Muhammad Asadi Budiman mengatakan FBI perseroan hingga Oktober 2019 tercatat sebesar Rp795 miliar, tumbuh 2% yoy.

"Kami harapkan FBI sampai dengan akhir tahun ini dapat menyentuh angka Rp1 triliun," katanya.

Asadi menyoroti, perkembangan teknologi tidak dapat dihindari industri perbankan, termasuk hadirnya perusahaan teknologi finansial (tekfin). Menurutnya, bank perlu berkolaborasi menciptakan ekosistem bersama, sehingga bukan kompetisi namun kolaborasi yang tercipta.

Menurut Asadi, ke depan tentunya bank harus dapat mengadopsi dan bertransformasi seiring dengan perkembangan teknologi, gaya hidup masyarakat, dan juga karakteristik nasabah yg sudah bergeser pada channel-channel digital saat ini.

"Kami menyadari pola konsumsi masyarakat yg telah bergeser pada belanja online, mengisi saldo dompet digital mereka dan berinteraksi dalam social media. Pengembangan fitur, channel dan infrastruktur teknologi kami pun telah mempertimbangkan hal tersebut agar dapat menghasilkan FBI yang lebih baik," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top