Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analis Ingatkan Kriteria Bank Disukai Konsumen

Pemangkasan biaya transaksi perbankkan akan meningkatkan keinginan masyarakat untuk menggunakan layanan digital.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  19:13 WIB
Direktur Utama Artajasa Bayu Hanantasena (dari kiri) berbincang dengan CEO Citibank Batara Sianturi, Staf ahli Menteri Kominfo Henri Subiakto, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira dan Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Fahmi Achmad berbincang di sela-sela seminar nasional bertema Peran Transaksi Elektronis Terhadap Perekonomian Indonesia di Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Direktur Utama Artajasa Bayu Hanantasena (dari kiri) berbincang dengan CEO Citibank Batara Sianturi, Staf ahli Menteri Kominfo Henri Subiakto, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira dan Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Fahmi Achmad berbincang di sela-sela seminar nasional bertema Peran Transaksi Elektronis Terhadap Perekonomian Indonesia di Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Industri perbankan masih memiliki ruang memangkas biaya transaksi seperti biaya transfer untuk meningkatkan keinginan masyarakat bertransaksi dalam jaringan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai biaya transaksi di perbankan harus ditekan serendah mungkin. Menurutnya, industri perbankan memang tengah menikmati mengembangnua pendapatan dari komisi dari transaksi. Model bisnis ini diyakini tidak akan bertahan lama karena ke depan bank yang akan disukai nasabah adalah mereka yang mampu memberikan biaya paling kompetitif.

"Mungkin tidak sampai nol Rupiah. Ini jangan dilihat dari sisi pendapatan yang berkurang, melainkan nantinya konsumen bank akan menjadi loyal. Sehingga dapat diarahkan menggunakan layanan bank lainnya, misalnya kredit konsumer, kartu kredit, hingga KPR," katanya, Selasa (11/2/2020).

Bhima menilai pengurangan biaya transaksi sangat mungkin dilakukan karena perusahaan switching juga tidak pengambil porsi yang besar dari transaksi tersebut.

"Bank harus inovatif, menciptakan pendapatan yang sehat, harus punya produk lainnya sehingga tidak hanya dari satu sumber dari fee hanya transaksi," jelasnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, transaksi menggunakan kartu ATM dan ATM+debet tercatat tumbuh melambat. Volume transaksi pada 2019 tercatat tumbuh 9,67 persen yoy, melambat dari 2018 yang tercatat 12,54 persen yoy.

Jika ditelisik lebih jauh, transaksi intrabank dan antarbank menjadi kontributor perlambatan tersebut. Pada 2018, pertumbuhan volume transaksi transfer intrabank sebesar 12,34 persen yoy dan transfer antarbank 18,57 persen yoy.

Sementara pada 2019, volume transaksi transfer intrabank tumbuh mini sebesar 2,72 persen yoy dan transfer antarbank 4,64 persen yoy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top