Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pekan I April 2020, Begini Perkembangan Indikator Stabilitas Rupiah

Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, BI menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 03 April 2020  |  15:41 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan pers melalui video streaming di Jakarta, Kamis (2/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan pers melalui video streaming di Jakarta, Kamis (2/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, BI menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah secara periodik. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi.

“BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” demikian disampaikan BI dalam keterangan resmi, Jumat (3/4/2020).

Dalam rilis perkembangan indikator stabilitas tersebut, nilai tukar rupiah dilaporkan dibuka menguat di level Rp16.450 per dolar AS pada Jumat (3/4) pagi. Adapun pada hari sebelumnya, nilai rupiah ditutup melemah pada Kamis (3/4/2020) di level Rp16.470 per dolar AS.

Kemudian, tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) 10 tahun juga naik tipis ke 8,08%. Sebelumnya, pada Kamis (2/4/2020) Yield SBN 10 tahun juga naik ke 8,00%.

Terkait aliran modal asing pada pekan pertama April 2020, premi Currency Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun naik ke 235,64 basis poin (bps) per 2 April 2020 dari 200,11 bps per 27 Maret 2020. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran resesi ekonomi global seiring berlanjutnya penyebaran kasus COVID-19.

Berdasarkan data transaksi 30 Maret – 2 April 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik net beli Rp3,28 triliun dengan net beli di pasar SBN sebesar Rp4,09 triliun. Sementara itu, net jual di pasar saham sebesar Rp0,82 triliun.

Berdasarkan data setelmen 30 Maret – 2 April 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik net beli Rp0,77 triliun. Selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat net jual Rp143,99 triliun.

Sementara itu, indikator inflasi masih tercatat di level yang terkendali dan berada pada sasaran inflasi.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga, inflasi April 2020 sampai dengan pekan pertama diperkirakan sebesar 0,20% (month to month/mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Secara tahun kalender, besaran inflasi yakni 0,96% (ytd), dan secara tahunan sebesar 2,80% (yoy).

Penyumbang inflasi pada periode laporan antara lain berasal dari komoditas bawang merah (0,08%), emas perhiasan (0,07%), jeruk (0,05%), gula pasir (0,02%), tahu mentah, kangkung, tempe, bayam, beras, cabai rawit, air minum kemasan dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

Adapun, komoditas utama yang menyumbang deflasi yaitu cabai merah (-0,09%), daging ayam ras (-0,03%) dan angkutan udara (-0,01%).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Rupiah Inflasi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top