Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mulai Stabil, Pembiayaan Baru Adira Finance Tembus Rp5,4 Triliun

Sebagai gambaran, booking perusahaan pembiayaan dengan kode saham ADMF ini hanya Rp18,9 triliun sepanjang 2020 atau turun hampir 51 persen dari capaian 2019 di angka Rp37,9 triliun. Terbesar diakibatkan kondisi kuartal II/2020 yang bahkan tak bisa menyentuh Rp2 triliun.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 30 April 2021  |  21:17 WIB
Pengunjung melintas di samping deretan bursa mobil bekas di Jakarta, Minggu (4/2). Tren penjualan mobil bekas di 2018 diprediksi meningkat disebabkan naiknya ragam produksi mobil baru terutama segemen Low Cost Green Car (LCGC).  - Bisnis.com/Felix Jody Kinarwan
Pengunjung melintas di samping deretan bursa mobil bekas di Jakarta, Minggu (4/2). Tren penjualan mobil bekas di 2018 diprediksi meningkat disebabkan naiknya ragam produksi mobil baru terutama segemen Low Cost Green Car (LCGC). - Bisnis.com/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Penyaluran pembiayaan baru PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance) mulai stabil dan optimistis mampu kembali mencetak kinerja seperti sebelum pandemi.

Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila menjelaskan bahwa pembiayaan baru (booking) sepanjang kuartal I/2021 mencapai Rp5,4 triliun atau masih tercatat turun 35,6 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp8,4 triliun.

"Dibandingkan dengan kuartal I/2020 memang kelihatan kinerja masih lemah karena waktu itu belum pandemi, tapi kalau dibandingkan dengan kuartal II/2020 sudah lebih baik, sudah ada perbaikan booking," ujarnya, Jumat (30/4/2021).

Sebagai gambaran, booking perusahaan pembiayaan dengan berkode saham ADMF ini hanya Rp18,9 triliun sepanjang 2020 atau turun hampir 51 persen dari capaian 2019 di angka Rp37,9 triliun.

Koreksi kinerja akibat pandemi Covid-19 ini diakibatkan kondisi kuartal II/2020 yang bahkan tak bisa menyentuh Rp2 triliun. Namun demikian, kinerja booking kuartalan di semester II/2020 mampu meningkat masing-masing di kisaran Rp3,2 triliun dan Rp5,6 triliun.

Adapun, proporsi pembiayaan baru ditopang untuk sepeda motor dengan persentase 45 persen, sisanya mobil 37 persen, dan nonotomotif 18 persen.

Made menjelaskan bahwa perusahaan masih berhati-hati dalam melakukan akuisisi pembiayaan baru pada kuartal I/2021 untuk menghindari peningkatan risiko kredit yang masih terdampak nuansa pandemi.

Dari sisi indikator keuangan, ADMF membukukan pendapatan bunga mencapai Rp2,16 triliun atau turun 29,9 persen (yoy) jika dibandingkan periode sama tahun lalu, terutama karena penurunan piutang pembiayaan yang didorong oleh penurunan pembiayaan baru, serta program restrukturisasi kredit yang diberikan sejak April 2020.

Beban bunga mengalami penurunan sebesar 30,2 persen (yoy) menjadi Rp848 miliar yang disebabkan oleh adanya penurunan pinjaman serta penurunan pada cost of fund.

Hasilnya, pendapatan bunga bersih tercatat sebesar Rp1,3 triliun, menurun 29,7 persen (yoy) dan margin bunga bersih tercatat sebesar 11,1 persen di kuartal I/2021.

Beban operasional Perusahaan turun sebesar 9,4 persen (yoy) menjadi Rp879 miliar karena kami telah melakukan langkah-langkah secara efektif untuk mengelola biaya operasional selama pandemi.

Di samping itu, cost of credit pada kuartal I/2020 sebesar Rp425 miliar. Dengan demikian, laba bersih setelah pajak dibukukan Rp211 miliar atau mengalami penurunan sebesar 59,4 persen.

Indikator kinerja return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing tercatat menjadi sebesar 2,8 persen dan 10,9 persen di sepanjang kuartal I/2021, sementara Gearing Ratio turun dari 3,0 kali menjadi 1,6 kali.

"Perusahaan terus melakukan diversifikasi sumber pendanaannya melalui dukungan dari pembiayaan bersama dengan perusahaan induk, Bank Danamon dan memperoleh pinjaman eksternal terdiri atas pinjaman bank dan obligasi. Pembiayaan Bersama mewakili 43 persen dari piutang yang dikelola," ungkapnya.

Adapun, total pinjaman eksternal ADMF per 31 Maret 2021 tercatat sebesar Rp13,4 triliun, dengan komposisi pinjaman eksternal terdiri atas 53 persen pinjaman bank onshore maupun offshore sebesar Rp7,1 triliun atau turun 43 persen (yoy).

Sebesar 47 persen dari total pinjaman yang berasal dari obligasi dan sukuk mudharabah pun turun sebesar 34 persen (yoy) menjadi Rp6,3 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama Adira Finance Hafid Hadeli mengungkap pihaknya masih menargetkan kinerja penyaluran pembiayaan mampu mencapai nilai menyentuh seperti sebelum pandemi, dengan penyaluran tahunan di 2021 meningkat 20 - 30 persen dari 2020.

Selain itu, ADMF pun tengah mencoba memperbaiki aset total piutang yang dikelola yang kini sebesar Rp41,9 triliun, atau tercatat turun 23,3 persen (yoy), ditopang pertumbuhan kinerja dan langkah strategis korporasi.

Salah satu langkah ini, yaitu pada 16 April 2021, di mana ADMF menandatangani perjanjian jual beli (sales purchasing agreement) atas pengambil alihan seluruh piutang dari U Finance dengan nilai transaksi sebesar Rp704 miliar. Hafid menjelaskan langkah ini akan menambah asset piutang pembiayaan pada Adira Finance sekitar 2,5 persen.

"Transaksi dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan aset Perseroan ditengah kondisi ekonomi yang kurang kondusif akibat dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan penjualan otomotif sepanjang tahun 2020. Selain daripada hal tersebut, Transaksi dilakukan guna menambah jumlah konsumen dan mitra usaha yang dimiliki Perseroan serta untuk menambah jaringan dalam memperkuat pangsa pasar Perseroan dalam kegiatan pembiayaan," jelasnya.

Adapun, strategi untuk mendukung penjualan, Adira Finance juga tengah menggelar program marketing 'Sahabat Flash Deal' melalui channel digital momobil.id, momotor.id, serta Adiraku yang berlangsung sejak 5 April sampai 12 Mei mendatang.

"Salah satu program yang kami tawarkan adalah berupa bunga pembiayaan yang kompetitif dan point reward yang menarik," tambahnya.

Langkah ini merupakan upaya ADMF beradaptasi pada perubahan perilaku masyarakat dan lingkungan bisnis di masa pandemi Covid-19, dan secara konsisten terus berinovasi dalam mengembangkan digitalisasi untuk
mendorong pertumbuhan bisnis dengan memberikan pelayanan terbaik yang berfokus pada pelanggan (customer centric).

Adira Finance juga berencana untuk mengembangkan jangkauan produk yang lebih luas pada digital platform Adiraku. Adapun, sejauh ini jumlah konsumen yang telah mengunduh aplikasi Adiraku sekitar 1,1 juta konsumen dan jumlah konsumen yang terdaftar sekitar 518 ribu konsumen pada kuartal I/2021.

Terakhir, terkait jumlah nasabah yang pinjamannya telah mendapatkan restrukturisasi mencapai 831 ribu kontrak atau senilai Rp19 triliun per Maret 2021. Nilai ini mewakili sekitar 35 persen dari piutang yang dikelola per Februari 2020.

Saat ini, lebih dari 80 persen dari pinjaman nasabah yang mendapat restrukturisasi telah mulai membayar kewajiban cicilannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan kredit adira finance
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top