Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonom Proyeksi Cadangan Devisa 2022 Bakal Tembus US$150 Miliar

Neraca barang pada neraca transaksi berjalan pada 2022 akan menyusut karena peningkatan impor akan menyusul ekspor, seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik.
Petugas dibantu alat berat memindahan kontainer dari kapal ke atas truk pengangkut di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (17/5). JIBI/Bisnis/Dwi Prasetya
Petugas dibantu alat berat memindahan kontainer dari kapal ke atas truk pengangkut di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (17/5). JIBI/Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Posisi cadangan devisa Indonesia diperkirakan tetap tinggi hingga akhir tahun ini.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan posisi cadangan devisa dapat mencapai kisaran US$147-150 miliar pada akhir 2022.

Dia memperkirakan, neraca pembayaran Indonesia (NPI) masih memiliki prospek untuk mencatatkan surplus meski tidak setinggi 2022.

Hal ini dikarenakan neraca finansial berpotensi mencatat surplus, namun terbatas, di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19, khususnya dengan munculnya varian baru, serta dampak dari normalisasi moneter global, termasuk tapering the Fed.

Namun demikian, dia mengatakan neraca finansial pada 2022 menghadapi beberapa risiko penurunan yang dapat menahan potensi aliran masuk modal.

“Risikonya termasuk gangguan rantai pasokan yang sedang berlangsung dan meningkatnya tekanan inflasi, yang mengakibatkan normalisasi moneter global lebih cepat dari yang diperkirakan,” katanya, Jumat (7/1//2021).

Faisal mengatakan, kondisi tersebut dapat memicu sentimen risk-off. Selain itu, imbuhnya, ketidakpastian seputar pandemi Covid-19, terutama mengenai varian virus yang lebih menular tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.

Di sisi lain, dia memperkirakan neraca barang pada neraca transaksi berjalan pada 2022 akan menyusut karena peningkatan impor akan menyusul ekspor, seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik.

Oleh karenanya, neraca transaksi berjalan diperkirakan akan kembali mencatatkan defisit sebesar -2,15 persen dari PDB.

Meski meningkat, angka perkiraan tersebut kata Faisal tetap lebih rendah dari tingkat rata-rata 3 tahun sebelum pandemi Covid-19 sebesar -2,22 persen dari PDB.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper